Event Mozaik Blog Competition sponsored by beon.co.id
Do you have guts to write? Hmm... kenapa harus bertanya seperti itu sih, bukannya bila ingin menulis ya tinggal menulis saja.
Yup, right. Apapun yang berseliweran di kepala kita memang merupakan aset paling utama untuk menulis. Tapi kita juga tidak boleh lupa, masih banyak teman kita di luar sana yang bahkan untuk memulai kalimat pertamanya untuk sebuah cerita mini saja sudah kesulitan. Kenapa?
Hal ini kualami juga pertama kali ingin menuangkan ide ke dalam suatu bentuk tulisan. Selalu merasa minder, enggak pede (percaya diri), takut salah, takut menyinggung perasaan orang lain. So, di situlah aku akhirnya stuck, terjebak oleh segala 'andai' dalam diri. Tak satupun tulisan yang akhirnya dihasilkan.
Memberanikan diri untuk menulis itu memang butuh niat dan usaha. Niat untuk menyumbangkan ide pemikiran kita sekecil apapun yang mungkin saja bermanfaat untuk orang lain. Tak harus artikel teknis kan yang bisa masuk kategori bermanfaat. Cerita inspiratif maupun kisah lucu pun bisa berguna, begitu pula dengan bait romansa. Memberikan tambahan wacana maupun penyegar suasana.
Berbagai keriuhan khas ibu-ibu seperti mengurus anak, suami, rumah, bahkan pekerjaan kantor kerapkali kugunakan sebagai alasan permisif diri sendiri. Nggak sempat, repot, capek, ngantuk, yaaah, sebangsa begitulah. Namun saat melongok ke orang lain yang notabene jauh lebih sibuk dariku, eh ternyata kok masih bisa ya menghasilkan tulisan secara produktif. Jadi malu nih ;)
Berbagai keriuhan khas ibu-ibu seperti mengurus anak, suami, rumah, bahkan pekerjaan kantor kerapkali kugunakan sebagai alasan permisif diri sendiri. Nggak sempat, repot, capek, ngantuk, yaaah, sebangsa begitulah. Namun saat melongok ke orang lain yang notabene jauh lebih sibuk dariku, eh ternyata kok masih bisa ya menghasilkan tulisan secara produktif. Jadi malu nih ;)
Menulis itu ternyata self healing yang simple dan murah loh, tak perlu konsultasi psikis ke ahlinya ;) Lega sekali rasanya saat banyak hal yang berjubelan di kepala 'rontok' melalui ketukan jemari ataupun goresan pena. Ini sih opini pribadiku, namun siapa saja boleh mempraktekkannya. Setelah berhasil menuliskan satu cerita, akan ada tekad berikutnya untuk menulis kembali. Apalagi saat tulisan kita diapresiasi, menang audisi, bahkan bisa masuk media massa.
Aku juga bergabung dengan grup menulis Mozaik Indie Publisher di FB. Join dengan berbagai komunitas menulis memang membuat semangat makin membara. Ikutan event menulis bisa loh dimanfaatkan untuk menumbuhkan keberanian bereksplorasi dengan kata-kata dan imajinasi kita. Alhamdulliah, saat dilakukan audisi tentang kisah di balik pernikahan, naskah saya lolos booooo... Padahal isinya gokil abiiisss... Tidak serius namun itulah kenyataannya. Audisi ini mewajibkan penulisnya untuk menceritakan kisah nyata. Kebetulan sekali, aku menulis kisahku sendiri. Hingga kini aku masih tidak percaya kenapa penerbit ini memilih naskahku di antara puluhan naskah lainnya yang tentu tak kalah bagusnya, atau bahkan mungkin jauh lebih bagus dari tulisanku.
Dua kali lolos naskah untuk antologi kian membuatku bersemangat untuk menulis. Oke, sudah bisa menulis novel dong ya berarti? Huhuuu... too early lah, sadar diri nih masih harus banyak belajar dari para penulis senior. Keajegan menulis per hari rupa-rupanya menjadi cara ampuh dari para penulis itu untuk menghasilkan karya. Misalnya saja nih ya dalam satu hari target menulis satu halaman, ya marilah kita penuhi target itu.
Berhasilkah aku memenuhi target menulis yang telah ditetapkan sendiri? Hehehee... ya inilah seorang writer wannabe yang sering melanggar janji pada diri sendiri. Keinginan menulis naskah sering bentrok dengan passion berkisah dan meracau di blog ;) Apalagi kalau ada lomba-lomba blog yang menggiurkan hadiahnya itu, hmm... bagaikan kucing yang menetes air liurnya saat melihat ikan pindang. Begitulah si writer wannabe gadungan ini hehehee... Sering terbelokkan konsentrasi saat menghadapi godaan lain. Yah, sebenarnya godaaan untuk menulis juga sih, cuma lain medianya.
Tak perlu lama-lama berkutat dengan polemik naskah untuk media cetak versus blog lah. Move on... Balancing prioritas akhirnya ;) Rajin mengintip rumah maya para penerbit juga bisa jadi salah satu cara melatih kekuatan menulis kita. Beberapa kali aku ikutan audisi naskah untuk antologi di penerbit mayor. Langsung tembus? Hohohooo... dunia tak seramah yang dibayangkan deh. Beberapa kali aku harus menelan kekecewaan saat pengumuman lolos audisi dipajang di web penerbit-penerbit itu. Namaku tak tercantum di sana.
Bagi teman-teman yang hingga kini naskahnya belum lolos juga harus tetap semangat. Jangan bosan-bosan mengintip pengumuman audisi itu ya, jangan lelah mencoba untuk terus menulis. Juga jangan bosan mengintip hasil tulisan yang lolos audisi. Caranya? Baca bukunya dong tentu saja, mau beli atau pinjam teman tak masalah. Ada nasehat dari salah satu penulis senior Mba Indari Mastuti : untuk menulis satu cerita dalam genre tertentu paling tidak kita harus membaca satu buku yang bergenre sama.
Kuikuti nasehat beliau. Puluhan buku dengan berbagai genre setia menemani waktu luangku. Hingga akhirnya keberuntungan kembali menghampiri. Naskahku lolos di salah satu penerbit major yang ada di Yogyakarta. Alhamdulillah. Kebetulan saat itu menjelang perayaan Hari Ibu, penerbit tersebut mengadakan event menulis tentang ibu. Lagi-lagi aku menuliskan pengalaman pribadi. Maklum, masih belajar nih, paling mudah memang menuliskan apa yang kita alami sehari-hari.
Kegemaranku membanyol rupa-rupanya juga butuh 'pelampiasan'. Tak hanya sekedar ngikik ngakak ngukuk dengan membeli aneka buku bergenre komedi, aku pun mencoba peruntungan saat ratu kos dodol Indonesia Dewi Rieka bersama penerbit mayor yang memang sudah mencetak kisah Anak Kos Dodol (AKD) dari seri pertama hingga seri-seri berikutnya (bahkan dikomikin pula) mengadakan audisi menulis. Rencananya hasil audisi itu akan dibukukan dengan tajuk Anak Kos Dodol Konco. Maksudnya buku ini merupakan kumpulan cerpen dari para fans buku AKD.
Do you have guts to write? tanya pada diri sendiri. Berani nggak berani ya tetap kucoba menulis akhirnya. Lumayan lah, salah satu naskahku dari dua naskah yang kukirim lolos seleksi. Senangnya oooiiyy bisa sebuku dengan penulis kondang pujaan para abege alay ini hehehee.... (siap-siap digetok Dedew a.k.a Dewi Rieka). Menerima honor menulis dari penerbit untuk pertama kalinya ini sungguh membuatku histeria meskipun uangnya langsung habis untuk mentraktir putri sulungku yang gemar sekali mengkoleksi novel anak-anak. Tak mengapa lah, rejeki dari menulis ya habisnya untuk membeli bacaan juga :)
Jadi, menulis bila ada audisi atau lomba saja ya? Hellooo.. ada masalah ya? Hihihiii... Bagi writer wannabe yang sering dilanda galau dan seribu satu alasan rempong ngurusin ini itu macam aku ini, lomba menulis memang efektif untuk membangkitkan gairah menulis. Yah, menyadari kalau aku ini masih 'bernapas pendek' dalam tulis menulis, tak terlalu tinggi lah target menulis yang kuterapkan. Yang penting menulis saja terus. Ada audisi, nggak lolos. Audisi berikutnya nggak lolos lagi. Cobaaa aja terus sembari rajin memperkaya diri dengan bacaan multi genre, atau paling tidak pilihlah buku dengan genre yang paling kita sukai. Insya Allah akan ada jalan.
Setiap kali ada teman komunitas yang woro-woro hasil karyanya nongol di media, hati ini kebat-kebit penuh rasa iri. Kenapa iri? Jelek atuh sifat iri itu... Untuk urusan tulis menulis begini terus terang bagiku memang harus ada rasa iri. Ibaratnya : dia saja bisa, masa aku enggak? Jadi di sini iri bukan untuk menandingi, namun iri yang memacu diri untuk makin mengasah kemampuan menulis. Menulis sebaik mungkin, mengalahkan ego pribadi yang lebih sering memberikan jutaan alasan permisif untuk bilang 'tidak sempat' menulis.
Ya, benar sekali, prestasi rekan juga bisa kita jadikan cambuk untuk segera 'bangun'. Tentunya tak mau dong saat teman kita sudah berjalan nun jauh di depan, kita hanya duduk selonjoran tidak mau bangkit. Apapun alasan kita menulis, mau itu untuk menang lomba, untuk mencari uang, mencari popularitas, ah itu semua akhirnya menjadi tak penting lagi saat rasa bahagia menyelimuti diri tatkala tulisan kita sudah bertebaran di mana-mana. Apalagi bila ada penulis senior yang tertarik melirik kita untuk menulis barengan dengan mereka. Uhuks.... Itu nanti akan menjadi kisahku berikutnya di postingan sendiri hehehee... Tunggu tanggal mainnya ya *sok ngartis :)
Nah, do you have guts to write? Tentu punya dong yaaaa... ayo semangat teman-teman. Menulislah dari hati. Sedikit tidak apa-apa daripada tidak sama sekali. Itulah yang kuterapkan pada diri sendiri di antara keriuhan mengurus rumah tangga dan bekerja di luar rumah dari Senin hingga Sabtu, plus jualan online produk crafting rajut dan barang apa saja yang bisa dijual. Tulisan itu nantinya akan jadi warisan yang sangat berharga untuk anak cucu kita loh. Beneeeerrr... Anakku saja bangganya luar biasa saat ibunya yang nulis angot-angotan ini mendapat kiriman bukti terbit. Dia saja bangga, apalagi penulisnya hehehee...
Masih ragu untuk menulis?? Tentunya enggak kan ;)
No comments:
Post a Comment