Pages

  • Home
  • About
  • Contact

Monday, April 29, 2013

Sudahkah Aku Menjadi Ibu Yang Baik ?

     Menjadi seorang ibu itu simpel. Ah masa? Bukannya malah kompleks sekali permasalahan yang harus dihadapi saat diri kita sudah menjadi ibu? Bagiku kedua statement di atas tidak ada yang salah. Koq bisa begitu? Bukankah seharusnya ada kebenaran yang hakiki atas suatu keadaan yang terjadi pada diri manusia di dunia.
     Ah rumit sekali bila harus memperpanjang landasan pemikiran dari kedua statement tadi. Buatku, kompleksitas permasalahan yang dihadapi seorang ibu adalah asam garam kehidupannya. Tanpa asam dan garam,sayuran ataupun lauk pauk tak akan terasa nikmatnya *khusus untuk sayur asam lho :)  Begitu juga dengan keindahan menjadi ibu yang akan terpeta sempurna dengan segala detail yang harus dijalani sehari-hari bersama keluarga dan buah hati tercinta. 
    Tetapi menjadi seorang ibu itu juga simpel loh. Nggak percaya? Saat kita (kaum ibu) terdeteksi terlambat datang bulan, apalagi untuk pertama kalinya, apakah yang terlintas di benak kita? Secara normal pasti jawabannya adalah bahagia. Simpel kan? Wong cuma dinyatakan hamil saja koq bahagia. Alasan di balik kebahagiaan itu memang panjang berentet, namun muaranya tetap pada kebahagiaan itu sendiri. So simple.
     Pun saat bayi tersebut kemudian lahir ke dunia. Wajar kan sudah hamil 9 bulan terus bayinya lahir, apanya yang aneh? Tapi kebahagiaan yang dirasakan oleh sang ibu terasa begitu sempurna dalam kesederhanaan saat memandang wajah bayinya yang bulat, merah atau bahkan keunguan, masih keriput karena lama terendam dalam ketuban. Bahagianya sang ibu ini pun simpel saat mampu memaknainya dengan segenap hati tanpa perlu pusing-pusing memikirkan nanti mau duduk susah gara-gara jahitan masih baru, ataupun belum bisa bangkit karena bekas section masih nyeri. 
     Selain simpel dan kompleksitas kebahagiaan itu, mari kita bersama renungkan tentang amanah seorang ibu yang kita emban ini. Sudahkan saat ini kita menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kita. Aku terinspirasi sekali dengan tulisan beberapa teman blogger yang saat ini tidak bisa disebutkan satu persatu, namun salah satunya adalah artikel Apakah Saya Sudah Menjadi Ibu Yang Baik dari mba Evi Indrawanto. Apalagi di salah satu komennya di tulisan tersebut mba Evi menyatakan seperti ini :
     Yup, bener banget, we shouldn't stop to be a student of mother class in our life. Tak pernah ada yang sempurna dari apa yang telah kita lakukan, terutama saat kita menjalankan peran sebagai ibu. Adaaaaa saja yang kurang. Yang terlalu galak pada anak lah, terlalu khawatir saat ananda melakukan sesuatu yang kita anggap berbahaya, yang tidak adil membagi perhatian kepada buah hati (untuk yang memiliki buah hati lebih dari satu). Ya, masih banyak aneka kekurangan seorang ibu (terutama diriku), bila dituliskan mungkin long listnya bisa bersaing dengan naskah novel ;)
     Paling sering terjadi padaku adalah 'parno' alias paranoid saat anak sakit. Saat ini aku memiliki dua orang anak yang manis, lucu, pintar, cantik, ganteng, cerdas (dan berderet-deret sebutan unggulan untuk anakku, khas banget ya, semua ibu pasti lebay begitu kan? sebutan kan bermakna harapan, so jangan pernah menyebut anak kita dengan 'prestasi' sebaliknya macam nakal, tak tau aturan, berisik dsb). Yang pertama adalah putri lincah dengan jutaan vocabulary yang lancar dia lantunkan saban harinya (enggak boleh bilang ceriwis yaaaa...), hampir 9 tahun usianya. Sedangkan adeknya cowok imut berkulit putih, berusia 3.5 tahun. Nah seperti kebanyakan balita, si adek ini juga masih sering terhinggap panas demam bila kondisi tubuhnya menurun ataupun kami sekeluarga ada yang terjangkit flu. 
aku dan jagoan kecilku
     Kemarin baru saja si adek terserang panas mendadak, sepertinya sih mau pilek. Pagi masih asyik jalan-jalan di seputar kampung, ikutan ayahnya yang sedang sibuk kerja bakti hari Minggu. Eh koq begitu bangun dari tidur siang badannya panas banget. Udah deeehh jadi pendiem, ngak ngik ngak ngik melulu (terjemahan ngak ngik : merengek), tak mau makan. Sembari kuberi obat penurun panas, malamnya tak bisa tidur nyenyak, musti bolak balik ngolesin air hangat yang dicampur perasan jeruk nipis (jadul banget ya caranya). Belum lagi tiap kali memandang matanya yang sayu, mungkin gara-gara merasakan pusing yang luar biasa, langsung aja deh banjir air mata sendiri. Enggak tega banget melihat anakku seperti itu. Andai bisa panas badan dan rasa pusing itu ditransferkan ke ibunya, pasti 100% ikhlas buat menerimanya asalkan anak kita tidak sakit. Betul begitu ibu-ibu? Alhamdulliah, paginya justru si adek yang bangunin emaknya, udah ngoceh ngalor ngidul sembari pegang mobil-mobilannya di lantai. Bahagiaaaaa banget ngeliat jagoanku sudah sehat kembali meskipun resikonya aku harus terkantuk-kantuk sepanjang hari di kantor. Simpel kan bahagianya seorang ibu itu? Lihat anak kita sehat segar bugar aja sudah bersyukur banget.
      Pengin cerita yang lain lagi nih, semoga tidak bosan mengikutinya ya pembaca :) Anak pertamaku, Vivi punya kecerdasan emosi yang luar biasa. Beberapa kali memberikan hadiah tak terduga-duga sepulangku dari kantor. Salah satunya adalah dia bela-belain nyisain uang sakunya untuk membeli bunga warna pink, yang kemudian di semprot dengan splash cologne miliknya. Wangiiiiiii banget jadinya. Subhanallah, sampai berkaca-kaca saat kuterima bunga itu. Pintar sekali sih ini sulungku, memeriahkan hatiku yang baru saja pulang kantor. Bangga dan bahagia luar biasa, rasa bahagianya jauh melebihi saat dia dapet ranking di sekolah. Selain edisi bunga pink tadi, si kakak juga pernah membuatkan sepasang cincin dan gelang dari monte. Itu terjadi saat dia lagi gemar-gemarnya belajar merangkai monte-monte. Kakak tau banget kalau ibunya bukan penggemar perhiasan emas. Melalui pemberian ini kakak memaksa ibunya untuk sedikit memiliki perhiasan, biar jari dan pergelangan tangan tidak polosan aja. Aaaahh... luar biasa sekali engkau cantikku cintaku sayangkuuuu :)
a beautiful pink rose from a beautiful-lovely-little lady
     Yang sering terjadi adalah kurang adilnya aku bersikap kepada si kakak. Kakak secara terang-terangan complain kalau "ibu lebih sayang ke adek dibandingin ke aku". Berasa tertampar sandal deh saat itu. Well, benar juga sih, kadang-kadang aku berpikir memang sebagai kakak dia harus banyak ngalah ke adeknya. Padahal ini sama sekali tidak benar. Tidak menyehatkan mental mereka berdua, si kakak bisa merasa tertekan, di lain pihak si adek bisa manja dan meraja lela kepada kakaknya. It's my big homework to do, cateeett...
    Kalau ibu-ibu yang lain punya pengalaman bagaimana? Sudahkah merasa menjadi ibu yang baik? Bagi-bagi pengalamannya donk biar aku juga bisa terus belajar meningkatkan kemampuan sebagai ibu. Ya, begini ini ya kalau tidak ada sekolah menjadi ibu. Bikin pesawat terbang aja ada sekolahnya, masak jadi ibu yang semestinya kontribusinya tinggi untuk bangsa malah tidak ada sekolahnya hehehee... Mari belajar terus sepanjang hayat kita, ingat... ibu adalah seorang murid abadi dari anak-anaknya, seperti kata mba Evi Indrawanto tadi. Keep spirit, moms 


>>>> Read More >>>>

Sunday, April 28, 2013

Cenat Cenut Reporter


reporter handal by credit
   Keren yak pastinya bila dirimu jadi seorang reporter? Pan kudu pinter tuh, mahir berbicara dan memancing informasi dari narasumber maupun endus-endus sumber berita yang lain. Tul kan, bukankah begitu lazimnya reporter? Harus sekolah di mana sih untuk menjadi reporter handal?
    Itulah pertanyaan mendasar dan yang menjadi alasan pertama saat teman sebangkuku sekaligus sohibku menyodorkan pilihan untuk masuk jurusan Komunikasi saat lulus SMA dulu. Padahal tadinya aku pilih jurusan lain loh, eh dibilang ama dia itu Madesu. Masa depan suram booowww...
Olala, es teh bin sok teong amat yak temenku ini. Namun terlepas dari kesoktauannya itu, akhirnya aku ikut-ikutan memilih jurusan yang dia sarankan. Pada saat pengumuman UMPTN (keliatan banget sekolahnya jaman tahun Flinstone) berdebar-debar kami berdua menyimak pengumuman melalui surat kabar lokal. Alamak, yang keterima malah aku, adapun sohibku tertunduk galau karena nomornya tidak ada di daftar. Wah, kagak bertanggung jawab nih bocah, nyuruh-nyuruh aku masuk ke jurusan yang tak kuketahui rimba belantaranya, malah dia sendiri tidak keterima. Apes banged dach... *eh yang apes sebenernya siapa ya? aku atau dia?
    Dan hari-hari pun terus berlalu, seiring irama waktu.... *wooiii... ini ikutan GA malah nyanyi ndiri :D Aku pun menjalani hari-hari nan ceria penuh suka tawa dan canda, menganga tak percaya akan padatnya aktivitas perkuliahan. Terutama yang berkaitan dengan jurnalistik. Di semester dua dan seterusnya aneka kuliah jurnalistik datang silih berganti mendera. Padahal ya, terus terang aku paling keder kalau harus nyelesaiin tugas-tugas model begini. Apalagi yang namanya reportase tuh, hwaduuuhh... aku kan pemalu kelas akut. Mana berani ngadepin para narasumber yang pastinya jauh lebih pintar dan cerdas dibandingin aku *itu pasti....tapi aku tak mau perduliii... *walah nyanyiiii meneeehhh, maaf maaf ya Wuri ;)
    Aku sering terkagum-kagum pada teman seangkatanku yang pada aktif ikut majalah kampus. Wow, mereka itu keren-keren loh. Kalau sudah pada ngumpul di pojokan tangga FISIP, tempat ngantornya mahasiswa-mahasiswi reporter yang handal itu, nuansa perbincangannya pasti sudah tak mampu tertangkap oleh radar intelegensiaku yang kelap kelip 5 watt. Mangkanya aku suka cari 'timing' yang pas untuk ikutan nongkrong bersama mereka, biar ketularan pinternya. 
     Dan timing yang pas tadi adalah saat ada personel yang masuk ke ruang redaksi dengan membawa kantung plastik hitam yang agak berkilat-kilat. Mau tau itu apa friends? Kukasih tau, tapi wani pirooooo???  Oke lah kuberitahu bocorannya deh. Itu kantung plastik berisi full gorengan, kadang-kadang juga rujak es. Yuhuuuiii... kapan lagi ikutan makan gretongan ama reporter-reporter muda harapan bangsa kalau enggak penuh siasat begini. Mohon jangan ditiru modus operandi yang extraordinary ini ya, pleaseeee...
     Pengalaman paling seru terjadi saat kuliah kerja lapangan (KKL). Untuk televisi, biro Public Relation dan surat kabar, kampusku berangkat ke Jakarta. Ngoprek Indosiar, TPI, Bisnis Indonesia, Kompas dan 2 biro PR yang cukup besar (sudah bisa dipastikan aku tak akan mampu mengingatnya, yang 5 watt tadi sudah turun menjadi 3 watt ndheprox ndhodhox, oalah gustiiiiii apa sih yang sebenernya kubisa?). Duh, ayok ah ngelanjutin nulis buat GA Cenat Cenut Reporter sambil cenat cenut sendiri meratapi nasib, sambil sesekali terharu biru mengingat masa lalu nan kelabu *niy pasti yang punya GA udah sutris baca tulisan amburadul ini ya?
     Kunjungan lapangan, penjelasan teknis yang juga disertai sesi tanya jawab sudah pasti menjadi incaran teman-teman reporter yang cerdas. Bahkan ada salah satu teman yang dalam sesi pertanyaan mengajukan 3 pertanyaan, masing-masing pertanyaan terdiri dari a, b, c dan d. Wadaw, ngabis-ngabisin jatah teman lainnya donk. Kalau aku sih tidak begitu perlu bertanya. Udah jelas memangnya? Ya enggak lah, wong tidak bisa tanya gara-gara tidak mengerti sama sekali penjelasannya. *disambit buku CCR
sibuk mencari berita by credit
    Yang paling asyik sebenarnya justru saat KKL di RRI Semarang. Salah satu tugas yang diberikan adalah membuat feature radio. Aku kebagian tugas mencari narsum tentang problema lingkungan pesisir. Ah, kalau ini mah cetek, tinggal wawancara aja ama temen nongkrong di markas pencinta alam, mereka kan jago-jago tuh kalau masalah seperti ini. Jadi jatah reportase terselesaikan dengan manis. Enak banget loh wawancara dengan teman sendiri, sambil duduk selonjoran di joglo markas PA dan nithili jajanan gilo-gilo yang lagi lewat. Syedaaapp..
     Masalah mulai timbul saat hasil reportase digabungkan dengan liputan teman-teman yang lain. Selain memunculkan suara narasumber, masing-masing reporter diwajibkan untuk memberikan pengantar sebelum suara narsumnya muncul. Aku sudah bolak balik menulis pengantar plus membacakan dan merekamnya di walkman kesayanganku. Udah bagus banget loh. Sumpeeee.... Suaraku manis merdu merayu *anggapan orang yang tidak pernah rutin kontrol ke dokter THT.
     Yang bertugas menggabung-gabungkan liputan tentu saja petugas profesional di RRI sekaligus mentor kami. Wah ciamik bener feature buatan kelompokku. Setelah selesai digabungkan maka masing-masing feature diputar dan didengarkan bersama di auditorium. Buatan kelompokku dibuka secara manis oleh musik Kenny G lewat lagu The Moment yang mendayu-dayu, suara merdu salah satu temanku yang dipilih menjadi penyiar tunggal di feature itu pun mulai melantun. Aneka cerita dan liputan mulai bergulir hingga bencana itu datang. Masuk ke tema lingkungan, suaraku dan narsumku pun mulai menggema. Jatah ndengerin suaraku teman-teman dan mentorku tertawa terpingkal-pingkal. Kenapa sih... apa yang salah? 

reporter bersuara cetar, gambar dari sini
    Ternyata oh ternyata, suaraku yang kuunggul-unggulkan bisa bersanding dengan suara Chantal Della Concetta itu sebenarnya memang bagus loh. Cuman ya ituuuuu.... medoknya enggak ketulungan. Seluruh auditorium terpingkal-pingkal saat suaraku mulai mengalun membacakan pengantar reportase itu. Wah, cilakak dua belas nih. Kalau aku malu kan malah jadi enggak keren. Maka aku pun berdiri sambil melambai-lambaikan sapu tanganku yang sudah kusut masai bersimbah keringat. Bodo amat saat mentor kami melotot padaku, kubalas dengan lambaian yang manis. Whatever lah, palingan suaraku juga cuma 1 menit aja koq terdengar, ngapain dipikirin. Kuterima dengan legawa semua pujian dan pandang kagum teman-temanku. Tidak boleh sirik ya prens, it's already my fate... I will always be a star no matter happened *ngikik gak sopan untuk nutupi minder
     Nah, gokil-gokilan model begitu juga bisa disimak loh di novel temanku yang keren ini. Wuri Nugraeni ngakunya kalem, tapi novelnya bikin ngakak ngikik ngukuk kagak abis-abis. Moga-moga dapet bukunya ya, aku udah mati-matian nih nulis untuk GA ini, rela mempermalukan diri sekuat hati. Buat teman-teman yang lain, don't miss this nice Give Away event ya, rugi loh kalau gak dapet novel Cenat Cenut Reporter ini. 


>>>> Read More >>>>

Friday, April 19, 2013

How Loud Your Music ???

    
   Sebegitunya minded-nya aku dengan musik, sampai kemana-mana musti bawa music player. Kalau sekarang sudah keren ya, ada IPOD, MP3 ataupun MP4 player. Jaman tahun 90-an (wedewww, ketauan gaeknya) adanya ya mini-tape recorder alias walkman. Nah, dulu aku punya walkman andalan merek YNOS (silakan dibalik bacanya :) ) yang selalu kubawa kemana-mana.

    Salah satu fungsi ‘nyangking’ walkman whereever itu ya untuk killing time. Misal ya nih, pas mata kuliah yg membosankan (kayaknya tidak perlu sebut mata kuliah ya, takut kena tuntutan heheee..), tinggal pasang earphone walkman aja di sela-sela rambut gondrongku, beres kan?hihihiii… Walkmanku ini juga berjasa bila tiba-tiba ada mata kuliah yang mengharuskan reportase  *nggaya ik, bisa langsung untuk mewawancarai nara sumber.

    Hingga suatu saat aku harus ijin kuliah selama hampir dua minggu untuk suatu kegiatan eksplorasi di Karimunjawa bersama-sama dengan teman-teman pecinta alamku. Kegiatan kami saat itu titik beratnya adalah penelitian atas keragaman hayati di pulau Karimunjawa. Semula tim kami terbagi atas 4 divisi eksplorasi : Hutan Tropis, Hutan Bakau, Terumbu Karang dan Ekosistem Burung. Aku masuk dalam divisi terakhir tadi. Namun berhubung hasil penelitian pendahuluan tidak menemukan ekosistem burung yang layang dieksplorasi, akhirnya tim terakhir di-plot menjadi tim Penelitian Masyarakat. Ya udah gimana lagi, nasib anggota divisi buangan ya kayak gini, manut wae lah hihiiiii….
    Jangan bayangkan kami tinggal di Home Stay yang nyaman selayaknya turis. Oleh BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Karimunjawa kami diberi tempat tinggal sebuah Joglo / Pendapa yang berada sejalur dengan kantor konservasi mereka (seingat saya bila dari dermaga lama tinggal jalan aja luruuuuuusss sampai mentog). Nah, di pendapa itu lah kami anak-anak muda harapan bangsa ini yang sekitar 20-an orang harus tinggal berjejal-jejal. Untung lah ada beberapa seniorku yang berhasil numpang di rumah penduduk dekat pendapa itu, tentunya dengan keahlian SKSD tingkat dewa J.
asyiknya ber-walkman-ria
    Berkaitan dengan tujuan eksplorasi kami, tiap-tiap divisi punya target sendiri. Rata-rata untuk ke-3 divisi lain (selain Pengabdian Masyarakat), mereka akan pergi ke pulau-pulau kecil di sekitar pulau besar Karimunjawa, tergantung dimana habitat penelitian mereka berada. Sebagai punggawa tim Pengabdian Masyarakat, tentu saja aku menghabiskan waktu paling banyak berada di basecamp. Nah, si YNOS tersayang tadi deh yang jadi time killer.

Sayang sekali jaman tahun itu listrik masih sangat terbatas di kepulauan itu, jadi aku tidak bisa nyetel walkman menggunakan listrik (ingat, dulu belum ada baterai rechargable). Akhirnya aku harus menghamburkan uang sangu dari pakne mbokne untuk membeli baterai walkmanku tiap kali yang lama sudah habis. Sebenarnya bila tune-in radio sih tidak sebegitunya menghabiskan baterai, tapi mana ada stasiun radio radius sekian mil dari daratan Jawa *biar keliatan lebay. Akhirnya ya bisanya nyetel kaset lah (sekali lagi ingat, belum ada CD ya, hehehee…).
   
batu baterai 'sang penyelamat'
Nah, ternyata untuk menghemat baterai ada cara jadul yang sangat berbahaya, DON’T DO THIS, AT HOME hehehe…masih ada yang ingat jargon itu? (yang ingat pasti umurnya sepantaran aku, pastiiiiiiiii….enggak boleh menyangkal). Kalau pas ‘kuat mental’ baterai-baterai itu kugigit sampai ‘peyok-peyok’. Ajaib deh, ntar bisa nyala lagi loh. Dan kala mental sedang ‘kurang siap’, cukup ambil batu atau palu dan dipukul-pukulkan di baterai itu. Yang penting asal body baterai itu peyok, nah itu indikator keberhasilan ‘re-charge’ baterai usang itu. Nggak masuk akal but it really worked. Ada lagi cara ‘re-charge’ norak yang lain hehehe… dijemur di bawah sinar matahari yang lagi panas-panasnya (ini juga sangat berbahaya, jangan ditiru). Sungguh, setelah temperatur lapisan luar baterai mendingin, tinggal pasang di walkman, dan taraaaaa….nyala lagi deh. Tentu saja kedua cara ‘re-charge’ yang barbaric itu hanya bisa membuat ON walkman-ku beberapa menit lebih lama, paling-paling ya hanya setengah jam. Oh, betapa nelangsanya perjuanganku untuk tetap mendengarkan musik kesayanganku saat itu.

    Di saat salah satu tim pulang ke daratan (maksudnya berkumpul di base camp), aku tertarik melihat salah satu senior cowok anggota tim terumbu karang. Mas-e ini pendiem dan terkenal alim sekali, agak-agak berjenggot, tidak pernah memandang langsung kalau bicara dengan cewek, tapi kok ya tetep gaul, dia juga lagi ndengerin musik lewat walkmannya dengan khusyu. Penasaran banget dong aku saat itu, setauku untuk ‘golongan’ mas itu, bukannya musik itu haram, kok dia malah sampai merem melek ndengerinnya. Ih mencurigakan.
    Kuhampiri lah mas berjenggot itu, sambil pura-pura malu-malu kubertanya apa yang sedang dia dengarkan. Bahkan nekad kubertanya jenis musik kesukaannya apa, padahal mas-e itu sekuat tenaga buang pandangan karena saat itu aku hanya menggunakan celana pendek (celana panjang abis semua belum dicuci). “Bener-bener pengin tau nih apa yang saya dengarkan, Dek?” tanya beliau pelan-pelan. “Iyes mas, apa sih musiknya, saya tau lagunya ndak?” si dodol kepo nekad beraksi. Diangsurkanlah walkman miliknya dengan sangat sopan, sekuat usaha mas senior itu menghindari sentuhan permukaan kulit.
malu ya??? :p


    Bisa nebak nggak apa yang terjadi berikutnya? Si ‘hotpant penuh dosa’ ini harus menanggung malu berlipat ganda atas usaha nekadnya. Ternyata mas senior berjenggot tadi sedang mendengarkan kaset tartil Qur’an. Kapok mu kapan kowe Nik?hihihiiiiii…… (TRUE STORY – Karimunjawa 1995)
>>>> Read More >>>>

Monday, April 15, 2013

Mother & Baby : Celebrating Journey to Motherhood



What do you think about Motherhood, my friends? Selama ini kita semua sangat dekat dengan istilah motherhood. Banyak yang sudah tau tentunya, menganggapnya sebagai ‘dunia ibu-ibu’, that’s it :)   Benar, motherhood means the kinship relationship between an offspring and the mother. Artinya kurang lebih kedekatan / kekerabatan antara keturunan dengan ibunya. Nah, tak jauh beda kan dengan anggapan secara umum. Bisa juga diartikan sebagai the state of being a mother, the character of a mother. Ya, keadaan menjadi seorang ibu atau karakter ibu itu sendiri.
Meskipun tak harus selalu tampil bersamaan, Mother & Babytak bisa diragukan lagi sebagai dua orang dalam satu kesatuan. Ada si baby tentu juga ada si ‘mommy’. Itulah mengapa akrab istilah darah daging di keseharian kita untuk anak yang telah dimiliki. Bak darah dan daging yang tak terpisahkan, begitu pula mother & babyyang siap mengukir sejarah di kemudian harinya.
    Menyadari pentingnya pengetahuan yang harus dimiliki oleh seorang ibu atau calon ibu, majalah Mother & Baby mengadakan event Celebrating Journey to Motherhoodpada hari Minggu, 14 April 2013, bertempat di Hotel Novotel Semarang. Kedatangan Mother & Baby ini dalam rangka roadshow di delapan kota se-Indonesia.


Aku mendapatkan informasi ini dari komunitas Ibu Ibu Doyan Nulis (IIDN) Semarang, yang rupa-rupanya mendapatkan undangan dari pihak Mother & Baby. Wow, keren yah, tanpa harus bingung mencari-cari informasi event, IIDN Semarang justru mendapatkan undangan ini. Tak tanggung-tanggung, IIDN diberi kesempatan mengikutkan 20an warganya ke sana. Serbuuuuu… Di flyer seperti terlihat di atas, biayanya Rp. 50.000. Tetapi itu tidak berlaku untuk IIDNers loh, kami semua di sini memperoleh kesempatan untuk mendapatkan ilmu seputar mother & baby secara FREE. Syarat dan ketentuan berlaku tentunya, rahasia dapur tim IIDN lah ;)

Acara dibuka oleh Chief in Editor Mother & Baby, mba Sandra Ratnadewi. Tanpa berlama-lama langsung dilanjutkan dengan materi inti oleh dr Herman Kristanto SpOG(K). Di sini aku tak akan menceritakan secara detail materi yang disampaikan. Detail bahasannya terlalu ‘kedokteran’, untuk emak-emak yang sudah selesai sekolah berpuluh-puluh tahun yang lalu (lebay) istilah-istilah yang digunakan bikin pusing kepala heheheee….  Yang jelas dalam persiapan kehamilan maupun menuju proses kelahiran, tentu saja nutrisi yang cukup sangat menunjang kesehatan ibu dan calon bayinya. Komposisi makanan berimbang amat penting untuk pertumbuhan calon generasi muda yang akan dilahirkan oleh ibu-ibu hebat. Pertumbuhan berat badan ibu hamil juga perlu mendapat perhatian penting, mengingat ada beberapa ibu yang mengalami kehamilan dengan berat badan sudah di atas rata-rata. Ada loh tabelnya ini, sayang sekali, berhubung aku duduk jauh dari projector jadi tak bisa ambil gambar deeehh :(  maap ye penontoooonnnn....  Oya, untuk yang bapak-bapak jangan lupa untuk memberikan perhatian dan dampingan untuk calon ibu, agar sang ibu merasa terlindungi dan aman, bisa mengandalkan pasangannya dalam masa kehamilan dan proses persalinan. Ini ternyata tidak bisa dianggap main-main loh.
Tak diragukan lagi oleh semua warga IIDN Semarang, event Celebrating Journey to Motherhood ini memang milik IIDN. Sesi pertanyaan didominasi oleh IIDNers yang memang aktif dan kreatif. Lontaran pertanyaan yang paling mendapatkan animo seluruh peserta datang dari IIDNers mak Vetrieni yang pada saat itu mengutarakan keinginannya untuk memiliki lagi 2 orang anak. Saat ini mak Vetri sudah memiliki 3 orang buah hati dari 7 kali masa kehamilannya. Pasti mau pada bilang WOWWWW kan... eits, jangan begitu donk. Mak Vetri ini dari 7 kali kehamilannya pernah 4 kali keguguran. Bahkan dr. Herman saat menjawab pertanyaan mak Vetri pun menyarankan sebaiknya 3 orang anak ini sudah cukup, mengingat kehamilan-kehamilan sebelumnya yang beresiko. Bila memang masih sangat menginginkan kehadiran baby kembali, sebaiknya harus 'dikawal' ketat oleh sang bunda, keluarga maupun dokternya. Tetap semangat ya mak Vetri.... (ngasih semangat tapi jujur dalam hati ya kebat-kebit sendiri)

Pemateri dan Host yang Cetar :)

 
dr. Herman Kristanto SpOG(K)
Sebagian besar peserta event justru terhibur oleh cara membawakan materi oleh dr. Herman Kristanto Sp.OG(K), seorang dokter spesialis yang sekaligus ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) cabang Semarang, juga Pembantu Dekan I Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang. Kocak dan cenderung 'saru' guyonannya, tapi justru pemilik RSIA Bahagia itu sanggup bikin mata melek. Biasanya kan kalau seminar seperti ini bikin ngantuk. Namun berkat 'gojekan' dr. Herman yang bertajuk "Terus bagaimana?" ini semua peserta dibawa menuju suasana yang terus segar sepanjang acara, dari mulai pemaparan materi hingga selesainya sesi tanya jawab. Maaf sekali ya dok, saking asyiknya dengerin banyolan sampe-sampe lupa ambil foto.
Tak hanya materi dan sesi tanya jawabnya yang menarik loh. Dari pertama acara dimulai sudah menggelegar saja deh nuansanya. Kehadiran mba Lala Tangkudung, penyiar Cosmopolitan FM, yang sebelumnya juga pernah menjadi penyiar di Hard Rock FM Surabaya ini, membuat ruang seminar berubah menjadi panggung OVJ hehehee.... (ini kata mba Lala sendiri loh, bukan aku yang ngarang-ngarang).
mba Lala Tangkudung nge-fans eike, keliatan kaaannn???? *dilempar mic
    Dress pink-nya yang manis dipadu dengan penampilan dan wajahnya yang memang cantik tetap tak bisa menyembunyikan sosok gokilnya. Bukannya lebay ini, you will believe me if you were there :)  Luncuran kalimat-kalimat sapaan maupun penyemangatnya diwarnai aneka banyolan dan volume ketawa ala Soimah. Hai mba Lala..... aku tidak menghina lho, justru all thumbs up for you. Sumpeee, keren abis looohh... ada juga ya mantan mahasiswa kedokteran yang gokil seperti dirimu. Oh ya teman-teman, mba Lala ini lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah Surabaya loooohhh... enggak nyangka *apa maksudnyaaaaa??? digetok mba Lala :D

 Heboh bareng Chef Yeni Ismayani

    Saat roadshow pertama Mother & Baby di Hotel Santika Jemursari Surabaya, ada pernik pembahasan cara berbusana cantik (17 Februari 2013) oleh Fashion Expert Gingersnaps, Syafrina Nasution. Terus pada roadshow kedua di Hotel Sheraton Bandung, 24 Februari 2013, Mother & Baby menampilkan Pudjiastuti Sindu, master yoga dari Yoga Life Indonesia yang memberikan ilmu cara menjaga kebugaran tubuh pada bumil melalui yoga.
Nah, kali ini di Semarang Mother & Baby memberikan trik memasak melalui chef Yeni Ismayani. Chef cantik yang ternyata tidak kalah gokilnya dengan mba Lala ini membagikan 2 resep sederhana namun banyak disuka oleh keluarga.
 
Berbagi resep ala Chef Yeni Ismayani, sumber foto : twitter M&B

Resep itu adalah Puding Coklat Tabur Buah dan Roti Pisang Kukus Kismis. Hasil masaknya juga dibagi-bagi loooh... uueeennaaaakkk.... Ada tips yang bisa kubagikan di sini teman-teman. Eh, dari chef Yeni loh, bukan aku ;) Pasti pernah mengalami saat pengin bikin puding atau agar-agar buah, justru buah-buahan yang kita harapkan melayang-layang di seantero puding itu justru 'mengapung' saja di bagian atas. Jadi saat nanti kita balikkan alat cetakan buahnya malah mengendap di bawah. Enggak cantik banget kan. Nah untuk menghindari hal itu ini lah triknya. Saat puding / agar-agar matang jangan langsung dituang di cetakan. Aduk-aduk dulu hingga uap panasnya hilang, baru buah-buahan dimasukkan dan siap untuk dimasukkan ke dalam cetakan. Ooooo.... begitu yaaa.. sungguh aku pun baru tau ini (ya iyalah, enggak pernah masak, gimana mau tau xixixiiii.....)
Nah, yang bikin makin heboh bareng Chef Yeni ini adalah lomba menghias sandwich. Masing-masing meja peserta diberi seperangkat roti tawar dan aneka hiasan berupa tomat, mentimun, daun selada, keju, daging asap dan saus. Dari bahan-bahan simpel itu para peserta diharapkan bisa berkreasi sebaik-baiknya
 
mejaku (Meja 1) dengan hasil akhir kreasi sandwich
 Setelah selesai menghias ini masing-masing meja diminta mempresentasikan hasil karyanya. Aku kebagian jatah untuk maju. Duileee.... senang tapi cemas. Apalagi begitu chef Yeni bilang kami diminta untuk mempresentasikan apa nama sandwichnya dan bagaimana penjelasan atas konsep sandwich itu. Matek aku, tadi kan sandwichnya tidak dikasih nama apa-apa. Trus piye ikiiii... Ah mbuh lah, ngarang aja deh jadinya. LOVE SANDWICH.... that's it hihihiiii... Penjelasannya pun perasaan ngalor-ngidul enggak keruan. Ya kan teman-teman? *malah bangga
'Bu Guru' sedang menyampaikan filosofi sandwich :D
 Asyik sekali deh pokoknya acara ini. Banyak ilmu praktis nan berguna yang bisa didapatkan. Juga banjir hadiah (meskipun aku tidak kebagian satu pun). Dari undian doorprize sebagian besar penerimanya IIDNers. Sampai-sampai untuk pemenang Best Dress in Pink, 2 orang IIDNers lah pemenangnya. Mak Fenty Arifianti dan Ade Hermawati Amin yang menyabetnya. Keren yaaaa...
Enggak kapok deh diajakin acara Mother & Baby lagi kalau caranya begini. Kapan lagi donk mba Sandra / mba Putri (yang ngundang IIDN). Heheheee... suka apa doyan tuuuhh... Keren lah pokoknya majalah Mother & Baby. Semoga selalu sukses di tiap event yang digelar, khususnya roadshow Celebrating Journey to Motherhood ini.
Khusus untuk IIDN, kapan lagi nih kopdarnya. Kopdar yang membuat tambah ilmu dan tambah kenalan begini layak untuk ditumbuhkembangkan. Terus selanjutnya kopdar di mana nih emak-emaaakkk... I lup you full deeehhh... Ibu Ibu Doyan Nulis Semarang memang uhuuuyyyy....


>>>> Read More >>>>

Friday, April 5, 2013

Hempasan Itu Ternyata “Nothing” Untukku

gambar dari sini

Tersedu-sedu. Aku menangis tak kunjung henti di ujung dapur rumahku. Meratapi nasib malang yang mendera perjalanan hidup. Kupandang kosong aneka peralatan masak yang terjajar di depanku dari balik rinai air mataku yang terus menerus mengalir. Tak hanya pedih rasanya mata ini akibat derai kesedihan yang tak berkesudahan, namun hatiku pun serasa terkoyak-koyak duri dan tergodam martil raksasa.
Aku menangis sesenggukan sembari mengelus-elus perutku yang sudah mulai membuncit di kehamilanku yang sudah masuk bulan keempat. Kesedihan yang kualami ini juga salah satunya saat mengingat jabang bayi yang sedang berlindung di rahimku. Dia sepenuhnya mengandalkanku. Tetapi apa lah aku ini. Aku hanyalah seorang ibu yang lemah, yang kini terduduk lemas dan tersedu tiada tara.
Shock. Hari ini aku menerima keputusan dari atasanku bahwa besok aku sudah tidak perlu bekerja lagi. Setahun masa pengabdianku di kantor dirasa telah cukup. No more future for me there. Apaaaa? Apa salahku? Aku tidak mencuri, aku tidak merusak aset, aku berdedikasi dalam bekerja. Kenapa hal ini harus terjadi padaku?
Berbagai poin penilaian telah dipaparkan padaku, aneka kecaman kutuai. Tak ada guna aku menyanggahnya, walaupun saat itu aku dipersilakan untuk menyampaikan sesuatu sebelum aku pamitan dengan seluruh jajaran staff pabrik garmen yang sangat besar ini. Baiklah. Aku akan pergi. Tak mau aku lara berlama-lama seperti ini.
gambar diambil dari sini
Namun tak urung perasaan pedih itu kian menerpaku. Fisikku yang sedang sering ‘rewel’ di usia hamil muda ini, apalagi ini anak pertama, membuat psikisku menukik tajam. Aku hanya ingin buru-buru pulang, menenggelamkan ratusan galon air mataku ke bantal kesayanganku. Tetesan air mata tak kuasa kutahan saat kusalami satu persatu rekan sekerjaku di sana. Mungkin mereka memang sudah tau tipikal seperti apa ‘juragan wedok’ku. Tapi untuk apa lagi diperbincangkan, toh aku tetap harus pergi.
Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin itu perumpamaan yang paling tepat untuk nasibku saat itu. Aku sedang terserang sariawan parah. Seumur-umur belum pernah sekalipun aku terkena sariawan. Ini mungkin salah satu reaksi dari kehamilanku. Seluruh rongga mulut dan permukaan lidahku terhajar sempurna oleh sariawan. Jadi, kesedihan dan tangisanku salah satunya ya karena sariawan ini. Untuk menelan air minum saja sudah sakit luar biasa, bagaimana aku bisa makan? Tetapi bila tidak makan, bagaimana nasib anak dalam kandunganku? Tangisanku kian meradang kala kupikirkan hal itu.
Di dalam kamar, suamiku sedang tergolek tak berdaya, terserang demam berdarah dan typus. Bahkan untuk pergi periksa ke rumah sakit terdekat tadi dia terpaksa terhuyung-huyung mengendarai sepeda motor. Aku tak bisa membantunya. Aku sendiri sedang lemas lahir dan batin. Sempurna sudah semua ini.
Akhirnya bantuan dari keluarga lah yang menyelamatkan kami. Suamiku terpaksa pulang ke rumah orang tuanya, dirawat sementara oleh ibu mertuaku. Sedangkan aku pulang kembali ke pelukan ibundaku tercinta, mendapat aneka treatment khusus dalam pengobatan sariawan dan perbaikan gizi bagi janinku. Bagaikan dua pasien VIP kami berdua dirawat secara terpisah. Oh, sungguh tak berdayanya aku sebagai istri dan ibu kala itu. Kalau diingat-ingat, sungguh memalukan cerita ini.
 Tak ada yang abadi di dunia ini. Begitu juga dengan penderitaan
Namun aku tak bisa berlama-lama seperti ini. I’ve got to move on. Tak ada yang abadi di dunia ini. Begitu juga dengan penderitaan. Penderitaan hanya akan kekal dalam jiwa kita bila kita membiarkannya tumbuh subur, terpupuk oleh bayangan semu kita sendiri. Derita itu harus segera kudepak. Aku punya tanggung jawab yang menjadi amanah seumur hidupku. Anakku.
Jujur saja, aku sangat ingin kembali bekerja. Tetapi seperti kata suamiku, siapa sih yang mau menerima karyawan baru dengan kondisi hamil. Benar juga. Harus realistis ya? Meskipun saat kulewati hari demi hari bertengger di rumah, aku tak bisa melepaskan anganku untuk kembali berkarya. Impian indah itu kupupuk perlahan-lahan sembari menanti kehadiran buah cintaku.
Ya, putriku lahir sempurna dengan berat 3.2 kilogram. Parasnya yang lucu sedikit tampan memang aneh. Anak perempuan tetapi wajahnya mirip sekali dengan ayahnya. Ini bukti bahwa cinta suamiku begitu kuat menemaniku, menurun secara simetris kepada putriku. Hampir terlupakan niatanku untuk bekerja lagi karena aku tengah berbahagia atas kehadiran anak pertamaku ini.
SMS dari seorang kawan lama rupanya jawaban dari doa-doaku, yang terpanjat berbulan-bulan yang lalu. Dia menawariku untuk menggantikan posisi pekerjaannya sebagai customer service & documents officer di salah satu perusahaan freight forwarder. Oh, perfect. Dan aku pun mulai menapaki hari-hari baruku di perusahaan itu, yang berkantor di sebuah gedung perkantoran ternama yang ada di pusat kota. Aku berhasil.
 I didn’t deserve to suffer
Ya, aku berhasil lepas dari belenggu derita yang dulu begitu mengungkung pemikiranku. I didn’t deserve to suffer. Harusnya aku kuat dari awal. Harusnya aku percaya, semua ujian pasti ada jawabannya.
ini sumber gambarnya
Kini aku kembali menengok ke belakang, ke masa-masa yang lalu. Saat aku begitu membanggakan pekerjaanku yang ‘mentereng’. Duduk di kantor yang bersih, rapi dan elite. Bekerja layaknya eksekutif muda. Mengenakan aneka setelan baju kerja yang necis dan gaya. Belum lagi gaji sebulannya yang cukup membiayai dua hingga tiga bulan kebutuhan rumah tanggaku.
 Itu dulu. Saat aku masih menjadi staf admin si sekretaris ‘tangan besi’ itu. Sepantasnya aku tidak berpikiran buruk kepadanya. Aku bisa mendapatkan masa depan yang lebih baik gara-gara lepas dari rutinitas pekerjaanku di sana. Dulu setengah mati aku harus mengatur waktu kerja yang seakan-akan tak pernah cukup untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan yang bak hujan deras dari langit. Tak hanya sibuk urusan surat menyurat perusahaan dan mengatur aneka rapat direksi, perjalanan bisnis pimpinan dan berbagai accomodation arrangement untuk tamu-tamu dan grader-grader buyer yang datang mengunjungi pabrik.
lihat gambar di sini
Semuanya ibarat “appetizer”, “main course”, bahkan “dessert” pekerjaanku. Belum lagi semua itu dikerjakan sembari menjadi operator telpon. Tidak hanya 1 pesawat, namun langsung 2 pesawat. Saat sedang handle salah satu pesawat telpon, yang lain berbunyi. Bila berdering lebih dari 3 kali tidak diangkat, semprotan lah yang kudapat. Saat aku ‘ring off’kan pesawat itu agar tidak ketahuan, ternyata entah bagaimana atasanku tau. Amukan lagi jatahku. Phewww…
Coba bila sampai saat ini aku masih di sana, apakah kini aku bisa punya banyak waktu untuk berkenalan dengan orang-orang dari perusahaan yang lain? Di perusahaan freight forwarding ini, aku bertemu dengan banyak pihak dari berbagai jenis. Waktu luang pun cukup banyak karena aku juga terkadang diajak temanku yang pegang job marketing untuk keliling-keliling kota mencari customer. Lebih segar rasanya.
Pun kini kala aku bisa move ke perusahaan manufaktur kayu, aku mendapatkan kesempatan untuk pergi perjalanan dinas ke Jerman, menemani boss baruku. Semua ini tak akan kudapatkan bila tetap terbenam pekerjaan di tempat lama.
bercanda dengan anak bule di kaffe depan Dome Cathedral, Koln


Allah selalu memiliki rencana-rencana dahsyat di balik semua derita tak seberapa yang kita jalani
Sudah selayaknya lah aku tak perlu terbelenggu hal-hal buruk yang sedang menimpa. Allah selalu memiliki rencana-rencana dahsyat di balik semua derita tak seberapa yang kita jalani. So, nothing to worry again my dearest friend. Singkirkan semua hal buruk yang menghantui pikiranmu. LET’S MOVE ON

>>>> Read More >>>>