Pages

  • Home
  • About
  • Contact

Tuesday, July 30, 2013

Terdampar di Manado? Mauuuu....

    Bukan mimpi di siang bolong saat aku ingin sekali terdampar di Manado. Terdampar dengan bekal yang lebih dari cukup tentunya ya.. Siapa takut?

    Musim liburan seperti ini memang selalu membuat angan melambung tinggi. Ingin sekali bisa berlibur ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi. Salah satu yang segera terbersit di benakku adalah Manado. Mengapa begitu?

    Aku penggemar olahraga air dan telah fasih berenang sejak kanak-kanak. Semua tempat hiburan yang mengandung unsur air seperti kolam renang bahkan sejenis water blast sangat menarik untuk kukunjungi. White water rafting juga menawan sebagai pemicu adrenalin sembari basah-basahan ;)  Sepanjang ini aku sudah cukup puas liburan bersama dengan keluarga ke tempat-tempat wisata sejenis ini. Namun aku ingin yang jauh lebih menantang.

    Diving. Ya, alangkah serunya bila suatu saat aku dan keluarga bisa pergi bersama-sama untuk diving. Salah satu lokasi yang sangat kuimpikan untuk kukunjungi adalah Bunaken.

sumber gambar : WisataSulut.com
beningnya mak oiiyyy... sumber gambar : Kompasiana
    Ngiler banget nggak sih liat kedua foto di atas. Wuiii... langsung terbayang-bayang indahnya ber-diving ria di sana.


     Selain biota laut yang berwarna-warni dan indah yang menjadi alasan memilih Bunaken, letaknya yang tidak jauh dari Manado akan mempermudah akomodasi pengunjung. Bunaken hanya berjarak sekitar 50 menit perjalanan dari pelabuhan Calaca Manado dengan menggunakan perahu motor bermesin ganda. Jika menggunakan speed boat akan lebih cepat lagi, sekitar 35 menit. .

    Jauh lebih nyaman bila kita memesan paket perjalanan ini bersamaan dengan hotel yang kita pilih. Memilih hotel pun sudah tak perlu susah-susah searching via internet. Apalagi harus membolak-balik buku panduan telpon yang super tebal itu. Cukup klik VoucherHotel.com dan pilih kota Manado.
tampilan VoucherHotel.com untuk proses booking hotel di Manado
    Yeay, mudah sekali. Di antara berbagai pilihan hotel tersebut kita tentukan mana yang dekat dengan lokasi wisata yang kita tuju. Lantas hotel apa dong yang sebaiknya dipilih bila kita ingin ke Bunaken? Ayo jangan ragu dan bingung lagi, klik saja aneka pilihan hotel di Manado yang terdapat pada VoucherHotel.com, pasti ketemu deeehh... Come on just try, don't worry, you won't loose any cents on it until reservation done ;)  Sudah? Gampang kaaannn? As simple as a click can do.

    Selain ke Bunaken, dari lokasi hotel yang ada ditawarkan oleh VoucherHotel.com tadi ada juga loh tempat wisata yang wajib kita kunjungi. Klenteng Ban Hing Kiong, kelenteng tertua di Manado.

sumber gambar : Wisata Sulut & Wonderful Indonesia
    Nama Ban Hin Kiong sendiri memiliki arti sebagai berikut : Ban berarti "banyak", Hin berarti "nikmat berlimpah" dan Kiong berarti "istana". Oleh karena itu, Ban Hin Kiong berarti istana suci yang memancarkan banyak kebahagiaan. Sebaiknya bila ingin memaksimalkan liburan dengan menikmati berbagai ritual keagamaan di klenteng ini, datanglah pada saat Imlek. Letaknya di Jl. DI Panjaitan yang berada di pusat kota memudahkan akses kita ke sana.

    Selain kedua lokasi wisata yang sangat memukau di atas, masih banyak loh tempat lain yang layak dikunjungi. Jauh-jauh ke sana (bagi orang Jawa tentunya) rugi kalau tidak melakukan jelajah wisata. Ada Danau Tondano, Kota Bunga di Tomohon, Taman Nasional Tangkoko, Bukit Kasih dan Patung Yesus Memberkati (Jesus Blessing).
Berhubung belum pernah ke Tondano, foto pinjam dari Konservasi Danau Tondano, Widyaningtyas's, Triphemat.com,  dan Yellow Pages Travel
aneka lokasi wisata di Manado yang sayang untuk dilewatkan
    Wah, banyak sekali ya tempat wisata yang begitu menggoda. Kota bunganya itu loh, begitu membuatku terbayang-bayang akan taman bunga di Negeri Kincir Angin nun jauh di seberang lautan. Ternyata di Indonesia juga ada kan.

    Jadi tunggu apalagi? Gencarkan doa agar sesegera mungkin 'terdampar penuh bekal' di Manado. Yuuuukkk.... :)

>>>> Read More >>>>

Friday, July 26, 2013

Travel Writing by Agustinus Wibowo

     Kejutan memang selalu datang tak terduga. Hari Selasa tanggal 23 Juli 2013 tak disangka-sangka aku mendapatkan undangan utk menghadiri acara Awarding Sayembara Gado-gado Femina di forum travel writing dalam acara Festival Wanita Wirausaha (Wanwir). Wow, mesti koprol kah daku? :D

    It means a lot for me. Aku dapat undangan bukannya sengaja submit, tapi karena akan ada acara award di atas. Nah, apa hubungannya coba?  Kukonfirmasikan ke pihak Femina kenapa aku mendapatkan undangan itu. Eh ternyata tulisanku yang kukirim untuk mengikuti sayembara rubrik Gado-gado di Femina masuk nominasi. Alhamdulillah.


    Senang sekaligus sedih. Senang karena akan mendapatkan ilmu menulis, khususnya travel writing dari mas Agustinus Wibowo, seorang backpacker handal yang telah menelurkan buku Selimut Debu dan Garis Batas. Selimut Debu merupakan kisah perjalanannya di Afghanistan, sedangkan Garis Batas mengisahkan perjalanan melintasi Tajikistan-Kyrgyzstan, Kazakhstan, Uzbekistan hingga Turkmenistan. Sungguh layak untuk disyukuri akan mendapatkan ilmu dari mas Agustinus. Namun rupanya impian memang selalu tak seindah kenyataan. Banyak hal di tempat kerja maupun rumah yang tidak memungkinkan aku untuk berangkat ke Jakarta.

    Sayang sekali kan ilmu seberharga ini harus lewat begitu saja. Harus tetap ada orang yang menggantikanku untuk menyerap ilmu itu. Secara sambil lalu aku ngobrol dengan teman kuliah dulu yang tinggal di Jakarta. Dia rupanya antusias untuk mewakiliku di sana sekaligus belajar menulis. Uriona, perempuan asal NTT ini piawai dalam hal fotografi dan shooting, namun mengaku tidak bisa menulis. Aku sebenarnya tak percaya sih, tapi berhubung my dear friend Uri tetep keukeuh bilang tidak bisa ya sudah aku ngikut saja :D  Oleh pihak Femina diperbolehkan untuk mengirimkan perwakilan bila berhalangan hadir. Sip lah, confirm sudah kehadiran Uri di sana.
    Jadilah Uri berangkat ke Main Stage Atrium, Lotte Shopping Avenue untuk mengikuti writing clinic nan keren ini. Dan di bawah ini adalah ilmu yang ingin dibagikannya kepadaku dan teman-teman blogger yang ingin tau materi dari Agustinus Wibowo. Ku-copas apa adanya saja ya, kalau masalah content kan aku tidak tau sama sekali ;)

------------------------------------

Summary of Travel Writing coaching
by Agustinus Wibowo (backpacker,blogger,journalist)
26 Juli 2013
    Sebelum menulis kisah perjalanan, coba ingat hal ini. Apa reaksi anda saat membaca buku traveling? Melewatkan berlembar-lembar halaman karena bosan? Mmembantingnya karena kesal? Atau tak sabar melanjutkan karena penasaran?

    Bagi sebagian besar pembaca, opening atau kalimat awal adalah bagian terpenting dalam tulisan. Orang memutuskan akan melanjutkan bacaan atau tidak tergantung pada awal sebuah tulisan. Begitu banyak media, begitu banyak buku, dan hanya sedikit waktu untuk membaca. Maka jadikan kalimat awal pemancing penasaran pembaca.

    Pada bagian isi, setelah "menangkap" pembaca, sekarang persoalannya bagaimana membuat pembaca betah. In travel writing,you must take your reader into your experiences. Make your writing comes to live! Misalnya: "Kereta api ini sesak." --bandingkan dengan: "Kereta api ini sesak, sampai orang susah lewat." --- lalu dengan : "Kereta api ini sesak sampai saya harus berdiri dengan satu kaki". --- dan akhirnya yang paling deskriptif : "Hampir tak ada tempat meregangkan badan, setiap inci kereta telah terisi orang yang tidur menggelosor atau duduk di pojokan sambil mengempiskan perut, mengecilkan pantat, agar bisa mendapat tempat (ini versi lain tanpa menggunakan kata 'sesak'.). Jadi intinya, gunakan panca indera, kelima-limanya untuk mendeskripsikan pengalaman yang diceritakan.

    Teknik lain yang bisa digunakan utk menghidupkan tulisan adalah dengan cara tulisan model dialog. Ini bisa "mempercepat ritme" tulisan. Asal hati-hati agar dialog tidak membosankan. Langsung gunakan dialog yang 'bercerita'. Tak usah gunakan dialog basa basi semacam "Hai,apa kabar".

    Jangan ragu memasukan adegan dalam tulisan deskriptif. Misalnya menulis perampokan menggunakan adegan tanpa satupun kata 'perampokan'. Biarkan pembaca menyimpulkan sendiri. Misalnya : Ketika aku terjerembab ke pojokan ,lelaki itu mengeluarkan bilah tajam berkilat, mengacungkannya ke arahku. "Wallet," katanya parau.

    Less is more. Makin simple tulisan, makin menarik. Jangan bertele tele. Sampaikan hal rumit dengan kalimat sederhana. Jangan memberitahukan semua detil, beri ruang untuk pembaca berimajinasi. Stay away from wikipedia style.
    Penutup : biasanya berupa akhir perjalanan. Tapi ini biasa saja jadinya. Yang bagus adalah membuat ending jadi 'gong' yang 'nyambung' atau jadi jawaban kisah pembuka di awal tulisan yang membuat penasaran.

    Rajinlah menulis jurnal selama perjalanan. Semua pengalaman, perasaan, ide, anything.Selain menghindari lupa, juga bisa jadi sumber inspirasi saat mentok dalam menulis kisah perjalanan. Tulislah dalam bahasa yang baku.Tapi baku bukan berarti lantas kaku. Bahasa baku akan tetap enak dibaca bertahun-tahun mendatang. Bahasa gaul memang asik, tapi cepat hilang ditelan waktu.

    Kisah perjalanan tak selalu harus tentang cara melakukan perjalanan di tempat-tempat jauh. Bisa juga tentang lokasi-lokasi dekat. Asalkan bisa membawa pembaca merasa turut melakukan perjalanan saat membaca. Makin mudah suatu masyarakat melakukan perjalanan, tren travel writing juga turut bergeser. Dari tren buku-buku panduan perjalanan, buku-buku 'how to' menjadi buku narasi perjalanan yang bersifat personal dan tidak massal.

 ----------------------------------------------

     Hmm, sangat bermanfaat ilmu menulis yang telah diberikan oleh Agustinus Wibowo tadi. Thanks a lot to my lovely friend Uri, GBU. Terima kasih telah mau repot-repot datang ke acara keren ini, sampai dibela-belain cuti. Jadi merasa bersalah nih ;)
para pemenang sayembara Gado-gado Femina, foto by Uriona
    Untung rasa bersalahku ini bisa tertebus oleh ilmu yang diberikan dalam writing clinic ini, yang ternyata sangat diidam-idamkan oleh Uri. Kita impas ya, Girl ;)  Meskipun di acara awarding aku tidak menang, it's not a problem at all. Sudah bisa masuk nominasi saja merupakan kebanggaan yang luar biasa dari seorang pemula sepertiku. Kata teman blogger dari Magelang, mba Lies Hadi, naskah yang masuk ada 86. Menjadi salah seorang nominee di 7 besar sudah lumayan banget lah. Mba Lies Hadi sendiri berhasil menjadi juara kedua. Selamat mbakkuuu... *cipikacipiki

mimpiku untuk menjadi salah satu dari mereka kuikhlaskan untuk sobatku Uriona. Foto ini dari dokumentasi pribadinya
    Semoga sedikit ilmu ini bisa bermanfaat untuk teman-teman yang sangat ingin menguasai cara handal menjadi travel writer. Aku saja sering membayangkan bisa seperti mba Asma Nadia atau mba Imazahra (si Honeymoon Backpacker). Tapi bagaimana mungkin, lha wong rutenya cuma rumah-pom bensin-kantor-warung-selepan beras-rumah lagi. :D   

    Have great days, Kawan...


>>>> Read More >>>>

Kena Deh Ama Gigi Palsu

    Menggunakan gigi palsu itu hal biasa bagi orang tua kita, terutama yang sudah lanjut usia. Ibuku pun telah mengenakannya. Namun bukan karena faktor usia. Ibu terpaksa mencopot gigi aslinya akibat kecelakaan di usia muda. Jadi sejak beliau berusia sekitar 40 tahunan sudah mengenakan gigi palsu di bagian kiri dan kanan.

    Ibuku tidak minder, meskipun tadinya risih juga saat pertama kali mengenakannya. Lama-lama malah beliau suka mengejek diriku saat menggosok gigi bersama sebelum tidur. "Nah, coba kamu gosok gigi sambil singsot (bersiul), bisa nggak?"  Nyerah maaakkk... *ngibarin bendera putih


    Nah, peristiwa tak terlupakan berkaitan dengan si gipal (gigi palsu) itu terjadi saat aku dan Ib (panggilan sayangku pada ibunda) olah raga di Minggu pagi. Kami hanya berdua dan saat itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Jadi ib masih agak mudaan gitu. Dari rumah sebenarnya aku sudah ketawa ketiwi aja melihat penampilan Ib. Training suit-nya sih biasa, kuncir dua kiri kanannya itu lho yang enggak kuku. Nggak mau kalah muda aja nih ama anaknya yang masih SD.

lari pagi agar sehat, sumber gambar dari sini
    Mumpung badan masih segar, kami pun lari-lari kecil. Dari rumah rencananya akan lari kecil menuju Simpang Lima, lapangan sekaligus taman kota yang ada di pusat kota Semarang. Nanti bila dirasa terlalu berat, dilanjutkan dengan jalan cepat saja. Kami pun berlari bersama sambil mengobrol ringan. Beberapa sepeda melaju perlahan menyalip langkah kami. Rupanya banyak juga warga Semarang yang berolah raga pagi. Sehat sehaaattt...

    Kami masih terus asyik melanjutkan lari-lari kecil manakala ada sepeda yang kembali menyalip kami. Kali ini nyalipnya lain dari yang lain. Si pengendara sepeda mencolek bahu Ib dengan genit sembari berteriak tak sopan, "Ceweeekk...kenalan dooongg."  Beuh berani bener nih anak muda pengendara sepeda itu, colak colek emak-emak. Aku sudah takut saja bawaannya, jangan-jangan Ib nanti marah-marah di jalan. Jadi rusak dong acara olah raga pagi kami tadi.

    Tapi apa yang terjadi, benarkah Ib marah?

    Beliau malah mempercepat langkah larinya sembari berkata, "Sini kalau mau kenalan."  Lho, kok malah seperti itu. Aku jadi bingung. Anak muda yang tadi mengendarai sepeda pun memperlambat laju sepedanya dan menengok ke belakang, ke arah Ib. Eh, dalam sekejap dia langsung kembali menghadap ke depan dan njranthal (pergi secepat kilat). Ada apa ini ya?

    Kutengok Ib dengan penuh penasaran. Sakti sekali nih bundaku, anak muda tadi sampai takut luar biasa begitu. Apa yang sebenarnya dilakukan Ib? Ternyata beliau sedang bereksperimen dengan gipalnya untuk menakut-nakuti. Kesannya jadi kayak gigi drakula begitu. Sontak aku pun terbahak-bahak tiada henti. Ib pun ikut-ikutan tertawa panjang kali lebar kali tinggi :D  Sampai mulas dan sakit rasanya perutku gara-gara tertawa tiada henti. Aku pun menghentikan langkah lariku. Mana kuat lari pagi sambil tertawa ngakak begitu.

    "Nah itu dia, anak muda kalau kurang sopan sama orang tua ya harus dibegitukan," ujar Ib penuh keisengan. Aku masih terus terpingkal-pingkal. Syaraf tertawaku seperti sudah lepas kendali. Sebenarnya malu juga sih, semua orang yang sedang jalan dan lari pagi di sekitar kami jadi melihat ke arah kami semua. Gosh, wanna skip to outer planet deh bawaannya. Kutengok kembali Ib, aaahh untunglah gipalnya sudah kembali ke tempat semula. Aman.

    Aduduh ibuku sayang, ada-ada saja. Ib sih pake dikucir dua segala, kan kalau dari belakang kesannya kayak gadis muda. Yang salah siapa dong, anak muda kurang tata krama tadi atau Ib-ku sayang? Belum tau tuh anak muda akan kedahsyatan gipal :D

Cerita gokil ini diikutsertakan pada Giveaway Perdana Fardelyn Hacky's Blog

>>>> Read More >>>>

Monday, July 22, 2013

Ramadhan-ku Yang Terkoyak

    Kedatangan bulan Ramadhan selalu saja dinanti-nantikan. Bulan penuh ampunan dan penuh rahmad yang bisa kita gunakan untuk berlomba-lomba menabung pahala. Tiada bulan yang lebih dinantikan oleh muslim selain bulan yang menjanjikan Lailatul Qadar ini.

    Berbagai aktivitas harian pun diagendakan untuk mendukung target Ramadhan kita. Beribadah dan beramal sebanyak-banyaknya. Meskipun di luar bulan Ramadhan pun harus melakukan hal yang sama, namun rasanya memang jauh luar biasa saat melaksanakan berbagai amal ibadah di bulan istimewa ini.

    Ada satu pengalaman di bulan Ramadhan yang cukup memalukan untuk dikenang meskipun tetap dapat dipetik pembelajaran dari kejadian tersebut. Pengalamanku ini terjadi belasan tahun yang lalu, saat diriku masih aktif 'kelayapan' kesana kemari :)
journey of souls, pic by credit
Pada tahun 1994 (oh noooo....ketauan jadulnya) organisasi pencinta alam yang kuikuti melaksanakan program yang telah dirancang tahun-tahun sebelumnya, yaitu ekspedisi putri untuk pertama kalinya.Namanya juga ekspedisi putri, pastinya cewek-cewek semua yang jadi atlitnya. Pas di tahun itu aku sudah menjadi anggota dan memiliki kesempatan untuk mengikuti seleksi atlit tim yang akan melakukan ekspedisi ke Gunung Kerinci, plus penelitian di Taman Nasional Kerinci-Seblat, Jambi.

    Yang paling membuat teringat-ingat hingga sekarang, berbagai aktivitas fisik seleksi maupun try out ekspedisi ini terlaksana saat bulan Ramadhan. Latihan fisik tetap on schedule mengingat tanggal ekspedisi telah ditetapkan, yaitu beberapa minggu setelah Lebaran. Setelah terpilih 6 orang untuk menjadi tim ekspedisi, kami digodok habis-habisan oleh para pelatih, ya mas-mas senior kami sendiri. Tanpa sedikit pun ada kelonggaran alias dispensasi karena sedang berpuasa, kami dihajar latihan rutin setiap sore menjelang buka puasa. Alhamdulillah, dari 6 orang anggota tim, 5 orang yang muslim masih tetap kuat hingga saat berbuka puasa tiba.

petualang gunung hutan, pic by credit
  Selain latihan fisik dan lari mengitari stadion olah raga 5 kali putaran setiap hari, kami pun dituntut untuk memiliki kemampuan pengenalan medan. Maka dilaksanakanlah try out ekspedisi, kami dibekali peta Gunung Ungaran. Bukan lewat jalur normal pendakian yang akan kami jalani. Start dari Gonoharjo kami naik ke kebun teh Medini dan dari sanalah perjalanan 'berdarah-darah' kami dimulai menuju puncak Gunung Ungaran. Trainer kami hanya memberi bekal peta dengan titik-titik tujuan yang telah ditentukannya. Kami harus mengikuti titik itu dan membuat jalur pendakian mandiri untuk mencapainya.

    Okelah c'mon, kami pun semangat 45 melakukan try out ini meski dalam kondisi berpuasa. Semula sih masih fine fine saja, meskipun kepanasan dan haus luar biasa kami masih tabah. Cobaan datang mendera saat salah satu anggota tim yang non muslim mulai mengeluarkan veldples (botol minum) dan menyatakan menyerah, tidak sanggup mengikuti ketabahan kami yang sedang berpuasa. Hmm... mulai deh cleguk cleguk nih leher. Aishhh... singkirkan pikiran buruk itu. Ayo ayo, kami pasti bisa, begitulah kami berlima yang muslim saling menyemangati.

    Perjalanan pun berlanjut, makin siang makin panas lah cuacanya. Sinar matahari yang sangat terik serasa membakar ubun-ubun. Seorang kawan yang wajahnya mulai memucat mulai memandang dengan wajah penuh kegalauan :)  Sembari duduk 'ndlosor' ekspresinya bagaikan ikan hidup yang diletakkan di atas piring, menggelepar mendambakan kehidupan :D. Berat sekali memang yang harus kami jalani. Sebenarnya seluruh anggota tim sudah bersiap untuk menyerah, namun masing-masing tetap jaga wibawa. Nah masalahnya sekarang sudah ada satu orang yang siap 'mengibarkan bendera putih'. Bukan godaan lagi ini namanya, namun ditemukannya seorang kambing hitam atas kegagalan kami berpuasa hari itu. Yeayyy... kami slamdunk rame-rame tuh si kambing hitam dan menumpahkan segala kesalahan padanya atas apa yang terjadi hari itu ;)

    Itulah sekilas cerita Ramadhan yang tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sudah tau puasa malah tetap menjalankan program yang mengandalkan kekuatan fisik. Sebagai bahan pertimbangan saja untuk organisasi apa pun, tolong perhatikan kesesuaian pelaksanaan pelatihan fisik dengan kondisi yang saat itu menyertai. Puasa itu sih sudah biasa, seorang muslim berpuasa tidak minta untuk diistimewakan. Namun tidak berarti pula melakukan aktivitas fisik tanpa memperhatikan logika kekuatan tubuh seorang manusia. Errrr...kami yang dulu 'terkoyak' ibadah Ramadhannya kan bukan Rambo, yang bisa menjelajahi seluruh area gunung dan hutan tanpa jaket dan logistik secuil pun ;)

    Mari jadikan Ramadhan yang kita jalani saat ini sebagai sebaik-baiknya waktu untuk makin mendekatkan diri kepada-Nya. Kedekatan pada Illahi Robbi yang seutuhnya, bukan sekadar ibadah yang penuh permintaan dispensasi seperti cerita di atas. Memangnya mau indahnya kehidupan dan pahala atas ibadah kita juga kena dispensasi ? Na'udzubillahi min dzalik....


Tulisan ini diikutsertakan untuk GA dalam rangka Ramadhan Giveaway dipersembahkan oleh Zaira Al ameera, Thamrin City blok E7 No. 23 Jakarta Pusat


>>>> Read More >>>>

Sunday, July 21, 2013

Masih Ada Orang Baik di Dunia - Part 1

Tanamkan kebaikan sekecil apapun - pic by credit
    Bener enggak sih bila ada yang bilang kalau hare gene makin banyak aja orang jahat di muka bumi ini? Makin ruwet dan semrawutnya urusan di dunia seakan-akan telah menghalau banyak kebaikan yang mampu disajikan. Benarkah?

    Tak hendak kumenghakimi pernyataan itu ataupun membenarkannya. Aku hanya ingin sedikit berbagi tentang kebaikan yang ternyata begitu dekat di saat kupikir sulit sekali untuk mendapatkannya. Tak perlu jauh-jauh untuk menemukannya. Di sekitar kita, di keseharian yang kita jalani, selalu akan ada kejutan yang tak terduga. Kebaikan yang seakan-akan selalu kita cari itu akan menghampiri secara apa adanya.

     Kemarin adalah hari-hari indahku di antara jutaan rahmat yang telah diberikan Allah sepanjang hidupku. Bertemu dengan orang baik merupakan keindahan tersendiri dalam hidup. Makin memacu semangat untuk terus meningkatkan kebaikan diri sendiri yang belum seberapa ini.

    Kebaikan pertama yang kudapatkan dari orang lain terjadi pada hari Minggu pagi yang lalu, saat aku dan kedua anakku berada di salah satu toko buku (tobuk) di Semarang. Tobuk ini identik dengan diskon lah kalau orang bilang ;)  Aku ke sana tidak sedang dalam acara hunting novel-novel keren, tetapi sekedar mengantarkan si sulung membeli buku pelajaran. Memang sih, saat melihat berlajur-lajur novel yang didiskon hingga 40 persen, berasa mangap-mangap saja deh mulut ini bak ikan yang ingin menghirup napas sebanyak-banyaknya. OMG, sungguh godaan yang luar biasa untuk memasukkan novel-novel itu ke tas belanjaan.

    Tidak tidak, aku harus kuat, aku pasti bisa untuk tak tergoda (meskipun sembari nangis darah) :D Masih teringat minggu sebelumnya udah kebobolan dompet gara-gara tak mampu menahan lapar mata. Ya sudah, untuk segera menghalau rasa itu aku segera memacu langkah menuju ke bagian buku pelajaran. Kalau di sana tak akan mungkin tergoda untuk membeli kan ya? hehehee...

    Mulailah aku dan si sulung longak-longok mencari buku. Ternyata catatan buku yang harus dibeli tak dibawa. Sulungku hanya mengandalkan ingatan visualnya akan cover buku tersebut. Waduh, alamat gawat nih kalau begini, pikirku saat itu. Kami berjalan berputar-putar mengelilingi tumpukan buku pelajaran kelas IV sembari terus mengamati satu-satu cover bukunya. Bisa setahun nih caranya begini, ubun-ubun sudah mulai memanas :) Lebih baik minta tolong petugas sajalah, ini option yang paling menenangkan dan melegakan.

penjaga tobuk yg baik ;) - pic by credit
   Ternyata kami tidak salah pilih. Petugas tobuk itu, seorang laki-laki muda baik hati bergaya bicara seperti mbak-mbak, membantu kami dengan sepenuh hati. Tak terkesan lelah ataupun terbebani, padahal sedari tadi kulihat mas itu sibuk membenahi berbagai tumpukan buku yang serampangan gara-gara diaduk-aduk pembeli. Bermodalkan nama penerbit dari tiap jenis buku pelajaran yang diinginkan sulungku, mas itu dengan lincah menunjukkan letak buku yang dimaksud. Dia pun dengan ramah bertanya pada anakku buku apa lagi yang masih kurang, IPA - IPS - Matematika - KPDL atau apa lagi lainnya.

    "Matematika mas, tapi saya lupa nama penerbitnya," ujar Vivi si sulung.
    "Oke tidak masalah dik, ingat judul bukunya?" tanya mas penjaga tobuk itu tetap ramah.
    "Terampil berhitung mas, itu covernya...." belum selesai Vivi menjawab, mas tadi sudah paham.
    "Ooo itu dek, sini sini, bukunya di sebelah sini," begitu ujarnya sembari membawa kami ke tumpukan buku matematika dari salah satu penerbit.
    "Iya, betul ini bu. Wah, mas-e pinter ya bu, kok bisa tahu penerbitnya langsung gitu sih, padahal kan judul buku dan mata pelajaran segitu banyaknya," takjub Vivi.
    "Ya sudah sewajarnya to nok, kerja di toko buku ya harus hapal sama dagangannya."

    Memang betul, setiap pekerja dimana pun yang mencintai pekerjaannya sebaiknya ya seperti mas penjaga tobuk itu. Itu yang ada di dalam benakku. Namun tak bisa dipungkiri, masih banyak pekerja - baik yang kantoran, di toko ataupun pekerja lapangan - yang sekedar masuk kerja tidak terlambat, bekerja asal-asalan, pulang tepat waktu dan akhir bulan mendapatkan gaji. Salah satu contoh yang paling sering kutemui adalah di pasar swalayan, dimana banyak mbak-mbak SPG sering bergerombol, bercerita dengan volume suara tinggi, bukannya mencari peluang untuk memberikan penawaran barang dagangannya kepada konsumen (meskipun dengan resiko ditolak atau tidak ditanggapi). Yah, mungkin mbak SPG itu gajinya kecil kali ya, jadi enggak semangat kerja, begitulah permisif yang bisa kusampaikan pada diriku sendiri.

    Tak banyak yang bisa seperti mas penjaga tobuk itu (sayang aku lupa ngelirik name tag-nya). Ini berdasarkan pengalamanku pribadi loh ya. Padahal saat kita sebagai konsumen dilayani seperti itu, waaaahhh senang sekali. Bahkan kadang berandai-andai, seandainya nanti bisa punya toko buku sendiri, mas yang baik hati itu akan kurekrut menjadi karyawanku. Loh membajak nih ceritanya hehehee... namanya juga berkhayal.

    Masih ada lagi sebenarnya cerita tentang orang baik di dunia ini. Kusimpan dulu untuk Part 2 saja ya biar tidak terlalu berat load kali ini. Tetaplah menjadi orang yang baik ya sahabat.

You never know, a little care of others will bring you to better places in future. 
Places of happiness, places of cheerful heart.


   
>>>> Read More >>>>

Monday, July 8, 2013

Jauh Dekat 'Ongkos'nya Tiada Beda

"Ngapain sih loe bela-belain komen sana sini seperti itu?" suatu tanya terkuak.
"Tidak mbelain apa-apa, senang aja punya teman dimana-mana," jawaban santun tersaji sederhana.
"Emang kalo loe susah dan menderita, yang tadi loe kasih komen bisa bantuin apa?" iiihh...nyinyir banget deh lama-lama.
Haruskah kita selalu mengharapkan balasan dari teman? Berteman itu adalah sebuah keikhlasan, dengan siapa saja. Semua yang dimulakan dari suatu kebajikan akan berakhir pada kebajikan pula sesuai niat tulusnya.

    Ilustrasi cerita di atas berlaku untuk berbagai 'segmen' cerita persahabatan, entah itu sahabat di dunia nyata maupun maya. Melalui dunia maya, sekarang kita bisa terhubung dengan teman kita dari berbagai penjuru dunia. Jarak dan waktu seakan tak bisa membatasi lagi dalamnya ikatan persahabatan yang indah.

    Selain mengandalkan pertemanan maya melalui sosial media, sekarang aku pun punya banyak teman melalui blog. Bisa ya begitu? Bisa banget donk ah. Interaksi pertemanan saat ini bisa ditembus dengan jalur apapun. Kalau mengurus surat-surat saja bisa ditempuh lewat 'jalan belakang', apalagi soal pertemanan. 'Jalan depan' saja terbuka lebar, ngapain pake 'jalan belakang' tadi hehehee... *premis asal-asalan :)

    Melalui jalur yang satu ini, para blogger bisa saling mengutarakan pemikirannya. Ada yang ngeblog hanya untuk curhat (akuuuu.... ngacung tinggi-tinggi), untuk ikutan kuis, kontes dan giveaway (akuuuu....aku lagiiii...), untuk sarana membuat review (naaahhh....koq aku lagi ya?) ;)  Rata-rata untuk yang sudah lama menekuni dunia ngeblog, aneka tips informatif dan berguna sudah tersaji. Secara free lagi. Tak harus subscribe dan bayar langganan. Aku masih tahap belajar nih biar bisa seperti itu. Dukung aku ya teman-teman *lho koq malah kayak minta vote ;)

    Ketulusan para blogger memberikan aneka informasi yang bermanfaat itu sangat kurasakan sekarang. Aku yang baru mulai nge-blog hampir di penghujung 2012 telah menemukan warna pertemanan yang berbeda. Kompleksitas teknik nge-blog, cara menulis, cara berkomen, rutinitas blogwalking, ternyata memberikan irama tersendiri. Sama nikmatnya dengan komen-mengkomen di Facebook maupun polbek-twit di Twitter. Hanya menerapkan 'ongkos' niat tulus saja, pertemanan di mana pun pasti akan terasa sejuknya.

    'Meguru' nge-blog tentunya ya harus ke blogger kan ya? Aku mulai belajar ngeblog setelah kenal dengan sobat-sobat nulis di Semarang. Suatu anugerah luar biasa bisa berkenalan dan menjadi sahabat untuk mereka Itu anggapanku sih, entahlah.. semoga aku pun dianggap sahabat oleh mereka ;) Yang jelas, setelah belajar dan ikut-ikutan menulis, aku pun beberapa kali diajak kopdaran dengan para blogger. Memang sih tidak bersahabat dengan 1 orang saja, yang kentel, yang ke pojok mana pun pasti berdua. Persahabatan tidak sesempit itu kan pengejawantahannya?

    'Mentor sesempatnya' untuk proses belajar menulisku, sahabat bloggerku, yang rajin komen di postingan blogku ya ini deh. Sesosok perempuan cantik nan kalem. Kekalemannya ternyata tidak berbanding lurus dengan 'solah bawa'nya di tulisan hehehee.... Buku hasil tulisannya ngocol luar biasa. Di setiap kopdar selalu ada dia yang mengganjal mata *eh
aku dan Wuri di kopdar perdanaku dengan komunitas blogger Semarang


kembali aku dan Wuri di event kopdar di kawasan Kota Lama, Semarang

    Sahabatku ini selalu rajin ngajak kopdaran, bahkan kadang-kadang kangen tak bertatap muka dengan aku yang imut ini *imut sakmene njuk sing amit-amit koyo ngopo :D  Maka sapaan hangat sederhana seperti ini pun telah menyemarakkan persahabatan kami.
sapa hangat antar sahabat

     Tidak hanya cara ngeblog yang dia ajarkan padaku, tetapi juga aneka teknik menulis. Bahkan sempat aku punya kesempatan menulis duet bersamanya untuk salah satu event lomba menulis. Di sini nih tulisannya. Sayang sekali tidak menang. Yang dicari ternyata tulisan yang liris, eh kami malah pol-polan ngebanyol. Kasuuuussss....

    Tak terbatas dengan yang bisa bertatap muka alias kopi darat yang masuk sebagai kriteria sahabat blogger. Justru yang jauh kadang berasa dekaaaat sekali. Sapaan dan dukungan hangat yang diberikan bagaikan alunan gelombang hangat di jiwa *istilahe to reeeekkk... ;)  Contohnya yang terjadi saat ada kompetisi menulis yang diikuti oleh sesama blogger. Ternyata saling mendukung itu tetap tidak luntur loh. Kompetisi menulis itu kan bonus aktualisasi saja, pertemanan itu justru 'stream' yang lebih perlu untuk dinomorsatukan

saling dukung di lomba blog antara aku dan mbakyu Ika Koentjoro
.
    Lomba tetap saja lomba, namun kekariban sesama blogger tetap harus dijunjung tinggi. Aku banyak membaca tulisan di blog mba Ika Koentjoro setelah beliau menjadi pemenang di Give Away : Perempuan dan Bisnis yang kuselenggarakan. Selepas pengumuman pemenang, baru lah aku bisa mengikuti blog mba Ika dengan leluasa. Bahkan dari blognya yang keren lah banyak inspirasi menulis yang kudapatkan. Matur nuwun untuk ilmu dan persahabatannya ya mbakyu ;)

    Juga teman blogger yang tadinya tidak kenal sama sekali pun mau membantuku mana kala aku kebingungan saat akan pergi ke luar kota.
mba Phie yang sangat baik hatinya
     Alkisah ada wong ndeso Semarang yang bingung saat akan bepergian ke Jogja, nanti harus nginap dimana, perjalanannya menggunakan apa, dan sejuta pertanyaan wagu lainnya lah hehehee.. Mba Phie yang baru saja kukenal lewat Warung Blogger ternyata ramah luar biasa. Dengan sabar ikut membantu mencarikan akomodasi. Aku sebenarnya juga mencari sih via internet, tapi kan lebih afdol bila 'mendapat petunjuk' dari piyayi Ngayogja langsung kan? Aku kan tidak tau lor kidul kota itu. Banyak terima kasih untuk mba Phie, meskipun akhirnya perjalananku itu gagal total namun budi baik mba Phie akan selalu kukenang. Tunggu kehadiranku di kesempatan berikutnya ya mba *loh malah sok ngartis :)

    Jadi sungguh kan sahabat, bahwasanya jauh ataupun dekat tidak menjadi kendala dalam persahabatan antar blogger ini. Mirip-mirip dengan bis kota lah, jauh dekat ongkosnya sama :D. Nah apa bedanya sahabat blogger yang satu kota dengan yang ada di kota lain, bila indahnya persahabatan tetap bisa tertabur dimana saja. 

 Cerita ini diikutsertakan dalam Giveaway Ikakoentjoro’s Blog dan Lieshadie’s Blog  
Indahnya Persahabatan Blogger-”
>>>> Read More >>>>

Thursday, July 4, 2013

Jangan Pernah Takut Bermimpi, Bahkan Bila Itu Untuk Keseribu Kali Sekalipun

berani mimpi
    Siapa sih yang dari kecil tak punya mimpi? Sepertinya hampir sebagian besar anak mempunyai mimpi yang terpendam. Bocah dengan daya imajinasi dan kreativitas yang menggunung akan memiliki mimpi setinggi langit.

    Nah bagaimana denganku? Aku sendiri hampir-hampir sudah lupa pernah punya mimpi-mimpi yang indah.. Aneka cita-cita berkelebatan di masa lalu. Kadang tampak begitu nyata untuk diraih, namun kemudian seiring berjalannya waktu semua tampak menjadi kelabu. Mengapa bisa begitu?

    Ya, masa kecilku kujalani dengan sangat indah. Menjadi anak bungsu dari empat bersaudara, dengan jarak umur terpaut cukup jauh dari kakak-kakakku membuat limpahan kasih sayang dari orang tua tercurah begitu besar padaku, khususnya dari almarhum bapakku. Setelah 6 tahun tidak bercanda dan menggendong anak bayi lagi, kehadiranku membuat beliau sangat bersuka cita.

    Meskipun aneka fasilitas yang dulunya sulit diperoleh kakak-kakakku bisa kudapatkan dengan mudah dari alm. bapak, itu tidak berarti aku bebas dari berbagai kewajiban yang harus kupikul sebagai anak yang tumbuh di dalam keluarga yang taraf ekonominya hanya pas-pasan. Bersama-sama membersihkan rumah, mencuci, maupun memberi makan ternak. Saat aku kecil alm. bapak memiliki peternakan ayam petelur. Setiap pagi sebelum mandi kami berempat harus bergegas-gegas ke kandang ayam, memberi makan dan minum peliharaan kami itu. Bila tak bergegas, alamat bisa telat nanti sampai di sekolah.

    Selain kerja keras membantu orang tua dalam hal urusan rumah ini, kami semua juga dituntut untuk belajar dengan segenap daya upaya. Bahkan alm. bapak pernah mengatakan bahwa beliau tidak akan mau menyekolahkan kami bila tidak di sekolah negeri (saat itu sekolah negeri menjadi andalan bagi orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di sekolah bermutu namun dengan biaya yang ekonomis, tidak seperti sekarang, sekolah negeri favorit pasti biayanya selangit). Cukup keras bukan cara beliau mendidik kami?

jadi dokter ah biar keren :)  pic by credit
    Hal ini lah yang membuat aku bermimpi ingin menjadi DOKTER saat besar nanti. Aku selalu melihat penampilan dokter itu berbaju rapi, naik mobil, rumahnya bagus, pastinya kaya lah ya. Nah, kalau aku kaya pasti bisa membantu bapakku, biar bapakku tidak hidup susah lagi. Juga bila bapak atau ibuku sakit, tak perlu keluar biaya banyak, cukup kusuntik saja *eh  Mulia sekali ya cita-citaku itu :D Bapak bilang kalau mau jadi dokter sekolah harus pintar. Tentu saja aku menurut. Belajar mati-matian agar selalu punya nilai bagus. Saat itu nilai jelek sama dengan tidak bisa jadi dokter. Yah, pemikiran anak-anak yang masih polos dan lugu. Seperti membalikkan telapak tangan saja ya kesannya. Namanya juga bermimpi, maunya ya setinggi bintang dan mentari.

    Begitu masuk sekolah menengah, aku mulai terbangun dari mimpi. Rupanya mimpiku itu tak sesuai dengan bakat dan kemampuanku. Terutama saat di SMA, matematika eksakta, fisika, biologi dan kimia menjadi monster mengerikan bagiku. Selalu kepengin 'cabut' saja setiap kali ada pelajaran itu hehee... Ajang Porsiptar (Pekan Olah Raga Siswa Pelajar dan Taruna) yang diadakan rutin tiap tahun oleh Akpol (Akademi Kepolisian) menjadi ajang pelarianku. Yang ikut renang lah, atletik lah, bola voli, apa saja deh asalkan tidak usah masuk sekolah. Maunya sih setiap ada keempat pelajaran itu ya Porsiptar saja, biar bisa mbolos namun dapat ijin resmi dari sekolah. Modus banget ya :D

yok meng-account aja yok :)   gambar dari sini
    Cita-citaku pun berubah drastis. Mimpi masa kecil kubuang jauh-jauh seiring dengan kekecewaan yang harus bapak rasakan karena aku sudah tidak ingin menjadi dokter. Yaelah bapak, nggak jadi dokter kan bukan end of the world, begitu pikirku saat itu. Aku mengambil jurusan sosial dan mimpiku banting setir menjadi akuntan. Hitungan akuntansi terasa jauh lebih nikmat dibandingkan memesrai sinus cosinus dan tangen. Kembali aku belajar dengan keras agar nantinya bisa diterima di jurusan akuntansi di perguruan tinggi negeri favoritku.

    Tapi apa daya, kembali aku terjungkal. Baik melalui jalur siswa berprestasi maupun pendaftaran reguler, rupanya aku tidak berjodoh dengan jurusan idamanku itu. Aku tetap diterima di perguruan tinggi negeri namun pada pilihan kedua, alternatif jurusan yang disodorkan sobatku karena aku tidak punya mimpi cadangan. Aku hanya ingin masuk jurusan akuntansi, tidak ada bayangan mau masuk jurusan apa lagi selain itu. Lemes, lemes banget rasanya. Tapi mau bagaimana lagi, tetap harus kusyukuri bahwa aku masih bisa kuliah. Kembali teringat ucapan bapak yang tidak akan menyekolahkanku bila tidak masuk negeri. Bisa gawat kan, mana aku tidak terbiasa punya pekerjaan sambilan saat sekolah, jadi harus nurut kepada bapak untuk menjalani kuliah S1 di jurusan yang bukan idamanku ini. Padahal tadinya aku masih tetap ingin jadi akuntan dengan cara mengambil program diploma. Namun oleh bapak tidak boleh, beliau hanya mau menyekolahkanku di S1 saja. Yasud lah, as daddy said saja deh, padahal nanti setelah lulus D3 masih bisa melanjutkan ke S1 kan?

    Dua mimpi besarku telah runtuh. Aku akhirnya terbiasa untuk menerimanya. Tapi bukan berarti mimpi selanjutnya tidak tercipta. Mimpi akan selalu memicu langkah untuk terus bergerak dan berputar. Kini meskipun aku masih harus bergelut dengan 'eight to five', rutinitas ngantor dari Senin hingga Sabtu, bukan berarti mimpi menjadi bos bagi diri sendiri padam begitu saja. 

    Sejak tiga tahun yang lalu aku mewujudkan mimpi kecilku untuk jadi 'pengusaha' melalui kolaborasi dengan kakak tercinta dalam pembuatan dan penjualan aksesoris dari rajut. Bermula hanya dari aksesoris kecil seperti ini :
pernak-pernik lucu rajutan untuk anak-anak
    Hingga akhirnya permintaan makin banyak dan bervariasi. Kami pun mulai merajut dengan variasi model yang makin beragam. Segmen pun bertambah, tidak hanya untuk anak-anak, remaja dan perempuan dewasa pun ternyata juga menyukai kecantikan rajutan kami. Alhamdulillah, meskipun masih usaha rumahan tanpa karyawan, margin yang kami peroleh dapat dipergunakan untuk memutar modal kembali.

'virus' rajut mulai menyebar kemana-mana :D
    Semula baru berani menawarkan produkku pada teman-teman sekantor. Lama kelamaan mulai melebarkan sayap berdagang online melalui sosial media. Sampai saat ini kebanyakan customer adalah teman-teman lama, hanya 'sekian' persen yang kenalan baru. Untuk ke depannya aku bermimpi bisa 'mengepakkan sayap' selebar-lebarnya untuk usaha yang kubangun dari nol dengan segenap hati  ini. 

Ya, janganlah pernah berhenti bermimpi, Kawan. 
Meskipun hingga ke 999 kalinya tumbang, 
mimpi keseribu akan tetap kaujelang.

    Saat ini mimpi yang kuat terpatri adalah keinginan untuk pergi ke tanah suci, walaupun entah itu kapan nanti. Semoga Allah mengijabahi



   
>>>> Read More >>>>

Wednesday, July 3, 2013

[Mitos] Acungkan Saja Munthu-mu

si munthu (pic by credit)
    Ada yang tau arti munthu? Yup, yang asli oran Jawa pasti tau lah. Munthu itu adalah soulmate-nya si cobek. Nama lainnya adalah ulekan, uleg-uleg atau alu. Tetapi lebih mudahnya kusebut munthu saja ya. 

     Tau juga kan kegunaan munthu dalam keseharian? Si munthu ini besar jasanya loh, apalagi bagi penggemar berat sambal asli, alias sambal racikan sendiri. Namun kini pamornya sudah menurun seiring tingginya permintaan sambal di warung-warung penyedia ayam goreng, lele goreng, ayam bakar, dan tempe / tahu penyet. Kita sudah tak perlu susah-susah lagi untuk menguleknya sendiri.
    Sekedar untuk mengulek bumbu pun kini munthu dan cobek sudah banyak ditinggalkan. Bumbu yang berupa biji-bijian seperti ketumbar dan merica saja sekarang sudah banyak yang tersedia dalam bentuk bubuk. Bahkan satu set bumbu instan kini telah banyak dijumpa, sehingga nona-nona yang tak mau tangannya beraroma ketumbar plus bawang putih, ataupun ibu-ibu muda yang waktunya sudah dipadati dengan berbagai aktivitas, bisa menyiapkan tempe, tahu dan ayam goreng yang sudah dibalur bumbu instan tadi dengan cepat. Juga untuk bumbu masakan lain yang lebih rumit seperti rawon, gulai, lodeh dan tumis. Sekarang sudah serba instan. Tidak mau buang-buang waktu.

    Kasihan juga ya nasib si munthu tadi? Siapa lagi yang masih setia menggunakan jasanya? Padahal di daerah seputar Magelang dan pasar-pasar tradisional sini, cobek dan munthu pasangannya masih banyak dijual. Kemungkinan besar pengguna setianya ya para pedagang lauk. Mereka tetap loyal pada si munthu. Benarkah begitu? Hanya sampai di situ saja peran si munthu? 

    Tidak juga. Masih ada loh satu fungsi munthu yang tetap dipertahankan dari generasi ke generasi. Setiap rumah masih membutuhkan keberadaan munthu. Sesuai dengan mitos lama Jawa ini : athungi munthu wae ben gek ndang bali. Nah loh, apa pula itu artinya? 

    Sebelumnya mari kita lihat dulu kejadian sehari-hari yang kemungkinan kerap kita alami. Saat ingin istirahat bersantai setelah suntuk seharian bekerja atau kuliah atau sekolah, tiba-tiba ada saudara atau kenalan yang datang bertandang ke rumah. Tidak hanya setengah jam ataupun satu jam jatah bertamu. Kadang-kadang hingga berjam-jam si tamu tetap keasyikan nongkrong meskipun kita sudah ingin segera merebahkan badan lelah kita di pembaringan. 

    Di sinilah jasa munthu sangat berperan tinggi. Mitos Jawa di atas tadi memiliki arti : acungkan saja ulegan agar segera pulang. Wah, bagaimana pula itu penjelasannya. Menurut simbah, bila ada tamu yang tidak kunjung pulang alias lama banget waktu bertandangnya, kita di dapur bisa mempraktekkan trik sesuai mitos warisan para leluhur (ini sesuai kata simbah lho ya, tidak ada daftar pustakanya). Ambillah munthu dan lakukan gerakan mengacung-acungkan munthu itu ke arah lokasi tempat duduk si tamu. 

    Simbah sangat percaya pada mitos ini. Beliau sering mempraktekkannya. Diulang-ulang hingga berkali-kali. Kadang-kadang kulihat simbah melakukannya sembari komat-kamit, entah japa mantra apa yang diluncurkan beliau untuk memberikan aura gelap pada si tamu tadi. Terus apakah tamunya memang jadi cepetan pulang? 

    Ya tentu saja tidak lah. Si tamu tetap enak-enakan duduk, bercerita, menghabiskan camilan dan bergelas-gelas teh tanpa menyadari bahwa si tuan rumah sudah tidak berminat lagi melanjutkan obrolan. Menurut opiniku secara mendalam dan empiris, mitos ini akan sangat berhasil manakala kita bawa munthu ini langsung ke hadapan si tamu dan mengacungkannya tepat di depan wajahnya. Bila tamu itu tak kunjung pulang juga, berarti dia memang tidak punya perasaan. Sama mati rasanya dengan si tuan rumah yang mengacungkan munthu tadi 

kalem saja, jangan sampai munthu-nya tugel/patah (sumber dari sini)

>>>> Read More >>>>