Menjadi seorang ibu itu simpel. Ah masa? Bukannya malah kompleks sekali permasalahan yang harus dihadapi saat diri kita sudah menjadi ibu? Bagiku kedua statement di atas tidak ada yang salah. Koq bisa begitu? Bukankah seharusnya ada kebenaran yang hakiki atas suatu keadaan yang terjadi pada diri manusia di dunia.
Ah rumit sekali bila harus memperpanjang landasan pemikiran dari kedua statement tadi. Buatku, kompleksitas permasalahan yang dihadapi seorang ibu adalah asam garam kehidupannya. Tanpa asam dan garam,sayuran ataupun lauk pauk tak akan terasa nikmatnya *khusus untuk sayur asam lho :) Begitu juga dengan keindahan menjadi ibu yang akan terpeta sempurna dengan segala detail yang harus dijalani sehari-hari bersama keluarga dan buah hati tercinta.
Tetapi menjadi seorang ibu itu juga simpel loh. Nggak percaya? Saat kita (kaum ibu) terdeteksi terlambat datang bulan, apalagi untuk pertama kalinya, apakah yang terlintas di benak kita? Secara normal pasti jawabannya adalah bahagia. Simpel kan? Wong cuma dinyatakan hamil saja koq bahagia. Alasan di balik kebahagiaan itu memang panjang berentet, namun muaranya tetap pada kebahagiaan itu sendiri. So simple.
Pun saat bayi tersebut kemudian lahir ke dunia. Wajar kan sudah hamil 9 bulan terus bayinya lahir, apanya yang aneh? Tapi kebahagiaan yang dirasakan oleh sang ibu terasa begitu sempurna dalam kesederhanaan saat memandang wajah bayinya yang bulat, merah atau bahkan keunguan, masih keriput karena lama terendam dalam ketuban. Bahagianya sang ibu ini pun simpel saat mampu memaknainya dengan segenap hati tanpa perlu pusing-pusing memikirkan nanti mau duduk susah gara-gara jahitan masih baru, ataupun belum bisa bangkit karena bekas section masih nyeri.
Selain simpel dan kompleksitas kebahagiaan itu, mari kita bersama renungkan tentang amanah seorang ibu yang kita emban ini. Sudahkan saat ini kita menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kita. Aku terinspirasi sekali dengan tulisan beberapa teman blogger yang saat ini tidak bisa disebutkan satu persatu, namun salah satunya adalah artikel Apakah Saya Sudah Menjadi Ibu Yang Baik dari mba Evi Indrawanto. Apalagi di salah satu komennya di tulisan tersebut mba Evi menyatakan seperti ini :
Yup, bener banget, we shouldn't stop to be a student of mother class in our life. Tak pernah ada yang sempurna dari apa yang telah kita lakukan, terutama saat kita menjalankan peran sebagai ibu. Adaaaaa saja yang kurang. Yang terlalu galak pada anak lah, terlalu khawatir saat ananda melakukan sesuatu yang kita anggap berbahaya, yang tidak adil membagi perhatian kepada buah hati (untuk yang memiliki buah hati lebih dari satu). Ya, masih banyak aneka kekurangan seorang ibu (terutama diriku), bila dituliskan mungkin long listnya bisa bersaing dengan naskah novel ;)
Paling sering terjadi padaku adalah 'parno' alias paranoid saat anak sakit. Saat ini aku memiliki dua orang anak yang manis, lucu, pintar, cantik, ganteng, cerdas (dan berderet-deret sebutan unggulan untuk anakku, khas banget ya, semua ibu pasti lebay begitu kan? sebutan kan bermakna harapan, so jangan pernah menyebut anak kita dengan 'prestasi' sebaliknya macam nakal, tak tau aturan, berisik dsb). Yang pertama adalah putri lincah dengan jutaan vocabulary yang lancar dia lantunkan saban harinya (enggak boleh bilang ceriwis yaaaa...), hampir 9 tahun usianya. Sedangkan adeknya cowok imut berkulit putih, berusia 3.5 tahun. Nah seperti kebanyakan balita, si adek ini juga masih sering terhinggap panas demam bila kondisi tubuhnya menurun ataupun kami sekeluarga ada yang terjangkit flu.
![]() |
| aku dan jagoan kecilku |
Kemarin baru saja si adek terserang panas mendadak, sepertinya sih mau pilek. Pagi masih asyik jalan-jalan di seputar kampung, ikutan ayahnya yang sedang sibuk kerja bakti hari Minggu. Eh koq begitu bangun dari tidur siang badannya panas banget. Udah deeehh jadi pendiem, ngak ngik ngak ngik melulu (terjemahan ngak ngik : merengek), tak mau makan. Sembari kuberi obat penurun panas, malamnya tak bisa tidur nyenyak, musti bolak balik ngolesin air hangat yang dicampur perasan jeruk nipis (jadul banget ya caranya). Belum lagi tiap kali memandang matanya yang sayu, mungkin gara-gara merasakan pusing yang luar biasa, langsung aja deh banjir air mata sendiri. Enggak tega banget melihat anakku seperti itu. Andai bisa panas badan dan rasa pusing itu ditransferkan ke ibunya, pasti 100% ikhlas buat menerimanya asalkan anak kita tidak sakit. Betul begitu ibu-ibu? Alhamdulliah, paginya justru si adek yang bangunin emaknya, udah ngoceh ngalor ngidul sembari pegang mobil-mobilannya di lantai. Bahagiaaaaa banget ngeliat jagoanku sudah sehat kembali meskipun resikonya aku harus terkantuk-kantuk sepanjang hari di kantor. Simpel kan bahagianya seorang ibu itu? Lihat anak kita sehat segar bugar aja sudah bersyukur banget.
Pengin cerita yang lain lagi nih, semoga tidak bosan mengikutinya ya pembaca :) Anak pertamaku, Vivi punya kecerdasan emosi yang luar biasa. Beberapa kali memberikan hadiah tak terduga-duga sepulangku dari kantor. Salah satunya adalah dia bela-belain nyisain uang sakunya untuk membeli bunga warna pink, yang kemudian di semprot dengan splash cologne miliknya. Wangiiiiiii banget jadinya. Subhanallah, sampai berkaca-kaca saat kuterima bunga itu. Pintar sekali sih ini sulungku, memeriahkan hatiku yang baru saja pulang kantor. Bangga dan bahagia luar biasa, rasa bahagianya jauh melebihi saat dia dapet ranking di sekolah. Selain edisi bunga pink tadi, si kakak juga pernah membuatkan sepasang cincin dan gelang dari monte. Itu terjadi saat dia lagi gemar-gemarnya belajar merangkai monte-monte. Kakak tau banget kalau ibunya bukan penggemar perhiasan emas. Melalui pemberian ini kakak memaksa ibunya untuk sedikit memiliki perhiasan, biar jari dan pergelangan tangan tidak polosan aja. Aaaahh... luar biasa sekali engkau cantikku cintaku sayangkuuuu :)
![]() |
| a beautiful pink rose from a beautiful-lovely-little lady |
Yang sering terjadi adalah kurang adilnya aku bersikap kepada si kakak. Kakak secara terang-terangan complain kalau "ibu lebih sayang ke adek dibandingin ke aku". Berasa tertampar sandal deh saat itu. Well, benar juga sih, kadang-kadang aku berpikir memang sebagai kakak dia harus banyak ngalah ke adeknya. Padahal ini sama sekali tidak benar. Tidak menyehatkan mental mereka berdua, si kakak bisa merasa tertekan, di lain pihak si adek bisa manja dan meraja lela kepada kakaknya. It's my big homework to do, cateeett...
Kalau ibu-ibu yang lain punya pengalaman bagaimana? Sudahkah merasa menjadi ibu yang baik? Bagi-bagi pengalamannya donk biar aku juga bisa terus belajar meningkatkan kemampuan sebagai ibu. Ya, begini ini ya kalau tidak ada sekolah menjadi ibu. Bikin pesawat terbang aja ada sekolahnya, masak jadi ibu yang semestinya kontribusinya tinggi untuk bangsa malah tidak ada sekolahnya hehehee... Mari belajar terus sepanjang hayat kita, ingat... ibu adalah seorang murid abadi dari anak-anaknya, seperti kata mba Evi Indrawanto tadi. Keep spirit, moms





















