Pages

  • Home
  • About
  • Contact

Saturday, August 31, 2013

Survey Membuktikan : Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak

    Pernah nggak sih nongkrong bareng teman hanya sekedar ngobrol saja? Atau lembur di kantor ngejar tenggat waktu laporan tanpa minum barang setetes pun? Nyelesaiin konsep skripsi di rumah hingga larut malam hanya ditemani nyamuk-nyamuk yang bergoyang?

    Nggak mungkin banget kalau nggak ada kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak. Kini untuk sekedar ngobrol bareng teman-teman akrab, kita tak perlu jauh-jauh pergi ke cafe. Apalagi untuk pergi ke cafe yang di dalam mall, boros energi untuk parkirnya sob. Meliuk kesana kemari untuk mencari tempat parkir yang lowong di malam minggu, hih... serasa menguji kesabaran saja. Mau senang-senang tapi kok malah jadinya susah begitu ya. Apalagi untuk yang cowok tuh, kalau ngajak gebetan bisa runyam urusannya. Bedak, maskara, eyeliner dan lipstick udah luntur kemana-mana.

    Menikmati kebersamaan dengan sobat tak ada salahnya dilakukan dengan cara yang sederhana. Bersahaja gitu bahasa kerennya. Di rumah atau di kos saja bisa lah. Asalkan ada kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak. Beres deh urusannya. Gak pake ribet, gak pake boros, kopi nikmat ini bisa diseruput sembari bercerita riuh penuh keakraban. Modalnya cuma satu, air panas, dari dispenser aja sudah cukup, tak perlu menyeduh secara khusus. Tentu saja cangkirnya juga harus ada lho sob, lengkap dengan sendoknya. ;)

    Tapi tau nggak sob, sebenarnya ada 2 kategori yang paling mendasar lho untuk menikmati kopi gaul ini. Cukup 2 kategori saja seperti di bawah ini :

1. Menikmati Kopi Gaul Saat Tak Ada Air Panas

Pernah mengalami kondisi yang seperti ini? Kalau belum pernah, bisa survey tuh ke teman-teman yang suka berkeliaran di alam bebas alias pencinta alam. Pasti pernah mengalami masa-masa susahnya membuat minuman hangat. Persis kayak gini nih :


Fast tracking di alam bebas, biasanya untuk tim pembuka jalan, membutuhkan kecepatan gerak. Tujuannya tentu saja agar dapat segera tiba di target point sebelum peserta lainnya. Kondisi buru-buru seperti ini tak berarti anak gaul sekaligus penggiat alam bebas terhalang untuk menikmati kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak. Ada pilihan kopi gaul yang bisa dinikmati untuk kondisi ini, kondisi darurat yang tidak memungkinkan untuk menyalakan api meskipun hanya sekedar untuk menjerang air barang sejenak. 

    Mocafrio paling cocok digunakan untuk menyiasati kondisi ini. Memanfaatkan air pegunungan yang sejuk, bersih dan alami, cukup campur beberapa sachet Mocafrio ke dalam veldples, dikocok-kocok, siap deh kopi nikmat ini. Siapa bilang es kopi itu tidak nikmat. Pasti belum kenal tuh dengan kopi gaul satu ini. Mocafrio memang diperuntukkan bagi pencinta es kopi. Di gunung malah tak perlu es lagi, airnya saja sudah bisa bikin jari jemari menggigil. So, bikin es kopinya tidak pake ribet kan?

   Ada juga yang ini nih, Tiramisu Bliss dan Funtastic Mocacinno. Praktis banget untuk dimasukkan ke dalam carrier. Hanya sayangnya, sampah yang kita hasilkan akan lebih banyak. Meskipun bertanggung jawab dengan membawa sampah plastik sampai turun gunung, tetap saja carrier akan terasa lebih sesak bila bertambah muatan varian terbaru kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak ini. Jadi mendingan pilih yang Mocafrio saja dulu, bekas bungkus sachetnya jauh lebih simpel untuk dimasukkan lagi ke dalam tas agar tidak meninggalkan sampah sembarangan di gunung / hutan. Mengikuti prinsip pencinta alam sejati sob, kill nothing but time, take nothing but picture, and leave nothing but footprints. Yang terakhir tadi artinya jangan nyampah. Got it? 

2. Menikmati Kopi Gaul yang Hangat dan Lezat

    Tetap menggunakan contoh kasus anak gaul yang hobi berpetualang nih. Kali ini case-nya beda, Sob. Cukup banyak waktu untuk nge-camp. Apa enaknya nge-camp tanpa ngopi?


    Udara yang dingin menusuk tulang paling pas dilawan dengan minuman panas yang dinikmati sembari menghangatkan badan di depan perapian. Meniup uap kopi yang mengebul di cangkir seng andalan, menghirup aroma nikmatnya, sembari melancarkan peredaran darah di jari-jari yang kebas. Paling pas ya ditemani kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak . Banyak variannya lho yang bisa dicoba.


    Lengkap banget ya... Kita bisa mencoba masing-masing varian sepuasnya. Yang penting ada air panas, kopi gaul nikmat ini bisa segera tersaji.

    Untuk kondisi normal (tidak seekstrem contoh di atas) kopi gaul ini makin asyik saja untuk mendampingi rutinitas keseharian. Kapan pun kita inginkan, kelezatan aneka rasa kopi bisa dalam sekejap didapat. Caranya? Ah, nggak perlu penjelasan panjang lebar lah. Standar banget kok urutannya :) Cukup simak urutan berikut :


    Seger beneeerr... kopi gaul sudah siap tersaji dalam sekejap. Tak perlu ribet, tak perlu boros, kenikmatan kopi setara yang ada di cafe-cafe ternama itu dapat segera kita reguk. Kepraktisan mengakrabi secangkir kopi nikmat kini ada di tangan kita. Dan survey membuktikan : kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak
>>>> Read More >>>>

Thursday, August 29, 2013

#KuisBukuneSGFD

    Hello, happy Friday all... Di Jumat ceria ini aku ingin membagi sedikit kebahagiaan nih. Ceritanya blog yang kugunakan khusus untuk review  terpilih oleh penerbit Bukune untuk mendapatkan 2 eksemplar buku terbaru dari penulis muda Kevin Anggara. Ini nih penampakan bukunya, yeaayyy...

      Aku mendapatkan 2 eksemplar buku dengan task yang harus dikerjakan sebagai berikut :
  1. Menggunakan 1 eksemplar buku sebagai dasar pembuatan review buku Student Guidebook For Dummies (SGFD) ini. Done, reviewnya di sini ya.
  2. 1 eksemplar lainnya harus dibagikan kepada teman dengan sistem kuis / giveaway
     Kok bisa mendapatkan buku ini, bagaimana ceritanya. Gini nih sobat, aku kan subscribe di Bukune. Nah itulah untungnya subscribe by email di web / blog. Setiap ada perkembangan berita baru dari web / blog itu, kita pasti akan mendapatkan pemberitahuan lewat email. Salah satunya ya tentang informasi giveaway dari Kevin Anggara ini. Nah begitulah asal usul informasi tentang Giveaway buku yang diadakan oleh sang penulis Bukune tadi. Penuh semangat 45 kukirimkan url blogku dan beberapa persyaratan yang ditentukan. And tadaaaa....
Alhamdulillah terpilih :)

    Silakan saja sobat subscribe ke Bukune bila ingin mendapatkan berbagai informasi dari penerbit tersebut. Siapa tau pas sesuai dengan keinginan sobat dan pas beruntung. Tadinya tak menyangka bisa beruntung begitu, mengingat banyak blog bagus dari para blogger buku, sedangkan blog reviewku itu kan untuk review 'gado-gado', ya buku, musik, film, iklan dan produk-produk kesukaanku.

    Oke, untuk mengikuti kuis ini kubuat sesimpel mungkin saja ya mengingat hadiah bukunya hanya 1 eksemplar. Namun tak menutup kemungkinan bila pesertanya banyak akan kumintakan tambahan buku dari Bukune, atau bisa juga dari kocek mandiriku. Mudah saja cara mengikutinya :
  1. Membuat cerita tentang masa SMA yang indah dan bahagia, penuh warna-warni. Lebih disukai yang mengandung unsur gokil atau absurd ala alay. Disesuaikan dengan jaman / era masing-masing saja, jangan memaksakan diri bak abege sekarang ya, nanti malah pusing sendiri :)
  2. Bila ingin posting foto masa SMA juga boleh, tentu saja tetap harus disertai keterangannya ya. Meskipun picture told thousand stories, kali ini aku tak sanggup kalau harus menebak-nebak isi cerita yang terkandung dalam foto itu. Fair kan? :D
  3. Cerita dan/atau foto tersebut bisa langsung ditulis/diattach di komen note Facebook ini atau bila ingin sedikit lebih spesial sobat bisa menuliskannya di note Facebook sendiri. Tentu saja harus tag akun Facebook milikku. Kalau tidak bagaimana caranya kutau kalau sobat mengikuti kuis ini. Jangan lupa sertakan tag #KuisBukuneSGFD
  4. Bila ingin melalui twitter juga bisa. Tetap gunakan tag #KuisBukuneSGFD dan mention @UniekTweety agar mudah dalam pendokumentasiannya. Gunakan penanda (1), (2) dan seterusnya bila satu postingan belum mencukupi cerita sobat. Yang jelas tiap tweet harus mention aku ya biar tak ada yang terlewat. Postingan via twitter hanya sah setelah diretweet ya. Bila merasa sudah posting tapi belum diRT, buruan colek daku ya. Namanya juga manusia, banyak kealpaan kan sob ;)
  5. Yang lebih asyik menulis via blog ya monggo. Silakan link url artikelnya ditulis di komen postingan ini, atau bisa juga di postingan review buku SGFD. Bebas. Sengaja aku tidak menggunakan blog reviewku untuk pengumuman kuis ini, agar terjaga kemurnian visi blognya *halah halaaahh...
  6. Clue tentang isi buku SGFD yang dapat dijadikan panduan untuk membuat cerita sobat bisa diikuti di review ini ya.
  7. Kuis ini dimulai sejak postingan ini muncul hingga tanggal 7 September 2013 pukul 20.00. Lah kok cuma sebentar? Kan cuma bikin cerita singkat saja dear, caranya pun sangat mudah. Nah justru nanti aku yang pusing bacanya hehehee... 
  8. Pengumuman pemenang sekitar seminggu setelah kuis berakhir ya. 

    Oke, sementara itu dulu ya sahabat. Kutunggu kisah asyik masa-masa SMAnya. Semoga dengan mengingat-ingat masa muda itu akan membuat hati kita ceria dan terhibur. Apa sih yang kita harapkan dari masa lalu? Kenangan manis yang bisa terus terpatri di hati kan tentunya. Cheer up your days...

ini loh hadiahnya, SGFD lengkap dengan tanda tangan dari penulisnya


>>>> Read More >>>>

Tuesday, August 20, 2013

Beda Ras, Sama Rasa

    Sebelumnya perlu kugarisbawahi, tulisan ini bukan bermaksud menonjolkan perbedaan yang mengarah pada isu SARA. Justru perbedaan yang kualami ini makin membuatku sadar, bahwa kita semua merupakan makhluk Tuhan yang memiliki hak yang sama untuk dihargai dan kewajiban yang sama untuk menghormati orang lain.

    Sejak kecil aku hidup dalam lingkungan yang sangat Islami. Bapak ibuku muslim. Di depan rumah terdapat mushola yang seakan tak pernah kehilangan geliat keagamaannya, selalu melantunkan panggilan ibadah maupun pelaksanaan berbagai perayaan keagamaan yang akan selalu ramai dihadiri warga sekitar. Kebetulan mayoritas penduduk di daerahku memang muslim.

    Pun ketika masuk ke sekolah negeri yang notabene mayoritas siswanya pemeluk agama Islam. Mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah, aku terbiasa melihat siswa-siswa non muslim yang rela keluar dari kelas saat pelajaran agama berlangsung. Bukan diminta keluar sih, hanya saja karena jumlahnya yang sedikit mereka yang menyesuaikan diri, mengikuti pelajaran agama masing-masing di ruang yang berbeda. 

    Menjalani fenomena seperti itu terus menerus membuatku merasa berada pada golongan mayoritas yang lebih populer. Meskipun tak pernah memandang negatif pada pemeluk agama yang lain, namun aku tak pernah berpikir lebih lanjut tentang kesetaraan hak tiap-tiap makhluk Tuhan meski berbeda ideologi. Aku selalu menganggap I'm in the best side of God.

    Kedekatanku dengan seseorang yang berbeda agama baru terjalin setelah masuk ke dunia kerja. Kebetulan aku memiliki anak buah, seorang mandor lapangan perempuan yang tidak hanya berbeda agama, namun juga berbeda ras. Beda kepentingan dalam posisi kami yang memiliki jabatan berbeda membuat aneka perselisihan terus terjadi berkepanjangan selama kami bekerja di perusahaan A.

    Tingginya konflik saat kami berada dalam satu manajemen ternyata tidak berlaku setelah masing-masing dari kami pindah ke perusahaan yang berbeda. Justru setelah tidak jalan bareng itulah kami bisa menjadi teman. Cik Yanti, begitu aku biasa memanggilnya. Dia sesekali bertandang ke rumah. Dia juga menemaniku saat usai persalinan anak kedua dan aku mesti boyongan pulang ke rumah dari tempat bersalin. Kadang-kadang Cik Yanti meneleponku sekedar menanyakan kabar ataupun mengajak makan bersama setelah menerima gaji. Sesekali dia yang mentraktir, di lain waktu gantian aku yang membayar makanan dan minuman kami berdua. Paling sering dia mengajak ketemuan bila ingin curhat, entah itu masalah pekerjaan atau rumah tangganya. 

    Teman-teman di kantor baru pun sampai terheran-heran, kok bisa aku berteman dengan Cik Yanti yang memiliki banyak perbedaan denganku. Dia Cina aku Jawa, dia Kristen aku Islam, dia berpendidikan SMP aku sarjana. Ah, untukku itu semua tak menjadi masalah. Toh kami memiliki satu kesamaan, sama-sama perempuan mandiri yang berwatak keras. Itulah mengapa dulu kami tak cocok saat berada dalam satu perusahaan, selalu bentrok karena mempertahankan pendirian masing-masing. Setelah 'pisah ranjang' justru Cik Yanti lah yang membuatku menghargai arti perbedaan.

    Dia sangat menghargai agama yang kupeluk, sehingga tidak pernah mengajak makan di rumahnya karena banyak peralatan makan yang pernah digunakan untuk memasak jenis makanan yang tidak boleh kusantap. Dia juga rela datang ke kantor baruku sekedar mengantarkan penganan untuk berbuka puasa saat bulan Ramadhan. Dari Cik Yanti juga lah aku tau tentang 'perpuluhan' yang dilakukannya di gereja, yang kurang lebih sama dengan ajaran di agamaku untuk menyerahkan sekian persen dari gaji yang diperoleh bagi kaum dhuafa. 
selalu merindukan kangen-kangenan dengan Cik Yanti seperti ini

    Kami memang berbeda ras, namun rasa persahabatan yang kami miliki bagaikan tali persaudaraan. Melalui pertemanan dengannya, pandanganku makin terbuka kepada orang-orang yang agama, suku ataupun rasnya berbeda denganku. Ternyata stereotip terhadap golongan tertentu itu tidak benar. Baik atau jelek itu bukanlah karena dia berasal dari suku / agama / ras tertentu. Segala kebaikan itu datangnya dari Tuhan, adapun manusia lah sumber dari segala kelemahan.

Postingan ini diikutsertakan dalam Giveaway 4th Anniversary Emotional Flutter

>>>> Read More >>>>

Monday, August 19, 2013

Kue Lebaran Yang Istimewa

    Lazimnya aktivitas menjelang Lebaran, kaum ibu sudah bisa dipastikan akan sibuk sekali mempersiapkan berbagai keperluan pendukungnya. Lebaran merupakan ajang berkumpul kerabat, setahun sekali atau kadang-kadang bila saudara saling berjauhan di luar pulau bisa saja menjadi dua atau tiga tahun sekali. 

    Saat merayakan Lebaran ini sepertinya kurang layak jika disongsong dengan kondisi rumah yang kosong melompong tanpa penganan istimewa kan? Sanak saudara dari berbagai daerah biasanya akan datang beserta putra-putri kecilnya. Nah, untuk bocah-bocah lincah itu tentunya akan hadir aneka kue kering, permen, coklat dan camilan ringan.

    Kehadiran berbagai penganan yang tidak selalu ada di hari-hari normal ini membutuhkan persiapan dana tersendiri. Begitu juga dengan alokasi waktu untuk melakukan aktivitas belanja persiapan Lebaran. Harus menyisihkan waktu tersendiri agar bisa mendapatkan berbagai barang yang sudah menjadi incaran. Lebaran kali ini aku tak punya cukup waktu untuk berbelanja berbagai barang keperluan hari raya jauh-jauh hari sebelumnya. Padatnya jadwal kantor lah salah satu sebabnya.

    Biasanya aku melakukan belanja keperluan Lebaran secara beramai-ramai bersama keluarga. Berhubung baru bisa ‘lolos’ dari jeratan pekerjaan di hari yang sudah mepet sekali dengan hari H Lebaran, terpaksa saat itu aku harus berbelanja sendirian di mini market terdekat, bukan lagi di supermarket murah andalan keluarga kami. Di saat yang sudah dekat sekali dengan Lebaran seperti itu, sudah bisa dipastikan kondisi supermarket akan berubah menjadi lautan manusia. Pembeli dan barang yang akan dibeli seakan sudah tak seimbang lagi. Padahal aku paling tidak suka berbelanja sembari berdesak-desakan seperti itu.

    Belanja bukan hanya aktivitas untuk mendapatkan barang, tapi untukku lebih seperti ‘self-healing’ setelah berhari-hari pening berjibaku dengan pekerjaan kantor. Setiap kali berbelanja, entah itu saat Lebaran ataupun di hari-hari biasa, aku akan melihat baris demi baris dagangan yang ada. Memperhatikan dengan seksama berbagai produk yang bertipikal sama, ingridient-nya apa (untuk makanan dan minuman), perbedaan harga antara satu barang dengan yang lain seberapa, apa saja produk terbaru yang dikeluarkan oleh produsen favorit  dan berbagai hal kecil lainnya yang mungkin kurang penting bagi orang lain tetapi menyenangkan untukku. Demi mendapatkan kenyamanan berbelanja itulah aku lebih memilih membeli kue-kue dan minuman untuk Lebaran nanti di mini market saja. Meskipun produk yang ditawarkan tidak selengkap supermarket dan harganya sedikit lebih tinggi, bagiku itu sudah memadai. Yang penting nantinya bisa menyajikan suguhan Lebaran untuk sanak saudara yang akan datang berkunjung.

   Selesai berbelanja kulihat seorang ibu sedang duduk lemas di samping sepeda tua yang diletakkan secara sembarangan di halaman mini market itu. Semula kupikir ibu itu hanya kelelahan saja, mungkin saja dia telah bersepeda cukup jauh dan berhenti untuk beristirahat sejenak. Ternyata jauh sekali dari bayanganku semula. “Bu, mohon belas kasihan, mohon saya dibantu sekadarnya. Saya tidak punya uang sama sekali untuk membeli jajanan Lebaran untuk anak saya di rumah,” kata ibu yang sepertinya masih seusiaku itu.

    Aku terhenyak mendengar perkataannya itu. Apa? Di saat aku sedang bersuka cita membelanjakan uang THR ternyata masih ada orang lain yang tidak memiliki uang sama sekali. Kupandang ibu itu dengan berbagai perasaan aneh sebelum kuulurkan beberapa lembar uang kepadanya. Ibu itu tampak senang luar biasa mendapatkan uang yang tak seberapa dariku itu. Berkali-kali dia mengucapkan terima kasih sebelum meraih sepeda tuanya dan mengayuh penuh suka cita tanpa menoleh lagi. 

    Rupanya kejadian yang cukup menyesakkan dada itu tak berhenti sampai di situ saja. Setelah beberapa saat berlalu, saat aku sudah melupakan pertemuanku dengannya, ibu muda berwajah sedih itu kembali muncul. Bukan lagi di mini market tempat kami berjumpa pertama kali. Namun kini di rumahku sendiri. Ibu itu datang pada hari kedua Lebaran. Kembali si ibu meminta belas kasihan, kali ini bukan berupa uang. Dia tidak mau saat akan diberi uang. Dia hanya ingin satu kaleng kue yang akan ditunjukkan pada anaknya sebagai bukti telah membelikan jajanan Lebaran. 

    Ah trenyuh sekali hati ini. Sayang sekali, aneka kaleng kue Lebaran yang kupunya sudah tidak ada lagi yang dalam kondisi tersegel. Semua sudah terbuka, meskipun ada yang hanya berkurang satu dua potong saja. “Tak mengapa Bu, isinya tidak penuh pun tak apa. Asalkan kalengnya masih kelihatan baru, anak saya pasti percaya bahwa saya baru saja membelikan kue itu spesial untuknya. Bila Ibu masih memiliki kantung plastik dari toko dimana Ibu membelinya, saya akan sangat berterima kasih, Bu. Jadi seperti baru saja saya beli di toko kan Bu bila begitu?” tanyanya untuk memantapkan pemikirannya sendiri. 

    Sungguh Lebaran yang amat berbeda bagiku saat itu. Kuulurkan kaleng kue yang telah berkurang isinya itu kepadanya. Meskipun isinya masih banyak, tetap saja kue itu tidak berada dalam kondisi kemasan baru. Baru kusadari kini, betapa istimewanya kaleng kue ‘setengah baru’ itu bagi ibu muda berwajah sedih tadi. Istimewa pula tentunya untuk anaknya yang menginginkan kue Lebaran terenak saat itu. Ya Allah Ya Tuhanku, semoga selalu Kau berkati ibu beserta anaknya yang begitu mendambakan setitik kebahagiaan di hari Lebaran itu. 

Tulisan ini diikutkan dalam TjeritaHari Raya yang diselenggarakan oleh @leutikaprio
>>>> Read More >>>>

Thursday, August 15, 2013

Akan Ada Pelangi Setelah Badai

repost dari tulisan lama dengan berbagai penyesuaian

    Berada dalam zona aman seringkali membuat kita lupa akan banyak hal. Lupa akan nasib orang lain yang jauh lebih tidak beruntung dari diri kita. Lupa romantika hidup yang berlika-liku. Bahkan tak jarang lupa untuk bersyukur. 

    Kategori lupa yang terakhir tadi pernah terjadi di suatu masa dalam hidupku. Saat diriku merasa terbanting, jatuh ke dalam rongga gelap yang kurasa sebagai penderitaan. Ejawantah atas keterbatasan nalar dan rasa bersyukur seorang hamba Allah yang masih sangat sedikit menguasai 'ilmu kehidupan'.

    Kehilangan pekerjaan. Ya, bagi seorang perempuan muda yang baru saja berhasil memapankan diri secara ekonomi, merasa mampu menghasilkan sendiri rupiah demi rupiah demi menyangga kehidupannya, kehilangan pekerjaan merupakan badai tiada banding. Tak ada yang sanggup mengalahkan keremukan hati sebagai akibatnya (untuk saat itu).

    Tangis tiada henti, keluhan hati terus merambati diri, seakan tiada lagi masa depan cerah yang ada di depan mata. Aku menangis sesenggukan sembari merasakan denyutan jantung kedua yang ada dalam ragaku. Ya, denyut jabang bayi yang menjadi pusat dari segala ikhtiarku. Dia sepenuhnya mengandalkanku. Tetapi apa lah aku ini. Aku hanyalah seorang ibu yang lemah, yang kini terduduk lemas dan tersedu tiada tara.

    Saat merasa berada pada posisi pekerjaan yang mapan, aku mungkin menjadi takabur. Kurang waspada. Dunia kerja yang penuh kelokan terlalu kuremehkan. Hingga pada satu titik dimana aku harus kehilangan pekerjaan itu, kembali kekurangmampuan untuk beradaptasi membuat aku jatuh hancur. Merasa berada pada posisi terbawah dari putaran roda kehidupan. 

    Memang terkadang manusia yang termasuk katagori makhluk paling mulia itu pun bisa menjadi makhluk yang paling tidak bersyukur. Aku lah salah satunya. Yang terpikir hanya penderitaan saja. Kehilangan pekerjaan. Tiba-tiba jatuh sakit saat hamil muda. Suami pun terserang penyakit yang cukup parah. Semua seakan jatuh menimpaku saat itu.

Tak ada yang abadi di dunia ini. Begitu juga dengan penderitaan

   Coba kalau saja saat itu ada sedikit syukur terselip dalam hati. Pasti aku akan menyadari bahwa Allah adalah Maha Pengasih dan Maha Pemberi. Aku diberi waktu yang cukup untuk mengistirahatkan raga dan jiwa yang telah lelah. Istirahat untuk mempersiapkan kelahiran buah hati pertamaku. Istirahat dari rutinitas pekerjaan yang tiada habisnya, kerja bagaikan robot dari pukul tujuh pagi hingga lebih dari pukul tujuh malam (meskipun tidak tiap hari, tapi hampir tiap hari terjadi).

    Coba kalau saja saat itu sedikit bernas. Pasti kebanggaanku pada pekerjaan yang kuanggap 'mentereng' dalam balutan aneka setelan baju ala eksekutif muda itu tak akan membelenggu pikiranku, sehingga rasa sakit saat kehilangannya tak perlu menghinggapiku. Apa coba yang bisa kubanggakan dari pekerjaan yang membuatku tak bisa lepas dari kursi kantor barang sejenak pun. Mengurus surat menyurat keluar masuk perusahaan, mendistribusikan faksimili ke semua penjuru factory, mengatur meeting pimpinan beserta manajer-manajernya (termasuk menata ruangan, hidangan dan makan siang), hingga mengurus akomodasi dan aneka tiket dalam negeri maupun luar negeri untuk kepergian mereka dalam urusan dinas maupun urusan pribadi. Belum lagi sekaligus menjadi operator telepon dua pesawat telpon, yang seringkali berdering berbarengan hingga membuat kepala terasa berdenyut-denyut. Bukan hanya karena bunyinya yang menggema di ruangan sekretaris yang super hening, namun juga ancaman kemarahan dari atasan apabila deringan itu tak segera diangkat. Sungguh pekerjaan yang membuat hati membaja. Istirahat pun yang semestinya 1 jam tak bisa sepenuhnya kunikmati, harus segera balik ke kursi tercinta untuk kembali 'mengurus rumah tangga negara' :)

    Andaikan aku masih berada di sana, mana mungkin bisa berada di sini :
Koelnmesse - lokasi pameran Spoga di kota Koln / Cologne
Frankfurt Bahnhoff - hendak menyeberang ke The Netherlands

    Berkat sms dari seorang teman yang mencari pengganti karena dirinya hendak pindah pekerjaan, akhirnya aku bisa kembali bekerja saat baby-ku berusia 4 bulan. Meskipun tak seberapa lama aku bekerja di bekas kantornya itu, namun tahap itu mampu membuatku kembali mantap menatap hari depan. Sampai kemudian aku bisa mendapatkan pekerjaan lain di salah satu perusahaan manufacture bidang perkayuan. Perusahaan itu membutuhkan seseorang untuk menghandle pemasaran ekspornya.

    Belum genap setengah tahun aku bekerja di sana, tawaran untuk menemani big boss ke Jerman datang padaku. Selain untuk melihat pameran perkayuan terbesar Spoga di kota Koln / Cologne, beliau ingin sekali mengunjungi beberapa buyer potensial. Ternyata kunjungan selama hampir dua minggu itu memang membawa hasil yang signifikan. Penjualan ekspor meningkat tajam, sungguh di luar ekspektasi.

Allah selalu memiliki rencana dahsyat di balik 
semua derita tak seberapa yang kita jalani.

    Sudah selayaknya lah aku tak perlu terbelenggu hal-hal buruk yang sedang menimpa. Berkaca dari kejadian-kejadian di atas, aku semakin yakin bahwa Allah selalu memiliki rencana-rencana dahsyat di balik semua derita tak seberapa yang kujalani saat itu. Akan ada senyum setelah tangisan, akan ada pelangi nan indah yang mengobati luka atas hujan badai di diri kita semua. 




>>>> Read More >>>>

Thursday, August 1, 2013

11 12 lah Dengan Diriku

    Jutek, emosian dan terkadang nyengit. That's me... Asli enggak bakal ngeles kalau dulu punya perangai yang sangat menyebalkan seperti itu *emang sekarang udah nggak lagi? ;)  Namun seiring waktu, setelah bertambah usia dan mendapatkan pasangan yang bisa mengerti dan menjadi peredam emosi, kadar menyebalkan yang kumiliki kian menipis, hinggi kini aura positif yang lebih berjaya muncul dari diriku *ember mana embeeerrr...

    Sejenak mengingat masa lalu kadang memang bikin malu. Namun itulah manusia, tak akan ada pembelajaran bila tak mau jujur pada diri sendiri. Terutama ya tentang itu tadi, masa lalu yang sering penuh dengan lika-liku maupun warna-warni pemoles jati diri.

    Nah, seakan kembali ke masa muda dulu, aku menemukan diriku pada sosok sobat blogger satu ini. Meskipun masih lebih 'parah' diriku di waktu lampau, namun kelugasan dan ketakbasa-basiannya sering membuatku mensyukuri indahnya ritme masa mudaku. Ya, more or less, atau 11 12 lah dengan diriku, alias sami mawon ;)

    Tanpa perlu menyebut nama, berbagai keunikan (unik lebih pas daripada menyebutnya dengan kelebihan dan kelemahan) yang tersirat di balik yang tersurat dalam blognya, sudah akan jelas siapa blogger yang kumaksud. Beberapa kisah hidupnya teramat mirip denganku.

Mbolang Nggak Jelas

    Di suatu kurun yang super absurd, aku pernah bepergian dengan penuh keplin-planan. Bersama 2 orang teman seangkatan di organisasi pencinta alam yang kuikuti, kami memutuskan untuk mengunjungi kota Jember, ke rumah salah satu adik angkatan kami. Alasan dolan ke sana pun tidak jelas, sekedar jalan-jalan saja, itu ucapku kepada pacarku saat itu (ya ayahnya anak-anakku sekarang). Kok malah tidak pergi dengan pacar? Heheee... lebih aman ah ;)

    Ya, semula memang hanya ke Jember saja. Jalan-jalan di sekitar UNEJ, kenalan dengan sesama pencinta alam di sana, terus balik lagi ke rumah adik angkatan kami tadi. Trus ngapain lagi? Bengong saja karena bahan percakapan udah habis dalam sehari. Bila dipikir-pikir sayang juga jauh-jauh dari Semarang ke Jember kalau hanya itu saja agendanya. Hmm... kalau dilanjut ke Banyuwangi gimana?

    Hayuuukkk... meskipun umpel-umpelan naik bis BUML kami bertiga tetap asyik mbolang. Di tengah perjalanan kami kembali masygul. Nanggung ah, sekalian aja nyebrang ke Bali. Nah loh, enggak jelas banget kan?

    Bermodalkan nekat dan duit cekak kami pun tiba di Bali. Kuta. Ya, kami harus segera mencari angkutan ke Kuta sebelum kemalaman. Terus ngapain setiba kami di sana. Berderet-deret hotel megah menanti kami yang bak gelandangan itu. Mana mampu nginep di sana. Letihnya badan membuatku uring-uringan pada kedua temanku, yang bolak-balik menyuruhku sabar untuk terus mengayun langkah, mencari penginapan murah yang agak 'mblusuk' tempatnya.

Mbolang suka-suka ala Argalitha
    Seakan kembali ke masa itu saat kubaca tulisan si blogger dengan judul Liburan Aneh di Bali. Woah, asik aja ngikutin cerita tentang peta yang ketinggalan, bensin habis dan berbagai nasib apes yang melanda. Liburan yang keren memang tak harus yang serba tertata. Aneh sekalipun akan terasa asyik bila kita menikmatinya. Tulisan ini begitu menyegarkan, membawaku kembali ke masa-masa usia segitu lah. Thanks Dek ;)

Gemar Menulis Sejak Dini

    Bagaikan sudah berabad-abad saja ya bila mengenang masa dulu duduk di Sekolah Dasar. Apalagi untuk emak-emak yang sudah berumur sepertiku *sok tua...  Satu yang paling kuingat dulu di masa itu aku sangat gemar membaca. Jarang sekali pergi bermain dengan teman sehingga kerap dijuluki 'clingus' alias pemalu oleh orang tuaku.

    Kegemaran membaca sejak kecil itu pula yang membuatku tergerak untuk suka corat coret di buku tulis khusus. Biasanya setelah membaca suatu cerita aku akan membayangkan diriku yang menjadi pemeran utama tulisan tadi. Dari mulai berimajinasi seperti itulah akhirnya beberapa tulisan berhasil kubuat di buku corat coret tadi. Ada yang ditulis saat senggang di rumah ataupun pas jam istirahat sekolah. Teman-temanku pun tertarik untuk membacanya. Alhasil buku corat coretku itu beredar ke beberapa teman yang juga memiliki kegemaran membaca sepertiku.

    Pada artikel Hobi dan Mimpi yang kujumpa kini, aku kembali bernostalgia pada masa kecilku. Hanya bedanya, si empunya blog ini jauh lebih keukeuh untuk mewujudkan mimpinya menjadi penulis. Tidak pemalu seperti diriku di masa dulu. Bisa tampak dari kegigihannya mengirimkan puluhan cerpen meskipun belum kunjung mendapat kabar baik.

    Idenya untuk membuat majalah Alicong itu loh yang unik. Kok bisa-bisanya ya :D Etapi bener loh, melalui penuturan sederhana namun runtut di artikel ini banyak hal yang bisa kita ambil sisi baiknya. Mulai dari kegigihan menulis, mengembangkan kemampuan sesuai minat hingga membuat gebrakan baru di majalah sekolah. Full of spirit. I like it.

    Semua yang dilakukan blogger ini untuk mewujudkan mimpinya membuka mataku dan membuatku menyesal. Mengapa dulu aku tidak mengembangkan passion menulisku? Nah sekarang setelah emak-emak begini, rempong bener bagi waktunya saat mencoba berkonsentrasi untuk menulis. Adaaaa saja yang harus dikerjakan dulu lainnya. Nyiapin kebutuhan keluarga, urusan kantor, riweuh dagangan online, dan sebagainya. Yah, terlalu banyak alasan ya heheee...

    Paling tidak setelah membaca tulisan itu aku jadi ingat sesuatu. Putriku yang kini telah berusia 9 tahun juga memiliki minat menulis yang luar biasa. Bila dulu aku tak mendapat dukungan orang tua, berkhayal sendiri tanpa tau media yang bisa digunakan untuk menumpahkan ide, kali ini it won't happen to my girl. Dia berhak untuk mengembangkan minatnya dengan dukungan maksimal. Ayo jangan sungkan untuk mengikuti jejak tante blogger ini Nok, kamu harus bersemangat dan lebih cemerlang dari dia ;)

Akhir Tak Terduga

    Saat kita membaca cerpen ataupun novel, pernah terpikirkah bagaimana nanti akhir ceritanya? Selalu mengharapkan happy ending kah?

    Kadang-kadang memang butuh kepuasan melalui happy ending saat selesai membaca cerpen atau novel. Apalagi bila dari awal kisahnya sudah diwarnai oleh berbagai bilur penderitaan yang menggurat. Secercah senyum di akhir cerita tentu akan terasa sangat manis.

    Namun aku justru suka dengan cerita-cerita yang berakhir dengan berbagai hal tak terduga. Kebanyakan jadinya memang berakhir dengan kesedihan sih. Seperti saat menonton film, ending cerita pada Gladiator ataupun Perfect Storm lebih kusukai daripada selamatnya Annie Porter dan Jack Traven di film Speed.

    Cerita dengan akhir yang tak terduga pada Rintangan Dalam Percintaan karya blogger ini juga membuatku salut. Asem tenan, kirain cuma cerita mellow yang berakhir happy ending. Sang putri terluka yang akhirnya diselamatkan oleh pangeran impian. Ternyata tidak begitu. Sungguh di luar dugaan. Pangeran impian tadi  ternyata cukup sulit posisinya. Ia menjadi penyelamat sang putri sekaligus penghancur harapan kekasih hatinya. Bingung ya? Simak saja langsung di blog ini tentang cinta segi empat penuh rintangan. I bet you'll like it :)


    Nah, keunikan dari 3 tulisan yang sudah panjang lebar kuceritakan tadi kira-kira sudah bisa memberikan gambaran kan ya siapa sosok blogger yang kumaksud. Sudah kenal kan tentunya? Sama :)


Diikutsertakan dalam even Giveaway Novel di argalitha.blogspot.com

>>>> Read More >>>>