Pages

  • Home
  • About
  • Contact

Saturday, March 29, 2014

Luka Itu Menguatkanku

Luka itu menguatkanku, terdengar berlebihankah?

Untuk sebagian yang hidupnya datar, atau bahkan memiliki kecenderungan bahagia selamanya, tentunya susah ya membayangkan hal itu. Luka kok menguatkan. Luka itu ya menyakitkan, mengenaskan, bahkan seringnya menghancurkan. Padahal sesuai dengan rumus keberagaman rasa yang dialami manusia, ada duka ya ada pula suka, saat ngganjel hilang legalah yang datang, ada tangis ada tawa, amarah yang berakhir dengan peluk, dan masih banyak fragmen kecil manusia yang silih berganti menyambangi.

Meskipun terbilang tidak menderita, masa kecilku kulalui dengan banyak luka. Luka yang dulu terasa perih di kalbu, namun sekarang justru menguatkanku. Membuatku bersyukur akan refleksi masa lalu yang membuatku tahan banting, tetap waras di antara jutaan 'kegilaan' yang terus menerus kulakukan kini :)

Saat anak lain sebayaku dengan mudah menginginkan sepeda onthel, aku harus tekun belajar, mengalahkan ego untuk selalu bermain bersama teman-teman sekampung. Demi apa coba? Ya demi sepeda onthel tadi. Aku hanya bisa mendapatkannya bila mendapat ranking di sekolah. Paling tidak rangking 3 lah.

Saat anak lain masih bergelung selimut menikmati Minggu pagi yang indah, aku sudah harus berendam air kolam yang dingin. Bergulat dengan kantuk, malas, dan perasaan teraniaya. Ya, aku merasa teraniaya karena sejatinya aku tak suka disuruh berenang. Apalagi loncat indah yang dengan sangat terpaksa kulakukan. Meloncat dari papan 1 meter maupun 3 meter, terpelanting dan pedas menggigit punggung manakala loncatan tak sempurna, dipikir enak apa ya mengalami itu di usiaku yang baru 6 tahun?

Ketika teman sebayaku bebas memilih kegiatan kesukaan mereka, aku harus menelan barisan kata yang sudah siap terlontar manakala harus menekuni cabang olah raga individual. Padahal dalam hati aku sangat suka volley, olah raga tim yang sangat menyenangkan itu. Akhirnya, aku terus terkungkung di lintasan kolam renang, papan 1 meter dan 3 meter, track atletik untuk sprint maupun jalan raya untuk lomba marathon. 

Kala duduk di bangku SMA, masuk ke jurusan IPA merupakan impian tertinggi anak usia belasan. Nantinya mau jadi dokter lah, arsitek, insinyur sipil, bayangan paling umum dan harapan paling keren untuk masa depan. Harapan itu pula yang tersemat di pundakku. Sayang sekali, di usia itu aku sudah berani melakukan pemberontakan. Buat apa susah susah belajar segala rumus yang membuat pusing kalau hanya dengan sekali membaca berbagai buku IPS ulanganku bisa dapat seratus. Kan lebih enak unggul dengan usaha minimal. 

Apa coba maksud dari semua tuturan di atas. Mengeluh? Mengutuk? Menyesali nasib?

Tentunya tidak. Justru kini aku sangat bersyukur mendapatkan pelajaran hidup yang sangat lengkap dari semua kejadian di atas. Luka yang diinjeksikan ke dalam diriku oleh seseorang yang bahkan tidak pernah kudoakan dulu itu. Luka itu menguatkanku. Siapakah dia yang tega menorehkan luka itu?

Sebenarnya kurang ajar sekali diriku mengisahkan semua itu dengan embel-embel luka. Bapakku. Ya, bapakku lah yang kutempatkan sebagai aktor antagonis saat aku sedang melakoni semua kejadian yang kunamakan 'luka' tadi. Padahal bila 'agak sehat' sedikit saja, harusnya aku bersyukur sekali saat itu. Bersyukur untuk semua kegigihan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup, yang diajarkan tidak hanya dengan cuma-cuma, malah ada bonusnya banyak sekali. Bonus cinta, kasih sayang, prestasi, ketabahan dan stamina tubuh yang jauh di atas rata-rata anak perempuan pada umumnya.

Duh bapak, aku bisa begini semua karena jasamu. Jasamu yang sama sekali belum bisa kubalas saat Sang Pemberi Hidup telah memberikan jatah hidup untukmu di dunia yang lain tahun 1996 dulu. Sekarang aku bisa apa? Bisa menyesali segala rasa pahitku padamu?

Ah, payah sekali aku waktu itu. Merasa tersiksa kauajar berenang, tapi tertawa bangga luar biasa saat guru olah raga SD memujiku yang sudah mahir berenang 4 gaya di kelas IV. Merasa teraniaya saat latihan loncat indah dari jam dua siang hingga Maghrib, namun kembang kempis hidungku tanda besar kepala saat teman-teman SDku mengelu-elukan keberangkatanku mengikuti tim atlit Jateng ke Jakarta. Menggerutu di belakangmu gara-gara kaupaksa menjadi dokter, tapi malah ngikik-ngikik tak jelas karena bisa dengan mudah dan tanpa usaha yang berarti bisa menjadi juara kelas di jurusan IPS.

Maafkan aku, Bapak. Dulu saat dirimu masih berjaya mengantarkan banyak anak orang berprestasi di beberapa bidang olah raga, anakmu ini justru menjauhimu. Latihan pencak silat di perguruan yang kaupimpin  dulu amat sangat kutolak karena aku takut tubuhku akan memar tergampar. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, bukankah akan sangat berguna ya menguasai ilmu pertahanan diri seperti itu. 

Masih teringat hingga kini saat suatu hari bapak melakukan sidang terhadapku. Dua nilai E muncul saat semester satu di bangku kuliah. Kegemaran baruku keluyuran di gunung membuatku sering absen kuliah. Indeks prestasi nyaris nasakom (nasib satu koma) hampir saja kudapat. Sebenarnya bukan aktivitas berpetualangnya sih yang membuatku malas belajar. Tidak sreg dengan jurusan yang kuambil inilah yang membuatku melawan. Aku pengin kuliah di UGM, tapi bapak tidak setuju. Akhirnya kuliah di Undip, penginnya di akuntansi. Berhubung gagal di pilihan pertama, aku masih bisa kuliah di jurusan lain sesuai pilihan yang kedua. Saat itu aku ngotot mau daftar yang D3 saja, kan lebih enak cepat lulusnya, bisa segera bekerja. Bapak tidak setuju, tetap harus kuliah S1. Duh kuno sekali. Kuno dan egois, memaksakan kehendak. Itu kata hatiku dulu.

Kini baru bisa kusyukuri semua yang telah lalu. Coba kalau dulu aku jadi kuliah di Yogyakarta, siapa pula yang akan menunggu bapak saat beliau terbaring lemah di rumah sakit. Hanya ibu yang ada di rumah, semua kakakku telah 'mentas'. Aku jadi teringat saat sakarotul maut menghampiri bapakku tercinta, hanya aku yang ada di sampingnya. Sungguh cinta bapak yang luar biasa diberikannya padaku sejak aku lahir hingga beliau menutupkan mata. Cinta seorang pejuang sejati untuk anak-anaknya. Aku adalah sosok seorang anak yang pada usia remaja tak mampu membalas cinta pahlawan sejatiku itu. Padahal sejak aku bayi bapak sayang luar biasa kepadaku, secara aku ini anak bungsu yang usianya terpaut cukup jauh dari ketiga kakakku. Sungguh aku ini anak yang kurang bisa bersyukur. Baru sadar setelah ditinggal bapak pergi. Payah :(

Kerasnya dunia kerja yang kuhadapi sanggup kutaklukkan, alhamdulillah berkat didikan bapakku yang memang keras luar biasa itu. Bahkan saat ini aku sering tersenyum geli, mengingat ke belakang, ke beberapa tahun sebelumnya, saat aku masih terseok-seok mengatasi potensi high temper yang ada di diriku, yang membuatku tampil sebagai mandor galak sekaligus petarung sia-sia terhadap pimpinan. Pimpinan kok diajak 'duel', kemanaaaaa pikiran sehatku waktu itu :)

 saat motor touring ke Bledhuk Kuwu

Kesederhanaan yang diajarkan oleh bapak juga masih membekas hingga kini. Untuk ukuran dosen golongan IVB, bapak tidak memiliki mobil seperti umumnya rekan-rekan dosen lainnya. Rumah pun masih sederhana, bahkan separuh bagian masih semi permanen. Kadang aku berpikir apa yang salah dengan bapakku. Atau mungkin seharusnya aku berpikir sebaliknya ya, apa yang salah dengan dosen lainnya sehingga mereka bisa lebih kaya dari bapakku ;)  Tanpa bermaksud mendiskreditkan orang lain, aku cuma bisa menyimpulkan bahwa bapakku 'nggak doyan duit'. Ajaran menghargai sesuatu tidak dari sisi materiil ini yang masih kuingat hingga sekarang.

There will always be a lesson even in a very bad episode. Kadang cepat dipahami, namun lebih banyak yang terlambat menarik hikmahnya. Aku ada di pihak kedua. Sangat terlambat memahami. Namun tetap saja syukur tiada habisnya kupanjatkan di tiap doa yang terkirim untuk pahlawan hidupku. Aku bersyukur memiliki cinta yang tertuang bukan atas nama belas kasihan. Bapakku yang kuanggap sangat tega, terbukti telah sanggup melewati perjuangan tersendiri untuk mengalahkan rasa kasihan pada anak-anaknya, memilih untuk keras dan disiplin demi kesiapan aku dan kakak-kakakku menghadapi kerasnya hidup.

Matur nuwun nggih, Pak, for everything. Semoga tauladan yang kauberi bisa kuterapkan pada anak-anakku kelak meskipun tak sekeras yang kaulakukan. Semoga tak akan ada lagi kata-kata luka itu menguatkanku. Kuharap anak-anakku kelak akan menjadi orang yang peka bersyukur, jauh lebih cerdas dari ibunya yang lamban belajar ini, sehingga nantinya akan selalu berucap : cinta ini cukup untukku.




Note :
- pinjam gambar Everybody Hurts dari younie's heart talk
 
>>>> Read More >>>>

Tuesday, March 25, 2014

[WW] Behind The Glass

A day without dad, we walked around the heart of our city. Windows shopping, walking, buying our favourite books, then... 

I always like pictures of my kids, whatever the poses. I took these pictures while they're having lunch.

mmm... yummyyyy...





my girl & straws



heavenly iced tea


a little boy's pleasure


I'm full, Mommy....


Do you have something to be wordless showed?

Come join me by clicking this button : 



>>>> Read More >>>>

Tuesday, March 18, 2014

[WW] New Stuffs

There will always be something around, especially new stuffs, even in bed time.

My four years old cute son, just got a new brush and a blue toy car from his aunty. He brought them whereever.

errr...what should we call it? a 'ngglimpang' toy car? ;)


two new blue stuffs accompanied his dream


The world is in my hand :)


Blue brush beside a cute thumb


My lovely boy, have a nice dream. Mommy will be beside you, though those new stuffs are more important for you :)



Do you have something nice to be wordless? Share with me, please.

--> Click this button and let's joy our ride through pictures :)

>>>> Read More >>>>

Saturday, March 15, 2014

I'm not a geek, I'm an accessories' addict

Memandangi kumpulan high heels di lemari sepatu membangkitkan energi baru. Itu kata Athaya di novel Geek In High Heels karya Octa NH terbitan Stiletto. Sebegitunya yaaaa...

Siapa sih Athaya itu. Well, sebaiknya kamu baca chicklit keren yang seger banget penyampaiannya ini. Athaya si tokoh utama, adalah seorang geek yang luar biasa addict pada sepatu high heels. Aneka koleksi berbagai warna dipajangnya di lemari khusus. Saat bad mood, memandangi dan mencium bau sepatu itu dapat menjadi semacam self healing untuk Athaya.

Berlebihan kah addiction semacam ini?

Hmm..bingung juga menjawabnya, terutama karena I'm not a geek like Athaya. Aku hanya seorang ibu biasa yang berevolusi dari seorang perempuan tomboy yang akhirnya melek dandan gara-gara bekerja kantoran. Ya masa sih berbaju ala kadarnya menggunakan jeans sobek-sobek dan kaos oblong seperti kesukaanku dulu jaman masih gadis. Ish issshhh... bisa gempar nanti seisi kantor ;)

I'm not a geek, I'm an accessories' addict. Yup, aku bukanlah si aneh pengutak-atik aneka jenis kode sulit di komputer seperti Athaya. Aku hanya seorang ibu bekerja yang makin hari makin menyadari ketergantunganku pada yang satu ini.


Ya, aku tak terpisahkan dengan aneka koleksi aksesoriku. Baik dari rajut maupun pernak-pernik lainnya. 

Berawal dari bisnis pribadi pembuatan pernak-pernik dari rajut, aku tak sekedar mempromosikannya agar laris manis di pasaran. Aku benar-benar IN LOVE dengan aneka penghias hijabku ini. Hampir tak pernah aku lepas dari mereka.

selalu ada bros rajut manis mendampingiku :)

berdua dengan teman pun juga aksesoris tak pernah lepas


Bahkan saat ramai-ramai pun tetap cantik dengan bros yang cetar.
Lihat, teman di sebelahku pun mulai terinfeksi virus bros rajut :)

Rasanya enggak lengkap banget deh hidupku kalau tak ada bros / aksesori yang menyertai langkahku. Yah, seperti Athaya lah ya yang tidak pede kalau tak menggunakan stiletto cantiknya. Aku pun juga begitu. Berasa something missing deh sehari saja tak mengenakan aneka aksesoris tercintaku yang unyu unyu itu.


Memandangi koleksi cantikku ini setiap akan berangkat bekerja sungguh menimbulkan energi tersendiri. Nah, itu kalau aku lho yaaa... Apakah sahabat-sahabat blogger lainnya juga punya cerita yang sama denganku? Yuk share yaaa...


>>>> Read More >>>>

Wednesday, March 12, 2014

Semua berkat Sariayu

Nggak kebayang deh kalau ditangani oleh yang tidak profesional. Untunglah, semua berkat Sariayu.

Ceritanya begini nih. Ada emak-emak dari desa, rempoooonggg bener mau berangkat ke ibukota. Yang takut kesasar lah, takut dijahatin orang lah, sampai takut diculik. Iyaaa...diculiiikk... *pasti langsung pada ngikik, mana kuat nyulik emak itu, emangnya bawa capitan raksasa :)

Ngapain juga sih tuh emak pergi ke ibukota? Mendingan kan di rumah saja. Adem ayem sejahtera, nggak usah pusing-pusing melawan ke'parno'annya merambah ibukota.

Looks simple. But also complicated. Halaahh.. gimana tuh maksudnya.

Emak ini alias si penulis blog, atau lebih tepatnya dirikyuuuu....ngiler berat euy gabung dengan sekumpulan emak blogger kece bin keren. Di Jakarta tanggal 9 Maret 2014 kan mau ada penganugerahan Srikandi Blogger. Jelek-jelek gini, penulis blog ini masuk 50 finalis Srikandi Blogger-nya KEB loooohhh.... *bletaaakk... disambit duit receh ama yang baca tulisan ini :)

Belum lagi ada hal lain yang zuuupeeerr penting. Emak ndesit yang kesehariannya nggak pernah pake rok maupun dandan ini akan menjadi model fashion show loh di perhelatan itu. Pesyeeenn sooooo mbooookkk... gimana nggak euforia kan caranya begitu. Lha wong sehari-hari cuma bisa pake sandal gunung, yaah palingan kalau agak feminin sedikit ya pake sandal jepit lah *loh. Menjadi salah satu emak model (makmod) di perhelatan istimewa ini sungguh merupakan suatu kesempatan yang jarang terjadi.

Nah, naaahh.... mulai deh panik emak ini. Harus mencari kelengkapan ke mana. Paling tidak kan harus punya high heels atau sepatu lainnya yang beradab. Masak model fashion show pake sepatu kuda, gak mungkin kaaaannn... Untunglah, semesta masih meridhoi, dapet pinjeman euuuyyy.... *ngirit tetap harus menjadi prinsip ;)

Urusan high heels sudah beres. Baju? No need to worry, ntar kan mengenakan baju-baju keren dari Hijabers Mom Community (HmC). Meskipun tidak mengikuti sesi fitting, aku pasrah saja deh, percaya dengan intuisi tajam makpan Riski Fitriasari dalam memilih yang terbaik untukku. Taunya datang, pake baju, melenggang. 

Lalu...laluuu... urusan dandanan gimana dong. Kan aku tidak bisa dandan. Yah, paling-paling bisanya menggunakan pelembab, bedak dan lipstik. Urusan lain-lain enggak mudeng. Untunglah semua kepanikan ini terjawab. Nanti di pagelaran tersebut, semua makmod akan dirias oleh ahlinya. Ya, kami semua akan cantik merona dengan sentuhan Inspirasi Borneo, trend terbaru tahun 2014. Semua berkat Sariayu


Tibalah waktunya aku dirias. Inilah penampakan sebelum dirias.


 Mbak-mbak yang dari Sariayu itu sungguh mantep. Oles, sapukan, tarik garis, jadi deeehh mukaku *eh  Meskipun mungkin periasku geli juga kali ya menangani emak-emak yang nggak pernah pakai bulu mata cetar membahana kayak gini :

courtesy of Indah Nuria Savitri

Belum lagi saat diberi eye liner. "Lihat ke atas, Mbak."  "Lihat ke bawah, Mbak." Udah, nurut aja lah apa kata ahlinya. And, jadilah seperti ini. Tadaaaaa...

courtesy of Indah Nuria Savitri

Omaigooott... subhanallah, bisa gitu ya make over nan cetar begini. Antara percaya dan tak percaya melihat pantulan diri di cermin. Sungguh luar biasa nih Sariayu. Mana make up ini nggak luntur pula setelah berjam-jam. Padahal asli loh, saat pagelaran serasa wajahku gerah luar biasa. Kubayangkan pasti make up-ku sudah luntur semua. Ternyata tidak loh. Dari pukul delapan pagi aku didandanin hingga tiba waktunya fashion show, riasanku tidak berubah. Mantep bener deh Sariayu.

courtesy of Uni Evi Indrawanto

courtesy of Indah Nuria Savitri


in stage
courtesy of Maria Citinjaks


lady in purple
courtesy of Rudi Frakarsa


Aku dengar juga sih bisik-bisik tentang nilai riasan ini yang we o we banget jumlahnya. And I'm really feeling blessed to have such opportunity. Yup, kapan lagi ada kesempatan istimewa begini, didandanin oleh profesional make up artist. 

Thanks for KEB untuk kesempatan yang diberikan melalui panitia Srikandi Blogger 2014. Terima kasih juga untuk HmC sebagai penyedia gaun luar biasa yang kukenakan hari itu. And of course for Sariayu, untuk make up yang telah mengubahku menjadi satu sosok yang sangat berbeda itu. Banyak yang bilang tidak mengenaliku (bila tidak melihat postur tubuhku hihihiii...). Yes, semua berkat Sariayu.


>>>> Read More >>>>

[WW] What should I do with them?

Do you have something in refrigerator but dunno what to do? Uhm, maybe it's only me in this world that often faced this situation ;)

Then, I only can pray. A little wish for goodness of my family. Hope they can accept my cooks *lebayyyy...

 a yummy margarine


garlic


  
 chicken fillets


meat balls


fresh vegetables


Aww... what should I do with them? ;)



Come join Wordless Wednesday, kindly click this button : 

















>>>> Read More >>>>

Wednesday, March 5, 2014

[WW] In Memory

Dunno what to say... How a nice one became like this.

cute spongebob cake



funny eyes



feet on choc



sexy neck



sweety green



how cud be like this? :(


All gone, now it's only in my memory.




>>>> Read More >>>>

Monday, March 3, 2014

Si Pencakar Langit Yang Dahsyat




Sungguh baru terlintas dalam pikiranku betapa hebatnya si semut raksasa ini menantang angkasa. 
Sungutnya seakan siap mencakar langit dan merobek awan. 
Gagah perkasa bertengger di atap Gedung Marabunta yang ada di kawasan kota lama. 
Foto ini kuambil di suatu sore menjelang Maghrib, saat melintas sembari bersepeda motor dengan putri tercintaku.


>>>> Read More >>>>