Pages

  • Home
  • About
  • Contact

Friday, February 28, 2014

Aku dan Sudoku

Masihkah ada yang mengenal permainan utak-atik angka bernama Sudoku?

Sudoku berasal dari Bahasa Jepang Suuji wa dokushin ni kagiru yang memiliki arti angka-angkanya harus tetap tunggal. Sudoku yang merupakan jenis teka-teki logika ini 'hanya' bermain seputar angka 1 sampai dengan 9. Kita memasukkan angka 1 sampai 9 ke dalam jaring-jaring 9x9 yang terdiri dari 9 kotak ukuran 3x3 tanpa mengulangi sekalipun angka-angka tersebut (sumber : wikipedia).

Nah loh, enggak bingung kan? Aku bukan penggemar togel, bukan pula petaruh porkas (istilah yang hanya dimengerti bagi mereka yang mengaku gaul jadul). Namun entah mengapa dari dulu semenjak ada permainan angka bernama Figjig di Intisari, aku sudah gemar berat mengisi model kotak-kotak logika begini, meskipun kemampuan berlogikaku pas-pasan hehehee...

Berbeda dengan figjig yang tinggal memasukkan deretan angka sesuai daftar yang telah disedikan, pada Sudoku inti permainan hanya berkisar pada angka 1 hingga 9. Bagi yang tertarik untuk mengetahui lebih lanjut apa itu Sudoku, let's start playing this game ;)

posisi awal sebelum mulai diisi

Terus, ngapain tuh kotak? dianggurin? hehehe...tentu tidaklah, mari tentukan angka pertama yang akan mengawali permainan ini.

memulai dengan angka pertama

Coba ikuti panah hijau di atas. Ada dua buah angka 4 yang terletak di baris sesuai panah. Mengikuti prinsip Sudoku yang tidak boleh mengulang angka sama dalam baris, kolom bahkan kotak kecil, maka satu-satunya alternatif untuk meletakkan angka 4 berikutnya adalah di baris yang kubuatkan lingkaran hijau itu.

Nah, itu masih dari sisi lajur. Mohon perhatikan kotak-kotak kecil bergaris putus-putus hijau yang kuberi angka 1, 2 dan 3 itu. Pada masing-masing kotak itu terdapat jajaran angka 1 hingga 9 yang tidak boleh berulang juga. Di kotak 1 sudah ada angka 4, begitu juga di kotak nomor 2. Nah berarti tinggal di kotak nomor 3 kan ya kita harus mencari letak angka 4nya. Sudah ada lingkaran hijau tadi sih, tapi kan belum jelas mau ditaruh dimana angka 4nya. 

Mari kita lihat dari sisi kolom (gerakan dari atas ke bawah). Tuh ada angka 4 yang kuberi tanda panah ungu. Kolom paling kiri dan paling kanan sudah terisi angka 4, so tinggal kolom tengah kan yang belum ada. Kita lihat ada pertemuan titik antara lingkaran hijau tadi dengan garis ungu. Yup, di situlah angka 4 paling pas dituliskan. 

Gimana, mudah kan? Lanjut yuuukk...

mari kita letakkan angka 9 pada tempatnya ;)

Menggunakan prinsip yang sama dengan peletakan angka 4 tadi, maka angka 9 ini paling pas diletakkan di kolom yang kuberi garis putus-putus ungu itu. Berhubung di atasnya ada angka 5 dan 6, it means tidak ada pilihan lain lagi selain di situ. Tulis deh angka 9nya yaaaa... Prinsip tidak boleh mengulang itu harus kita terapkan di angka-angka berikutnya. Selalu cari dulu angka mana yang kira-kira menghalangi langkah angka yang akan kita tulis, so kita akan menemukan baris ataupun kolom yang paling tepat untuk kita gunakan meletakkan angka berikutnya.

masih berkutat dengan angka 9

Yuk lanjut ke angka berikutnya. Kali ini masih pada angka 9. Ikuti saja dua buah angka 9 yang kuberi tanda panah ungu itu, maka akan ditemukan satu baris kosong tanpa angka 9 bertanda garis putus-putus ungu. Ada dua pilihan untuk meletakkan angka 9. Bisa di kotak yang sudah kutulis angka 9 tadi, bisa juga di sebelahnya yang kuberi tanda lingkaran merah. Tapiiiii... tidak mungkin menuliskan angka 9 di kotak dengan lingkaran merah tadi, karena akan bertemu dalam satu kolom dengan angka 9 yang ada tanda panah merahnya. 

Dari dua contoh angka 4 dan 9 tadi, kira-kira bagaimana? (kayak mentor ahli saja, padahal yang ahli Sudoku baca ini pasti terkekeh geli melihat cara pengerjaannya).  


Sama dengan prinsip 'tanpa pengulangan' yang sudah diterapkan pada angka 9 tadi, begitu pula cara untuk meletakkan angka 1. 

mainkan angka 8 yuuuukkk...

Pada pojok kiri terlihat angka 8 berpanah ungu itu. Jadi untuk meletakkan angka 8 berikutnya ada dua option yang kutandai dengan dua garis putus-putus berwarna ungu. Kedua option baris itu bisa jadi merupakan tempat yang pas untuk meletakkan angka 8. Hanya saja perlu diingat angka 8 penghalang yang bertanda panah merah tadi. Kita tak bisa meletakkan angka 8 di lingkaran merah itu. Yes, di lingkaran ungu itu lah tempat yang paling pas untuk angka 8.

Masih bingung? *pake style berkesan paling sok teong sedunia :)  Lanjuuttt...

Sudah ada beberapa angka yang kuisikan sebagai lanjutan angka 8 tadi. Kini kita bermain dengan angka 2 ya. Berhubung kotak kecil yang di tengah itu sudah hampir lengkap angkanya, mari kita tengok sebentar. Garis putus-putus merah di situ merupakan tanda larangan penggunaan angka 2 di sepanjang kolom itu. Lihat saja sudah ada angka 2 yang nangkring manis di baris paling atas dari garis tersebut. Jadiiii... angka 2nya bisa diletakkan di mana? Iyesss... betul sekali, di kotak yang ada lingkaran ungunya itu. Pinteeerrr deehh... ;)

Setelah angka 2 'duduk' dengan manis di situ, maka dari keseluruhan rangkain angka 1 hingga 9 yang belum dimasukkan ke kotak berukuran 3x3 itu apa dong? Tentu saja angka 6 kan ya.

Nah, kenapa angka 6 itu kuberi tanda bintang. Super banget deh rasanya saat bisa menuliskan angka terakhir di suatu kotak tanpa beban. Tanpa harus mempertimbangkan lagi halangan di baris atau kolom tertentu. Tak ada angka lagi selain 6 kan yang belum tercantum di kotak kecil itu? ;)


Coba sekarang bermain dengan angka 2 dan 7 tanpa translation yaaa hehehee.... Bisa kan? Tetap menggunakan prinsip tidak boleh mengulang angka yang sama dalam satu baris, satu kolom dan satu kotak kecil ukuran 3x3 ya ;)  Ikuti saja panah, lingkaran dan garis putus-putus yang ada itu ya.

Sudah?


Ya beginilah hasil berikutnya. Angka 2 dan 7 sudah nempel di tempat masing-masing. Berarti sekarang kurang angka 1 dan 3 ya? Kebetulan di lembar Sudoku yang ini, letak angka 1 dan 3 nya tidak ada penghalang sama sekali, jadi bebas saja mau letakkan di mana angka 1 atau 3nya. Asalkan nanti hasil akhirnya tidak saling bertubrukan di kolom yang sama, selesai sudah Sudoku kita kali ini. Yippieee...

Have a nice time with Sudoku ;)

Teka-teki logika ini banyak yang bisa dimainkan secara online lho bila kesulitan mendapatkan versi cetaknya, maklum saja sudah enggak nge-trend lagi nih. Salah satunya bisa diakses di Gamehouse Sudoku. Lengkap dengan level yang bisa dipilih sesuai keinginan serta stopwatch yang bisa dimanfaatkan untuk melatih kecepatan menyelesaikan salah satu level. 

Oke, have a nice week end with Sudoku ;)

>>>> Read More >>>>

Wednesday, February 26, 2014

Menyoal Galaksi

Apa pentingnya sih menyoal galaksi itu? Penting gak penting sih. Bikin pusing sebenarnya saat ada yang tanya, "Tinggal di galaksi apa, Bu?" Pertama yang bikin pusing itu adalah : tuh orang kayak tinggal di galaksi lain aja pakai nanyak-nanyak gak mutu kayak gitu. Emangnya kita tinggal di galaksi mana sih? :p  Terus yang kedua, berani-beraninya dia panggil eike "Bu". Gak sopan tujuh turunan, masih kenceng langsing singset kinyis-kinyis gini looohh.. Belum pernah digeragoti drakula menor ya? *panggil mamanya Jiwo 

Eh.. eh...kok bawa-bawa mamanya Jiwo segala. Siapa Jiwo? Siapa pula mamanya? Penting gak penting sih sebenarnya. Males bener aslinya mau ngobrolin desye (bukan Jiwo, tapi mamanya), orangnya tengil, suka sirik ama makhluk cantik dan super ramah seperti eike ini. Tapi mau gimana lagi, cuma dia satu-satunya yang bisa kucomot namanya gegara punya blog yang pake judul galaksi galaksi gitu. 

Galaksi tau kan ya artinya? Jangan tanya padaku, mendingan buru-buru googling sana. Nah, kalau blog orang tengil yang judulnya Galaksi Pungky itu apaan?  *tarik nafas dulu sebelum ngomongin lebih jauh lagi, berusaha menepis rasa gak rela untuk membahas blog ini, ooh God please gimme strength.



Yaelah, blog apaan sih itu. Denger-denger yang punya jago desain, tapi kok nggak manis bener sih headernya itu. Eee..ee...ee...nggak boleh sensi ya yang punya, hidup itu kadang-kadang memang pahit, apalagi saat harus mendengarkan sebuah kejujuran. Percayalah, kejujuran itu sepahit apapun masih lebih baik daripada obat yang pahit. *piye to iki maksude :D

Menyoal galaksi Pungky itu tentu ada kaitannya dengan title yang terpampang di sana. Mo Cuishle. Eike cari kemenong-menong artinya apa di blog ini koq ya gak ketemu ya (sebenernya males sih mau buka-buka semua isinya, gak jelas gitu). Perasaan pernah dengar deh some years ago, kalau nggak salah pas nonton cewek petinju Maggie Fitzgerald di film berjudul Million Dollar Baby. Keren bener filmnya, ada Clint Eastwood, Morgan Freeman dan Hilary Swank (pemeran Maggie). Bercerita tentang seorang Maggie yang memulai debutnya sebagai petinju perempuan hingga akhirnya mengalami kelumpuhan. Oleh pelatihnya, dia diberi julukan Mo Cuishle. Semula Maggie tak paham artinya, namun di saat-saat terakhir dimana Maggie minta di-euthanasia, sang pelatih baru memberitahu bahwa Mo Cuishle itu artinya 'my darling' also 'my blood'. Dari penggalan ceritanya tampak 'pekat' ya kisahnya.

Hmmm.. untung bukan menyoal film tadi loh di sini, bisa nangis berdarah-darah. Etapi terus nemu di Irish Gaelic Translator, ternyata spelling mo cuishle di film Million Dollar Baby itu salah. Yang betul adalah Mo Chuisle, kependekan dari a chuisle mo croi yang artinya pulse of my heart. Well, eike sih kagak tau nih yang punya blog ambil dari literatur yang sama atau tidak, tapi kan ya suka-suka eike lah ya mencari tau sepotong kebenaran, setidakpenting apapun nilainya. Agree?

Itu tadi menyoal galaksi Pungky dari judul blognya. Isinya? Hedeeeww... beda frekuensi sih dengan diriku. Isi blogku kan lemah lembut, santun, enggak pecicilan kayak begitu *apaaa... gak usah melotot gitu, ntar bulu mata anti kecemu sempal loh ;)  Ya tapi suka-suka dirimulah ya Pung, mau nulis apa aja boleh, mau soal blogger keren kayak diriku ya boleh, suri tauladan ibu nan bijaksana kayak diriku pun boleh, apalagi kalau menyoal kepiawaianku masak, wohoooo...boleh banget lah ya. Kamu aja nulis galaksi selangkangan juga eike bebasin. 

No problemo sih masalah isi Galaksi Pungky itu. Mau jumpalitan, mau nungging ataupun mekangkang sekalian gaya nulisnya, monggo mawon, namanya juga media bebas ekspresi. Nyatanya ya sudah sukses bikin buku keren untuk anak-anak gitu lho. Sudah pernah baca bukunya yang berjudul Peri-peri Bersayap Pelangi? Belum? Kebangeten loe, eike aja ya belum hihihiii...

So far saat ngintip-ngintip tulisan di situ, gak ada yang aneh, meskipun cara nulisnya memang ajaib. Yah, faktor umur yang kurang matang aja kale ya (tetep gak mau memuji). Cumaaa...cuma satuuuu aja kale ya permintaanku, mbokyao itu tulisan dikasih 'jump break' biar yang mampir kagak pegel scrooooooollll mulu. Yang punya blog tau kagak ya jump break? Kalau nggak tau bisa les ke mamak tiri dulu lah ya hihiiii... Eike gak bisa njelasin soalnya *aatttaaaahhh...

Kira-kira tulisan segitu cukup untuk memahami seonggok Galaksi Pungky? Belum? Ya sana mampir sendiri, tuh udah kukasih link-nya kan. Silakan aja obrak-abrik sendiri, dijamin pusing dan seneb. Ho oh, kayak aku nih, sampe nyiapin obat maag, diare, aspirin dan penenang jiwa saat harus menuliskan ini.

Pesan serius untuk pemilik Galaksi Pungky 


Biarpun chapter terakhir tulisanku ini enggak nyambung dengan yang telah tersaji di atas, aslinya inti tulisan itu ya justru di sini. Cuma mau bilang pada pemilik Galaksi Pungky untuk terus berkarya, jangan pernah biarkan gelombang tinggi imajinasimu terhalang oleh keterbatasan diri. I'm proud of you, emak muda dengan segudang prestasi yang bisa menginspirasi. Tetaplah hidup bersama satu pesan : Kami ada untuk berbagi.


http://galaksipungky.blogspot.com/2014/02/galaksi-pungky-giveaway.html



oyeah...diminta milih hadiah yaa... Ya kalau beruntung sih aku mau itu novelnya mamak tirimu yang super duper keren itu. oke, kamsiyaah ya Srikandi Purwokerto :)
>>>> Read More >>>>

Tuesday, February 25, 2014

Sssstt... beneran tuh enak bebeknya?

Ssssstt... beneran tuh enak bebeknya? Tolong jawab pertanyaanku segera wahai sanak kadang, sobat, handai taulan semua. Jangan sampai aku penasaran dan terbakar rasa ingin tau yang taktersalurkan.

Apaaa... apa kamu bilang tadi, Bebek Judes? Hadeeehhh, udah bebek, judes pula. Gak syedep banget siihh *langsung dikemplang Pak Adhi Widianto. Eh loh, siapa ya bapak ini tiba-tiba kok gemes padaku dan ingin ngemplang. Oalah, menurut kabar dari sumber yang sangat terpercaya ini, Pak Adhi adalah owner Resto Bebek Judes. 

Ampuni aku pak, ampuni, terus terang diriku baru tau kalau Bebek Judes itu nama resto. Aih, kemane ajeee loooeee *ditowel manis. Lagi pula Pak, diriku ini bukan penggemar bebek. Selama ini yang namanya bebek itu identik dengan alot dan amis. Alotnya seperti makan penghapus karet (emang pernah?). Itu kata orang-orang sih, Pak, bukan saya looh.. bukaaann *pasang tampang inosyen ;)

Niiih...tiba-tiba ada yang nyodorin makanan ini :


Aww awww... makanan opo iki (makanan apa ini), enak bener keliatannya. Bagi dooonnkk... Bikin netes-netes belepotan iler. Ngiler boooo...  Beneran tuh enak bebeknya?

"Tadi katanya gak doyan bebek."  Duh, ada yang judes njawab ih. Jangan judes-judes donk, ntar jadi bebek judes loh, tau rasa.

"Baru tau ya kalau rasa bebek di Bebek Judes itu enggak amis. Dagingnya juga empuk, nggak alot. Makanya sering-sering kulineran dong, biar tidak ketinggalan jaman."  Lho... masih judes juga ih jawabannya. *ngambeg, gak mau nengok lagi ke hidangan yang aslinya mengundang selera tadi.

Sreeett...datang hidangan berikutnya :


Uiiihh... ada sambel lombok ijonya nih, buru-buru ulurin tangan mau nyomot sambel plus kemangi dan tomatnya juga ah.

Plaakk... ada yang tidak terima rupanya. Tanganku yang sudah terulur tadi secara semena-mena ditangkis. "Katanya nggak suka bebek, sanaaa... sanaaa..."  Yeee, gimana mau jatuh cinta sama tuh bebek kalau diginiin terus.

Emang ada apa aja sih di Bebek Judes, sampe sebegitu judesnya dirimu padaku wahai engkau yang tadi menangkis tanganku. 

"Nih, ada semua yang enak-enak, makanya jangan suka judge the bebek from its alot and amis." Heuheuuu... bahasa apa pula itu? ;)











Nggak takut mblenek alias eneg tuh, koq tak ada sayurannya, daging melulu? 

"Sok tau, ngomong nerocos aja bisanya, liat dulu doooonnkk...." Lagi-lagi suara membahana menghentak itu membuatku kaget.







Hadeeeuhhh...itu jagung manis kesukaanku kenapa nongkrong di situ? Nyeemm... nyeeemm... iya deh, aku mau nih kalau yang ini. Trus ada apa lagi di Resto Bebek Judes?

"Nih, liat sendiri menunya, dijamin asyik lah". Hmm.. Sudah mulai lemah lembut nih yang memberi penjelasan. Okesip, aku mulai menyimak ;)


Aih aiiihh, nih strategi marketingnya si Judes keren juga. Ada prewiiii boooo... siapa mau prewiiii... Itu tuh, ada Bebek Perawan, yang digoreng atau dibakar aja ada, trus yang sambal ijo & balado juga ada. Emang apa bedanya sih bebek perawan ama yang udah bangkotan, Pak Adhi? *plaaakk... si judes mulai beraksi lagi.

Duh, galak amat sih, plak plok melulu. Pantesan lu dibilang judes gitu.

"Eee tau nggak sih sebenarnya kenapa disebut bebek judes?"

Diam. Nggak mau jawab. Diplak-plok dari tadi emangnya enak?? 



Loooh loohh ada nasi merah, ini sehat banget nih. Mau dooonnkk... 

"Katanya diam, nggak mau jawab?"

Yeee, reseh amat nih yang bolak-balik jawab ini. Nasi merah kan biasa, di selepan juga banyak. Kenapa mesti di Bebek Judes nyarinya?

"Karena di selepan gak ada nasi jenis khusus ini. Nih, lihat dengan seksama yaaa..."


Alamaaakk, opo kuwi?? (apa itu).

"Nasi lengko itu, khas Cirebon. Sarapan yang khusus dihidangkan di Bebek Judes cabang Kartini, Bekasi."

Yaelaaahh... pengiiiiinn...Tapiii... tapiii... halal nggak tuh hidangannya. Jangan-jangaaann..... *plaaakk. Duh, plak lagi plak lagiiii...

"Liatin dong makanya, nih udah bersertifikasi."


Iya iyaaa... halal ya halal, gak usah plak plok melulu gitu *sambil elus-elus dada tetangga :)  Emang musti galak gitu ya jawabnya kalau yang namanya Bebek Judes itu? Harus nyesuaiin dengan judul restonya gitu?

"Hellloooo...emang kamu tau nggak sih judesnya itu maksudnya apa. Judes itu singkatan dari Juara Pedes. Bebek judes itu ya bebek yang pedesnya sanggup bikin keringatmu mengalir deras." Halah, kalau ini mah lebay.

"Nggak percaya, baca dong tentang Bebek Judes yang sudah dimuat di media massa ini, jangan kuper."


"Pak Adhi juga pernah bercerita panjang lebar tentang Bebek Judes (Juara Pedes) di Cikarang Ekspres. Baca baik-baik ya."



Tertunduk malu. Malu mengakui bahwa bebek judes ini sungguh sempurna membuatku mupeng. Memerawani si bebek perawan asyik nih kayaknya. Tapi beneran tuh enak bebeknya? *sambil siap-siap perisai siapa tau di-plak lagi.

"Silakan datang saja ke resto Bebek Judes ya, buktikan kedahsyatannya. Udah bebeknya empuk dan gurih, ada aneka sambalnya lho. Mulai dari sambal judes (juara pedes), sambal mangga hingga sambal terasi ada semua. Harganya ramah di kantong, jadi bagi para mahasiswa yang jatah bulanannya sering mepet itu, tetap asyik lah datang ke tempat kami."

Huhuuuyy... Pak Adhi Widianto, nih yang dari tadi njelasin siapa sih namanya? Pantas diusulkan loh jadi employee of the year dan diupgrade gajinya. Beneran loh  Pak, diriku jadi pengin buru-buru meluncur menyantap aneka hidangan di Bebek Judes. Daku inign membuktikan semua omongan si calon employee of the year tadi. Apalagi kalau ditraktir Pak Adhi sembari ditemenin makannya. Pasti lebih joss gandhoss kotos-kotos :)

Oya, sekedar permohonan ke Pak Adhi nih, mbok buka cabang yang di Kota Semarang bawah, Pak. Lokasi yang sekarang di kota atas ini membuatku kesulitan ke sana, mana jalur ke atas sekarang maceeett mulu. Beneran, Pak, Semarang bawah potensial banget loh untuk mengembangkan kulineran khas seperti ini. Semoga makin berjaya ya Pak si wek wek judesnya ini ;)




Note : semua foto diambil dari web Bebek Judes.
>>>> Read More >>>>

Friday, February 21, 2014

[Mozaik Blog Competition 2014] Do you have guts to write?



Do you have guts to write? Hmm... kenapa harus bertanya seperti itu sih, bukannya bila ingin menulis ya tinggal menulis saja. 

Yup, right. Apapun yang berseliweran di kepala kita memang merupakan aset paling utama untuk menulis. Tapi kita juga tidak boleh lupa, masih banyak teman kita di luar sana yang bahkan untuk memulai kalimat pertamanya untuk sebuah cerita mini saja sudah kesulitan. Kenapa?

Hal ini kualami juga pertama kali ingin menuangkan ide ke dalam suatu bentuk tulisan. Selalu merasa minder, enggak pede (percaya diri), takut salah, takut menyinggung perasaan orang lain. So, di situlah aku akhirnya stuck, terjebak oleh segala 'andai' dalam diri. Tak satupun tulisan yang akhirnya dihasilkan.

Memberanikan diri untuk menulis itu memang butuh niat dan usaha. Niat untuk menyumbangkan ide pemikiran kita sekecil apapun yang mungkin saja bermanfaat untuk orang lain. Tak harus artikel teknis kan yang bisa masuk kategori bermanfaat. Cerita inspiratif maupun kisah lucu pun bisa berguna, begitu pula dengan bait romansa. Memberikan tambahan wacana maupun penyegar suasana.

Berbagai keriuhan khas ibu-ibu seperti mengurus anak, suami, rumah, bahkan pekerjaan kantor kerapkali  kugunakan sebagai alasan permisif diri sendiri. Nggak sempat, repot, capek, ngantuk, yaaah, sebangsa begitulah. Namun saat melongok ke orang lain yang notabene jauh lebih sibuk dariku, eh ternyata kok masih bisa ya menghasilkan tulisan secara produktif. Jadi malu nih ;)

Dari situlah akhirnya muncul tekad kuat untuk mulai menulis sedikit-sedikit. Dari notes Facebook, hingga akhirnya bergabung dengan salah satu komunitas menulis ibu-ibu di kota tempat tinggal sekarang (Semarang). Berbagai informasi ajang menulis kudapatkan dari sana. Nggak salah lho, akhirnya naskahku ada juga yang dibukukan, meskipun masih ikutan penerbit independen, tidak pakai seleksi pula. Semua naskah diterbitkan. Yang penting senang bisa menyumbangkan cerita. Berjudul Parfum Pedasku, aku berkisah tentang cinta pertama yang bertepuk sebelah tangan. Huhuuuu...ngenes ya ;)


Menulis itu ternyata self healing yang simple dan murah loh, tak perlu konsultasi psikis ke ahlinya ;)  Lega sekali rasanya saat banyak hal yang berjubelan di kepala 'rontok' melalui ketukan jemari ataupun goresan pena. Ini sih opini pribadiku, namun siapa saja boleh mempraktekkannya. Setelah berhasil menuliskan satu cerita, akan ada tekad berikutnya untuk menulis kembali. Apalagi saat tulisan kita diapresiasi, menang audisi, bahkan bisa masuk media massa.

Aku juga bergabung dengan grup menulis Mozaik Indie Publisher di FB. Join dengan berbagai komunitas menulis memang membuat semangat makin membara. Ikutan event menulis bisa loh dimanfaatkan untuk menumbuhkan keberanian bereksplorasi dengan kata-kata dan imajinasi kita. Alhamdulliah, saat dilakukan audisi tentang kisah di balik pernikahan, naskah saya lolos booooo... Padahal isinya gokil abiiisss... Tidak serius namun itulah kenyataannya. Audisi ini mewajibkan penulisnya untuk menceritakan kisah nyata. Kebetulan sekali, aku menulis kisahku sendiri. Hingga kini aku masih tidak percaya kenapa penerbit ini memilih naskahku di antara puluhan naskah lainnya yang tentu tak kalah bagusnya, atau bahkan mungkin jauh lebih bagus dari tulisanku. 



Dua kali lolos naskah untuk antologi kian membuatku bersemangat untuk menulis. Oke, sudah bisa menulis novel dong ya berarti? Huhuuu... too early lah, sadar diri nih masih harus banyak belajar dari para penulis senior. Keajegan menulis per hari rupa-rupanya menjadi cara ampuh dari para penulis itu untuk menghasilkan karya. Misalnya saja nih ya dalam satu hari target menulis satu halaman, ya marilah kita penuhi target itu.

Berhasilkah aku memenuhi target menulis yang telah ditetapkan sendiri? Hehehee... ya inilah seorang writer wannabe yang sering melanggar janji pada diri sendiri. Keinginan menulis naskah sering bentrok dengan passion berkisah dan meracau di blog ;)  Apalagi kalau ada lomba-lomba blog yang menggiurkan hadiahnya itu, hmm... bagaikan kucing yang menetes air liurnya saat melihat ikan pindang. Begitulah si writer wannabe gadungan ini hehehee... Sering terbelokkan konsentrasi saat menghadapi godaan lain. Yah, sebenarnya godaaan untuk menulis juga sih, cuma lain medianya.

Tak perlu lama-lama berkutat dengan polemik naskah untuk media cetak versus blog lah. Move on... Balancing prioritas akhirnya ;)  Rajin mengintip rumah maya para penerbit juga bisa jadi salah satu cara melatih kekuatan menulis kita. Beberapa kali aku ikutan audisi naskah untuk antologi di penerbit mayor. Langsung tembus? Hohohooo... dunia tak seramah yang dibayangkan deh. Beberapa kali aku harus menelan kekecewaan saat pengumuman lolos audisi dipajang di web penerbit-penerbit itu. Namaku tak tercantum di sana.

Bagi teman-teman yang hingga kini naskahnya belum lolos juga harus tetap semangat. Jangan bosan-bosan mengintip pengumuman audisi itu ya, jangan lelah mencoba untuk terus menulis. Juga jangan bosan mengintip hasil tulisan yang lolos audisi. Caranya? Baca bukunya dong tentu saja, mau beli atau pinjam teman tak masalah. Ada nasehat dari salah satu penulis senior Mba Indari Mastuti : untuk menulis satu cerita dalam genre tertentu paling tidak kita harus membaca satu buku yang bergenre sama. 

Kuikuti nasehat beliau. Puluhan buku dengan berbagai genre setia menemani waktu luangku. Hingga akhirnya keberuntungan kembali menghampiri. Naskahku lolos di salah satu penerbit major yang ada di Yogyakarta. Alhamdulillah. Kebetulan saat itu menjelang perayaan Hari Ibu, penerbit tersebut mengadakan event menulis tentang ibu. Lagi-lagi aku menuliskan pengalaman pribadi. Maklum, masih belajar nih, paling mudah memang menuliskan apa yang kita alami sehari-hari.



Kegemaranku membanyol rupa-rupanya juga butuh 'pelampiasan'. Tak hanya sekedar ngikik ngakak ngukuk dengan membeli aneka buku bergenre komedi, aku pun mencoba peruntungan saat ratu kos dodol Indonesia Dewi Rieka bersama penerbit mayor yang memang sudah mencetak kisah Anak Kos Dodol (AKD) dari seri pertama hingga seri-seri berikutnya (bahkan dikomikin pula) mengadakan audisi menulis. Rencananya hasil audisi itu akan dibukukan dengan tajuk Anak Kos Dodol Konco. Maksudnya buku ini merupakan kumpulan cerpen dari para fans buku AKD. 

Do you have guts to write? tanya pada diri sendiri. Berani nggak berani ya tetap kucoba menulis akhirnya. Lumayan lah, salah satu naskahku dari dua naskah yang kukirim lolos seleksi. Senangnya oooiiyy bisa sebuku dengan penulis kondang pujaan para abege alay ini hehehee.... (siap-siap digetok Dedew a.k.a Dewi Rieka). Menerima honor menulis dari penerbit untuk pertama kalinya ini sungguh membuatku histeria meskipun uangnya langsung habis untuk mentraktir putri sulungku yang gemar sekali mengkoleksi novel anak-anak. Tak mengapa lah, rejeki dari menulis ya habisnya untuk membeli bacaan juga :)


Jadi, menulis bila ada audisi atau lomba saja ya? Hellooo.. ada masalah ya? Hihihiii... Bagi writer wannabe yang sering dilanda galau dan seribu satu alasan rempong ngurusin ini itu macam aku ini, lomba menulis memang efektif untuk membangkitkan gairah menulis. Yah, menyadari kalau aku ini masih 'bernapas pendek' dalam tulis menulis, tak terlalu tinggi lah target menulis yang kuterapkan. Yang penting menulis saja terus. Ada audisi, nggak lolos. Audisi berikutnya nggak lolos lagi. Cobaaa aja terus sembari rajin memperkaya diri dengan bacaan multi genre, atau paling tidak pilihlah buku dengan genre yang paling kita sukai. Insya Allah akan ada jalan.

So, rajin menulis dan terus intens mengikuti kegiatan komunitas menulis so far sangat membantu menyalakan terus semangat menulisku yang seringnya naik turun seiring fluktuasi dollar *loh apa hubungannya ;)

Setiap kali ada teman komunitas yang woro-woro hasil karyanya nongol di media, hati ini kebat-kebit penuh rasa iri. Kenapa iri? Jelek atuh sifat iri itu...  Untuk urusan tulis menulis begini terus terang bagiku memang harus ada rasa iri. Ibaratnya : dia saja bisa, masa aku enggak? Jadi di sini iri bukan untuk menandingi, namun iri yang memacu diri untuk makin mengasah kemampuan menulis. Menulis sebaik mungkin, mengalahkan ego pribadi yang lebih sering memberikan jutaan alasan permisif untuk bilang 'tidak sempat' menulis. 

Ya, benar sekali, prestasi rekan juga bisa kita jadikan cambuk untuk segera 'bangun'. Tentunya tak mau dong saat teman kita sudah berjalan nun jauh di depan, kita hanya duduk selonjoran tidak mau bangkit. Apapun alasan kita menulis, mau itu untuk menang lomba, untuk mencari uang, mencari popularitas, ah itu semua akhirnya menjadi tak penting lagi saat rasa bahagia menyelimuti diri tatkala tulisan kita sudah bertebaran di mana-mana. Apalagi bila ada penulis senior yang tertarik melirik kita untuk menulis barengan dengan mereka. Uhuks.... Itu nanti akan menjadi kisahku berikutnya di postingan sendiri hehehee... Tunggu tanggal mainnya ya *sok ngartis :)

Nah, do you have guts to write? Tentu punya dong yaaaa... ayo semangat teman-teman. Menulislah dari hati. Sedikit tidak apa-apa daripada tidak sama sekali. Itulah yang kuterapkan pada diri sendiri di antara keriuhan mengurus rumah tangga dan bekerja di luar rumah dari Senin hingga Sabtu, plus jualan online produk crafting rajut dan barang apa saja yang bisa dijual. Tulisan itu nantinya akan jadi warisan yang sangat berharga untuk anak cucu kita loh. Beneeeerrr... Anakku saja bangganya luar biasa saat ibunya yang nulis angot-angotan ini mendapat kiriman bukti terbit. Dia saja bangga, apalagi penulisnya hehehee...

Masih ragu untuk menulis??  Tentunya enggak kan ;) 




>>>> Read More >>>>

Tuesday, February 11, 2014

Postcards from Hearts - 1

I'm really excited when sending cards became nicer day by day.

I already knew postcard since decades ago, but somehow only in few days I'm falling in love with them. Although it's too late, I do appreciate my friends' efforts  to help me enjoying this postcards by sending lovely ones.

 my first postcard (PC) from Husna in Yogyakarta

 also like the stamp : Tenun Gringsing Bali


 Second card : from Teh Ocha Thalib


how nice & calm you are, Teh Ocha


The third one, from Mba Yanti - Semarang
Why this picture seem so familiar for me? ;)


a prize from Aceh

its back side


Thanks, Mas Ari Murdiyanto, I like the stamp too.


Some photos will be fine for this time. I'll be back with other cards as well ;)
>>>> Read More >>>>

Friday, February 7, 2014

Tetap Kering Saat Kehujanan

Tetap kering saat kehujanan kini bukan hal yang mustahil lagi loooh... Ya iya lah, naik mobil pribadi atau taksi kan pasti kering enggak kehujanan. Yeee... bukan itu maksudku.

Di musim penghujan seperti ini, cobaan yang dialami para pengendara sepeda motor sungguh luar biasa. Tak sekedar basah kena hujan, kadang-kadang saat jalanan yang harus dilalui terkena banjir, alamat resiko basah kuyup deh. 

Kan sudah pakai jas hujan, masak masih basah sih? Nah, pasti yang tanya gitu belum pernah ngerasain derita pengendara sepeda motor ya. Kalau aku sih sudah mengalaminya sendiri. Saat hanya mengenakan jas hujan model ponco, pas hujan deras pasti ujung celana panjang masih basah meskipun sudah ditekuk sampai di batas lutut *oh nooooo.... SGM (sikil gebuk maling) :D  Pun saat mengenakan jas hujan setelan yang ada bagian atas dan bawah itu. 

Model jas hujan setelah sekarang macam-macam loh. Jas hujan bagian atas kini tak sekedar berpasangan dengan celana panjang saja. Yang berbentuk rok juga ada (seperti gambar di samping, saya pinjam dari Ummu Kaisah Shop). Tentu saja ini untuk para hijaber maupun embak-embak pengguna mini skirt yang mungkin kebingungan saat akan mengenakan bagian bawah setelan jas hujan berbentuk celana. Etapi mas-mas dan bapak-bapak yang mau menggunakannya juga boleh kok, misalkan pas pake sarung gitu, ribet kan kalau harus mengenakan yang model celana panjang hihihiiii.... 

Tetapi ngeh nggak sih, semua kelengkapan menghadapi hujan deras tadi masih ada yang kurang? Sudah ditutup rapat sih, aman terkendali. But how about your feet? Bagaimana caranya agar tetap kering saat kehujanan?

Nah, ini yang sering terlupakan. Para pengendara motor lebih memilih memasukkan sepatu kinclongnya ke dalam tas plastik dan justru mengenakan sandal jepit saat mengendara. Fine fine saja sih, tapi kan rada risky gitu ya. Bersandal jepit saat mengendarai sepeda motor sungguh tidak disarankan. Pertama, tidak safe sama sekali, apa pun bisa terjadi di jalan raya walaupun kita tak pernah mengharapkan pengalaman buruk akan terjadi pada diri kita. Jari-jari terbuka tanpa pelindung itu tentunya rawan kena musibah kan. Yang kedua, unsur keindahan boooo... :)  Apalagi yang jempolnya segede gaban, gak asyik banget kan buat dilihat hohohooo... *itu daku banget ;)

Well, agar tak perlu nyangking sandal jepit kemana-mana, kini ada yang namanya Jas Sepatu. Sepatu kita yang tidak boleh terkena air hujan pun akan aman terlindungi.


Pertama kali melihat orang lain mengenakan jas sepatu ini rasanya ingin ngakak, tampak seperti alien dari mana gitu :)  Tetapi setelah mencobanya sendiri, aku baru bisa merekomendasikan nih.

Berikut ini detail bagian dari jas sepatu tersebut : 

zipper di bagian betis, membuat pemakaiannya menjadi mudah


perekat velcrow yang menyesuaikan lingkar betis
(betis plus tambahan tebal celana panjang yg kita kenakan)

Perekat velcrow yang ada itu fleksibel banget, mengikuti lingkar betis kita. Muat juga kok saat bertambah dengan ketebalan celana panjang yang kita kenakan. Apalagi bila menggunakan celana jeans, makin menggelembung kan lingkar betis kita. Nah si perekat velcrow ini adjustable.

dilengkapi karet/kolor yang mengikuti lingkar kaki


Ada banyak online shop yang kini telah menjual jas sepatu ini. Kebetulan aku mendapatkannya tidak via online shop, tapi dari teman suamiku. Beli langsung gitu, offline, meskipun teman itu memang pemilik online shop juga hehehe... Gimana sih, bingung njelasinnya :)  Sayang sekali aku tak menanyakan apa nama online shopnya, jadi tidak bisa merekomendasikannnya di sini. Namun bila ada yang berminat, nanti coba kutanyakan ya, harga langsung nggak pake komisi koq hihiiii...  Harga jas sepatu ini empat puluh ribu rupiah. Sip banget nih kualitasnya, high heelku yang sangat indah pun jadi terlindungi.

Coba, mana high heel yang kumaksud itu ?











High heel dari hongkooooonggg....hahahaaa... maaf sob, tadi cuma jebakan batman aja. Hari ini aku mengenakan sandal gunungku tercinta. Nah loh, sudah pakai sandal gunung ngapain masih pake jas sepatu, kan buat para pendaki gunung sandal ini langsung dikenakan, baik di bawah terik mentari maupun hujan deras?

Iya benar begitu,  tapi taukah engkau wahai sahabat? Sandal gunung ini saat terkena air hingga 'teles kebes' alias basah kuyup, kelembabannya akan awet sekali, apalagi saat dikenakan di dalam ruangan kantor, beeegghhh... baunya sungguh tidak syedap. Untuk itulah, sandal gunung tercintaku ini harus tetap kering saat kehujanan.

Repot banget ya harus mengenakan jas sepatu segala? Kenapa keukeuh harus pakai sih, kenapa enggak naik mobil saja?
  1. Kakiku sekarang menjadi agak-agak 'priyayi' gitu, setiap kali bercanda dengan air hujan maupun genangan banjir, bisa dipastikan besoknya langsung ke apotik berburu salep kulit 88. Idiiiihhh... enggak banget yak? :)
  2. Safety procedure harus ditaati di tiap perjalanan, kita kan tidak tau apa yang akan terjadi nanti. Jadi apa salahnya bila melindungi bagian tubuh kita semaksimal mungkin, termasuk jari-jari kaki. (oya, menggunakan helm juga penting lho, jangan lupa)
  3. Kenapa enggak naik mobil? Lha diriku nggak bisa nyetir yaaaa... Lagian mobil siapa yang mau kusetir hueheheee.... jogjig?? :D

Oke ya, have a safe riding then....



>>>> Read More >>>>