Pages

  • Home
  • About
  • Contact

Wednesday, February 27, 2013

A Great Break in Dizzy Busy Days



Tak terasa sewindu sudah aku hidup berdampingan dengan ayah dari anak-anakku. Bukan hal mudah saat dahulu kami memutuskan untuk menikah. Berpegang teguh pada prinsip kemapanan ekonomi, kami baru menikah setelah delapan tahun berpacaran. Dan akhirnya sungguh kusesali pernikahan itu, kenapa enggak dari dulu saja ;)  Tak bisa dipungkiri, hidup berpasangan dan saling mencintai secara halal memang luar biasa nikmatnya.
Kehadiran kedua buah hati kami makin melengkapi kebahagiaan penuh cinta ini. Anak pertama lahir setahun kemudian, kini sudah menjadi seorang gadis cilik manis dan pintar, saat ini duduk di kelas tiga sekolah dasar. Adek laki-lakinya lahir lima tahun kemudian, cowok imut ganteng yang sekarang sedang giat bermain di salah satu PAUD dekat rumah kami.
Delapan tahun pernikahan tentu saja tak sama dengan delapan tahun kurun percintaan di masa pacaran. Kalau saat pacaran sih semua serba indah. Saat aku ngambek, pasanganku yang jauh lebih sabar pasti akan mengalah. Saat rindu melanda, tinggal calling calling aja, si dia pasti nyamperin. Nah kalau berumah tangga, hidup serumah bertahun-tahun, harus menghadapi pasangan yang kemungkinan sering menjengkelkan, belum lagi ritme ‘bangun pagi - siapin kebutuhan anak-anak – berangkat kerja (aku adalah ibu bekerja yang menghabiskan lebih dari 8 jam per hari di kantor) – pulang kerja dalam kondisi capek – nyiapin makan malam untuk keluarga – menjadi tentor si kakak belajar harian – pendendang nina bobo buat si adek malamnya – buka lapak online untuk wirausaha rajutku’. Sungguh aktivitas ‘padat bergizi’ kan.
Perubahan dinamika hidup dari seorang single menjadi ibu yang padat aktivitas tentunya tak luput dari berbagai problema. Yang anaknya rewel enggak mau ditinggal kerja. Yang lagi peak season di kantor anak-anak tiba-tiba sakit. Yang pengin hang out bareng konco-konco lama tapi suami luar kota, tidak bisa gantian jagain anak. Yang biasanya suka makanan tidak pedas terpaksa masak dengan dua variasi, pedas dan tidak pedas, ini karena suami penggemar berat pedas.  Yang lagi capek banget di kantor, si kakak tak mau tau minta dianter untuk beli novel anak kesukaannya. Yaaa begitu lah, ada saja hal-hal yang sering bikin polemik di hati.
Rupanya suami tercinta memahami kondisi ini. Tidak memberikan banyak tuntutan kepadaku untuk jadi The Perfect Mom. Pun si dia paham kebutuhan psikis istrinya ini. Di anniversary kami yang kedelapan ini si Ayah memberikan kejutan. Kami berlibur berdua. Hanya berdua. Tidak jauh-jauh amat sih, hanya di Salatiga, kota kabupaten yang hanya berjarak tempuh maksimal 1 jam dari Semarang. Ayah rupanya lagi ada rejeki sehingga bisa mengajak ‘second honeymoon’ nih. Wah, seneng banget deh rasanya.

picture source : Kayu Arum


Selain jalan-jalan kuliner di sana, Ayah juga memanjakanku dengan menginap di salah satu resort di Salatiga. Aneka fasilitas di resort itu melengkapi keindahan bulan madu kedua kami ini (meskipun tetap pantau kegiatan anak-anak di rumah, sementara dijagain eyangnya yang penuh pengertian). Ada kolam renang, spa, gym, ruang makan yang berarsitektur oldies goldies, beautiful-scenery yard alias taman yang indah banget. Belum lagi kamar tidur yang luas, bersih, dan cantik. Perfecto.
semua foto diambil dari web Kayu Arum

Liburan berdua ini meskipun hanya sehari sangat berpengaruh terhadap kedekatan jalinan hati kami. Kami berdua seperti kembali muda, kembali segar, kembali merasakan kedekatan hati dan diri seperti saat pengantin baru dahulu. Seandainya tidak selalu kepikiran anak-anak, pasti liburan ini akan diperpanjang hehehee…
Memang tidak melakukan liburan seperti di atas pun ya tidak apa-apa, apalagi bila sedang belum ada rejeki, tentunya tak bisa dipaksakan. Aku sangat bersyukur dengan segala berkah yang aku terima untuk hari itu, hari-hari sebelumnya, dan hari-hari yang akan datang. Cinta akan selalu ada dimana saja, kapan saja, sesuai komitmen kita untuk menjalaninya bersama pasangan tercinta.

 Cinta akan selalu ada dimana saja, kapan saja

tulisan ini diikutkan dalam event GiveAway - Tanda kasih Buat Kamu (http://www.empieee.net/2013/02/giveaway-tanda-kasih-buat-kamu.html)
>>>> Read More >>>>

Kelakuan Minor The Cemban Lovers


Aktivitas rutin di tempat kerja kadang kala membuat pikiran kacau, hati galau, bosan meracau *hayaaah, opo neh kuwi. Si penikmat kerja kudu punya strategi untuk memecahkan kehampaan rasa yang melanda tiap kali syndrome bosan ini datang. Bukan suatu dosa lah atas datangnya rasa bosan ini, manusiawi, kan kita ini manusia berjiwa, bukan robot mekanis yang gerakannya cukup itu dan itu dan seterusnya.
Justru itulah tantangan bagi yang berada di dunia kerja. Harus tetap berprestasi, kinerja tak boleh melorot, apa pun yang terjadi. Pimpinan tak akan mau tau kala bosan sedang menerpa kita. Kita juga tak mau kan bila suatu saat pimpinan itu bilang “Saya bosan banget loh nggaji kamu.” Nah loh, bisa berabe kan.
Banyak cara untuk menghilangkan kebosanan itu. Yang gemar membaca bisa buka-buka novelnya saat istirahat (bukan di jam kantor ya), yang gemar nge-game ya monggo saja mainkan game-game terbaru yang sekarang udah gampang banget di-download. Nah yang hobi nge-download, ya bisa juga bantuin temennya yang suka maen game tadi untuk download sembari mencari sumber donlotan favoritnya *awas hati-hati, ada si bos di belakangmu, bisa kena pelototan lho kalau ngabis-ngabisin bandwidth xixixixiiii…. Untuk yang hobi ngerumpi sih saran saya hati-hati, dosa sudah mengincar anda lhoooo, hiyyy ngeriiiii
Aneka aktivitas menyenangkan yang disebutkan di atas tadi sudah secara bergantian kulakukan (kecuali yang terakhir lho ya, sumpriiiittt). Ternyata bosan juga ya melakukan kegiatan selingan yang sama terus menerus selama bertahun-tahun. Butuh ide segar nih untuk memecahkan kebosanan lagi.
Kebetulan aku punya teman seruangan di kantor yang lumayan gokil. Sebut saja Putri (nama sebenarnya) hehehee…. Meskipun usia kami berjarak cukup jauh (udah tau sendiri lah yang lebih tuwir siapa) namun entah mengapa antena gokil kami ‘connect’ sekali. Suka iseng melakukan sesuatu yang ‘nothing’ tapi lumayan ‘worthed’ untuk menceriakan hari-hari panjang office hour kami.
Seperti yang kami lakukan pada 12 Februari 2013 yang lalu. Kalau melihat masih mudanya tanggalan di kalender, asumsi sementara masalah keuangan ada pada posisi Non-Bokek. Tapi entah mengapa kami berdua pengin banget bisa makan kenyang dengan budget minimal hihiiii…. Bukan pelit loh tapi pengin aja nyoba ‘something weird’ :D
Targetnya kali ini adalah makan kenyang sepuluh ribu berdua. Bukan ramesan di warung depan kantor, kalau itu sih rames kumplit pake dadar juga bisa. Kami pergi ke pondok makan lesehan. Niat banget loh, bawa air putih sendiri dari kantor. Untuk menekan budget kami cuma pesen nasi 1,5 porsi, toh 1 porsinya lumayan banyak, jadi perkiraan kami segitu cukup lah. Lauk pauknya enggak usah diceritakan secara detail ya hehehee… Yang jelas kami sudah ngitung, total menu kami seharga Rp. 9.500. Yessss…..berhasil.
Eh tapinya pengunjung lain agak-agak gimana gitu ngeliat meja kami yang lauknya tak lazim itu :D  Rada tengsin juga nih jadinya. Ngambil kerupuk aaaahhh biar keliatan enjoy, biar enggak disangka malu (tapi sebenarnya rada cemas juga saat menerima pandangan aneh dari berbagai sektor wkwkwkk…). Perkiraanku kerupuk paling-paling harganya lima ratus rupiah, jadi pas kan cemban.
Selesai makan kami segera ke kasir, pake acara hompimpah segala lho, biar adil penentuan nasibnya, siapa nanti yang harus menanggung malu hihihiii…. Bener deh, begitu sampe di mbak kasir, si embak menghitung sambil melihat kami dengan pandang aneh. Di ‘translation system of human expression’ku terbaca kalau mbak kasir heran dengan menu makan minimalis dari dua orang yang secara fisik sungguh maksimalis. “Nasi putihnya satu setengah ya?” Ho oh. “Tidak pakai minum ini?” (nadanya rada-rada sinis) “Lagi terapi air putih mbak, disuruh ama dokter kami” sahutku sekenanya. Ih, lama banget sih pake nanya-nanya, itung tinggal itung aja rempong bener sih. “Total Rp. 10.500 “ info si embak kepada kami.
Yessss…. Putri teriak kenceng bener. “Ngaget-ngagetin aja lu, kalem napa,” sungutku. “Berhasil mba…kita berhasil…” serunya sambil mengacung-acungkan nota pembayarannya. Hadeeehh, anak ini malah bikin malu deh, berisik banget. Kuredakan keceriaannya dengan sedikit kekecewaan, “Jangan seneng dulu. Nih liat lebih dari cemban kan, gara-gara tadi ngambil kerupuk sebiji itu ya. Payah, mosok kerupuk kok harganya seribu, biasanya gopek kan?”
Hehehee….enggak mutu banget kan kelakuan kami tadi. Tapi asli bisa bikin ketawa-ketiwi kami berdua saat perjalanan pulang. Bahkan saat story itu di-share ke beberapa temen, kami menuai pujian tiada tara sebagai pasangan ‘wagu’ sedunia. What a world….. ;)
>>>> Read More >>>>

Sunday, February 24, 2013

SENANDUNG GIMBAL DI KAKI MERBABU




http://tresnabuana.files.wordpress.com/2012/01/sumbing_2.jpg
klik ini utk sumber foto

Sejuk Udara wangi pagi
Kuhirup dalam-dalam bersama embun berseri
Saat kutatap cadasnya mega
Gagahnya jajaran bukit perkasa

Ya, kemari kau wahai angkuh
Tak tau kah kau aku sudah siap merengkuh
Bau surgamu yang kian terasa
Menjalar di segenap nadi sendiku
Menantang
Melawan golakan penolakan


Carrier seratus literku yang gagah perkasa
Si hijau setia yang selalu menemani langkahku kemana-mana
Kusentuh lembut sayap-sayap cintamu oh kekasih
Walau hanya sebentuk tas ransel kucel yang terhina
Kau tetap cintaku tiada tara, oh carrier seratus liter

Helaan napas rekan sejawat
Mengiringi perjalananku bersamamu oh carrier seratus literku
Derap perkasa tak kenal lelah
Terus membahana, sahut menyahut, bak titir banjir yang amuk mengalir
Sepatu, sandal gunung, boots, saling menjaga beriringan
Mengawal tuan dan nyonya majikannya
Yang sedang mengejar ambisi taklukkan puncak gunung syahdu

Merbabu
Tak ada keraguan lagi aku padamu
Julangan mancung puncakmu
Yang tiada henti memanggil-manggil pasukanku
Untuk terus menuju ke pangkuan perkasamu
Carrier seratus literku
Tau kah kamu wahai kekasihku
Kubawa serta kau dalam pendakian indah ini
Tak hanya sekedar berbasa-basi dengan si Merbabu ayu perkasa
Kuandalkan kau dengan segenap jiwa
Bantu aku untuk segera bertemu si puncak idamanku itu

Sorga, sorga terasa untuk kami semua
Saat bisa  memandang ikalnya awan dari puncak Merbabu perkasa
Carrier seratus literku sayang
Lihat, apakah ikal itu sama dengan geraian hitam rambut gadis Mada
Ya, betul, si Mada gadis cilik yang tadi kita temui di perkampungan sana
Di Thekelan kaki gunung Merbabu
Ingat kan hei Carrier seratus literku sayang?

Gadis legam berkulit kusam
Berambut ikal, oh tidak, lebih tepatnya disebut gimbal
Kenapa tak kunjung kau sisir rambutmu wahai Mada?
Sebegitu sulitkah kau dapatkan sisir di desamu sana

Tlepak
Carrier seratus literku menampar lamunan
Aku tergelincir karena terlalu banyak permenungan
Tapi ingatanku tak kunjung bisa lepas dari bayangan Mada

Gadis cilik legam berkulit kusam
Berapa umurmu wahai bocah misterius?
Tiga? Empat? Ataukah lima?
Sungguh tak jelas berapa usiamu sekarang
Bentuk dan ukuran tubuhmu begitu rata-rata
Rata-rata kecil atau rata-rata besar?
Ah, entahlah
Lebih baik kukata kalau kau berumur lima
Salah pun tak akan ada yang menampar

Tlepak tlepak
Eh, kali ini bukan Carrier seratus literku yang menampar
Juluran dahan-dahan pepohonan rindang di jalan menurun ini
Yang sok akrab menyapa wajah lelahku
Pedas
Perih
Kenapa sih dahan itu tak tau sopan santun
Tak tau ya kalau aku sedang merindukan Mada
Gadis kecil berwajah muram dan berambut gimbal itu

Apa dosamu wahai adik kecil
Kenapa orang tuamu begitu malas menyisirmu
Jorok sekali penampilanmu
Gimbalmu menggelayut berat di seputar bahu ringkihmu

Tapi Mada,
Kenapa kau terlihat begitu pongah di situ
Di antara anak-anak lain sebayamu yang berambut normal
Merasa istimewa kau Mada ?

Kudengar dari bapak tetua desa
Kau sudah mulai mampu bersenandung memaksa
Minta pada kedua orang tuamu berbagai sajian
Untuk ritual potong rambutmu
Sudah berapa lama kau seperti itu Mada?

Kudengar dari bapak tetua desa
Sejak lahir kau memang berbeda
Bagaikan ratu yang menghela dosa ke semua penjuru mata angin
Kau tiupkan wabah pemujaan terhadap keanehan rambutmu

Bapak tetua desa pun berkata
Kau hanya boleh dipotong rambut
Bila kau sudah memintanya
Keriuhan syarat yang kau ajukan
Tak boleh tertolak demi terhindarnya kutukan pada keluargamu
Juga desamu

Percaya pada hal magis seperti itu?
Bisa ya, bisa juga tidak
Tak ada untungnya mau percaya atau pun tidak

Tlepak
Kali ini sandal gunungku yang basah keringat
Membuatku terpeleset
Sejengkal sebelum kujejakkan kaki di depan rumah Mada
Ya, penginapan para pendaki gunung yang kini kukunjungi
Memang berada tepat di depan gubuk Mada
Gadis kecil berwajah muram dan berambut gimbal

Riuh rendah suasana di depan rumahmu Mada
Ada apa?
Rupanya akan ada pesta ya?

Bapak tetua desa pun kembali berkata
Hari ini permintaanmu akan dituruti
Seekor kerbau seperti permintaanmu yang risau
Telah dihadirkan orang tuamu untuk ritual potong rambutmu
Seonggok uang jerih payah berbalut hutang
Terpaksa mereka hadirkan untukmu hai gadis kecil berambut gimbal

Kerumunan para pendaki gunung dan turis manca
Mulai memadati halaman rumahmu
Rupanya ritual potong rambutmu
Telah membuat mata mereka kelu
Begitu juga dengan aku
Takjub ku padamu wahai Mada-ku
Bagaimana nasibmu nanti setelah hilang mahkota gimbalmu
Aku hanya berharap kau tetap akan terus merayu
Mengumandangkan senandung gimbalmu
Walau nanti mungkin kau akan terlihat ayu


Puisi fiksi ini ditulis untuk menggambarkan di masa lalu ritual pemotongan rambut gimbal di lereng gunung Merbabu. Diajukan untuk lomba menulis pada 15 Desember 2012 di Tulis Nusantara -- tidak lolos :)

>>>> Read More >>>>

Friday, February 22, 2013

(saling) Mengingatkan Itu Lebih Baik

 

    Pernah kan tiba-tiba lupa menaruh sesuatu?
    Kalau saya sih pasti jawabannya PERNAH BANGET geeetooo :)  Dari sekian banyak aktivitas yang tidak saya sukai, salah satu yang menduduki ranking pertama adalah "mengingat-ingat". lho, kenapa bisa begitu?
    Sebelum menjawab, ayo kita lihat pada peragaan berikut ini (walah, malah kayak siaran praktikum fisika aja).
    Seorang ibu bekerja yang baru saja pulang di sore hari. Belum lagi selesai memarkir sepeda motor yang digunakannya, anak-anaknya sudah berebut untuk peluk cium sepuas-puasnya. Sungguh mengharukan, begitu tergambar rasa kangen mereka pada ibunya yang sungguh tega bekerja di luar rumah dari pagi hingga menjelang maghrib. Sang ibu tentu saja sangat bahagia, dipeluk dan diciumilah kedua buah hatinya tercinta. Si sulung, gadis cilik berusia 8 tahun, bercerita dengan heboh bahwa dia tadi ketiduran saking capeknya sehingga tidak bisa ikut ngaji di mushola depan rumah (kalau ini sih sebenarnya udah cerita kesekianribu kalinya, bolak-balik alasan kecapekan untuk mbolos ngaji). Cerita heboh ini makin hingar bingar karena si adek, cowok cute berumur 3 tahun teriak-teriak bertanya "Ibu bawa jajan apa? Ibu bawa jajan apa? Ibu bawa jajan apa?" (repeated constantly) :D 
    Dengan anak-anak masih asyik 'nyanyi' sendiri-sendiri sembari menggelendot manja, si ibu pun masuk ke rumah. Dilanjutkan lah obrolan seru versi 1:2, maksudnya satu orang yang mendengarkan, dua orang ngomong dewe-dewe enggak nyambung hehehee... asyik kaaann. Si ibu sampai enggak boleh ganti baju dan meletakkan tas, harus duduk mendengarkan celoteh mereka di ruang duduk keluarga. Oke lah, si ibu ngikut saja. Dilemparkan lah tas asal saja. Dialog pun akhirnya makin ngawur, perbandingannya kini jadi 1:1:1, si ibu ikutan ngelantur, nimbrungin obrolan anak-anaknya  hingga makin kacau. Biar rame aja. Anak-anak bercerita, si ibu sibuk ngegodaain anak-anaknya. Si adek nih yang paling gampang digoda, dicandain sedikit aja udah ngak ngek ngok. Si kakak yang semula bercerita sendiri pun jadi ikut-ikutan menggoda adeknya. Ya udah, nangis deh akhirnya si adek heheee... dasar ibu dan kakak kurang berbudi :D
     Salah satu cara membujuk agar reda tangisnya, si adek diajak untuk beli jajan sesuai keinginannya tadi. Kadang-kadang memang si ibu pulang sudah membawa aneka jajanan rakyat seperti ondhe-ondhe, kue ku, carabikang, donat kampung, mendoan, bakwan jagung, badak, dan lain sebagainya. Nah karena kebetulan tadi di jalan si ibu kebelet pipis, cepet-cepetlah melaju pulang. Malah sampai di rumah pake goda-goda anak dulu, piye to? "Ibu pipis dulu ya dek, ntar abis ini kita beli jajanan, " bujuk si ibu. Adek tetap menangis meraung-raung karena udah terlanjut bete. Acara pipis pun jadi tidak nikmat gara-gara diiringi stereo bomba menyayat hati :) 
 
sumber gambar dari sini
 Nah, giliran mau berangkat beli jajan, rogoh-rogoh kantung jaket yang tadi dipake. Kok kunci enggak ada, biasanya ditaruh di situ. Ganti ke kantung celana. Juga gak ada. Walah, apa mungkin dimasukkan tas ya. Lho, tasnya mana? Kan biasanya sepulang kerja tas langsung ditaruh di atas meja dalam kamar. Nah ini udah di depan meja, koq tasnya enggak ada. Teriak-teriak deh si ibu panggil si kakak yang sudah asyik main game di komputer, nanyain keberadaan tasnya. Si kakak cuma geleng-geleng kepala sambil nunjuk tas ibunya yang tergeletak tak senonoh di bawah meja ruang duduk. "Naruh sukanya sembarangan," ucap sang kakak, yang mengingatkan si ibu pada teguran rutinnya sendiri kepada sulungnya manakala tidak mengembalikan barang ke tempat semula. Nah loh, jadi senjata makan nyonya toh :D 

    Lalu si ibu mulai mencari kunci di kantung depan tas. Tidak ada. Di kantung samping. Enggak ketemu. Di kantung kecil-kecil di bagian dalam. Juga tak jumpa. Duuuhh...kemana donk. Panik. Sibuk ngecek kesana kemari, atas kulkas, atas meja tulis, di dalam kotak kosmetik, bahkan sampai ke atas lemari baju (jelas-jelas enggak mungkin naruh di situ). Masih juga tidak ketemu. Waduh, mau dicari ke mana lagi nih.
    Beaamm... beaamm.... Suara klakson mobil si ayah terdengar mengagetkan. Si ibu buru-buru ke depan untuk membukakan gerbang. Sepeda motor yang tadi diletakkan sekenanya saja ternyata menghalangi jalan mobil. Yah, gimana donk, si ibu sudah mulai resah harus ngomong apa ke ayah, soalnya ini sudah lupa yang keberapa kalinya. Antara tengsin dan jaim deh rasanya kalau harus bikin pengakuan lagi hehehee.. Tak sengaja melirik deh ke arah motor. Nah, itu apa yang berkilat-kilat di lubang kunci. Ealah, kunci motor. Ternyata masih nancep di motor. Buru-buru deh si ibu menyingkirkan motor sebelum "terkonang" oleh ayah *jaga wibawa :p  Amaaann, lancar jaya, tak perlu menceritakan masalah lupa tadi hehehee... Berhubung sudah ketemu, si ibu buru-buru ajak adek beli jajan untuk camilan sore itu.
    Sepulang beli jajanan dan menyeduh teh untuk seluruh penghuni rumah, baru deh bisa leyeh-leyeh ngaso. Si ibu pun segera ganti baju dan kemudian duduk di meja rias untuk menghapus riasan wajah yang sudah bercampur debu. Alamak, hitam sekali kotoran yang nempel di kapas berpembersih itu. Itu wajah apa knalpot yak hehehee... Saat mengembalikan cairan pembersih wajah di atas rak, terlihatlah suatu pemandangan horor. Ada bekas korek kuping kumplit ama kotorannya yang nempel. Iiiihhh, jorok banget. Pasti ini hasil perbuatan si ayah.
dicopy dari sini
    "Ayaaahhhhh...ini korek kuping siapa, jorok sekali ya ditinggal-tinggal di meja," suara soprano fals menggema di udara. Si ayah pun masuk ke kamar sembari senyum-senyum. Aneh banget, bininya enggak sopan teriak-teriak kok malah senyum ya. Mulia sekali itu suami. Dengan lemah lembut beliau berkata, "Makanya sayang, kalau pake korek kuping tuh langsung dibuang."  Si ibu malah tambah menjadi, "Lho, itu bukan korek kupingku ya. Aku kalau habis pake mesti langsung dibuang lah." (enggak mau kalah)
    Si ayah masih santai saja. Diambilnya lipatan kertas kecil di atas meja rias sambil menunjukkan kepada istrinya. "Ini apa? Di dalam lipatan kertas ini ada tiga biji korek kuping bekas lho. Kumplit ama aksesorisnya. Mau liat?" tanya si ayah penuh arti. Ya amplooopp.. si ibu baru ingat, itu kan korek kuping dia sendiri tadi pagi. Hanya si ibu yang punya kebiasaan membungkus bekas pembersih telinga dengan selembar tissue ataupun kertas.
    "See.... ayah memang sengaja ninggal korek kuping di situ biar ditegur ama ibu. Nah dengan ibu menegur seperti ini, otomatis ayah enggak perlu negur ibu lagi kan hehehee...." si ayah terkekeh-kekeh menghina. Si ibu cuma bisa ikutan tersenyum sambil merah padam wajahnya. Gubrak bener dweeecchh...  
  
>>>> Read More >>>>