![]() |
| si munthu (pic by credit) |
Ada yang tau arti munthu? Yup, yang asli oran Jawa pasti tau lah. Munthu itu adalah soulmate-nya si cobek. Nama lainnya adalah ulekan, uleg-uleg atau alu. Tetapi lebih mudahnya kusebut munthu saja ya.
Tau juga kan kegunaan munthu dalam keseharian? Si munthu ini besar jasanya loh, apalagi bagi penggemar berat sambal asli, alias sambal racikan sendiri. Namun kini pamornya sudah menurun seiring tingginya permintaan sambal di warung-warung penyedia ayam goreng, lele goreng, ayam bakar, dan tempe / tahu penyet. Kita sudah tak perlu susah-susah lagi untuk menguleknya sendiri.
Sekedar untuk mengulek bumbu pun kini munthu dan cobek sudah banyak ditinggalkan. Bumbu yang berupa biji-bijian seperti ketumbar dan merica saja sekarang sudah banyak yang tersedia dalam bentuk bubuk. Bahkan satu set bumbu instan kini telah banyak dijumpa, sehingga nona-nona yang tak mau tangannya beraroma ketumbar plus bawang putih, ataupun ibu-ibu muda yang waktunya sudah dipadati dengan berbagai aktivitas, bisa menyiapkan tempe, tahu dan ayam goreng yang sudah dibalur bumbu instan tadi dengan cepat. Juga untuk bumbu masakan lain yang lebih rumit seperti rawon, gulai, lodeh dan tumis. Sekarang sudah serba instan. Tidak mau buang-buang waktu. Kasihan juga ya nasib si munthu tadi? Siapa lagi yang masih setia menggunakan jasanya? Padahal di daerah seputar Magelang dan pasar-pasar tradisional sini, cobek dan munthu pasangannya masih banyak dijual. Kemungkinan besar pengguna setianya ya para pedagang lauk. Mereka tetap loyal pada si munthu. Benarkah begitu? Hanya sampai di situ saja peran si munthu?
Tidak juga. Masih ada loh satu fungsi munthu yang tetap dipertahankan dari generasi ke generasi. Setiap rumah masih membutuhkan keberadaan munthu. Sesuai dengan mitos lama Jawa ini : athungi munthu wae ben gek ndang bali. Nah loh, apa pula itu artinya?
Sebelumnya mari kita lihat dulu kejadian sehari-hari yang kemungkinan kerap kita alami. Saat ingin istirahat bersantai setelah suntuk seharian bekerja atau kuliah atau sekolah, tiba-tiba ada saudara atau kenalan yang datang bertandang ke rumah. Tidak hanya setengah jam ataupun satu jam jatah bertamu. Kadang-kadang hingga berjam-jam si tamu tetap keasyikan nongkrong meskipun kita sudah ingin segera merebahkan badan lelah kita di pembaringan.
Di sinilah jasa munthu sangat berperan tinggi. Mitos Jawa di atas tadi memiliki arti : acungkan saja ulegan agar segera pulang. Wah, bagaimana pula itu penjelasannya. Menurut simbah, bila ada tamu yang tidak kunjung pulang alias lama banget waktu bertandangnya, kita di dapur bisa mempraktekkan trik sesuai mitos warisan para leluhur (ini sesuai kata simbah lho ya, tidak ada daftar pustakanya). Ambillah munthu dan lakukan gerakan mengacung-acungkan munthu itu ke arah lokasi tempat duduk si tamu.
Simbah sangat percaya pada mitos ini. Beliau sering mempraktekkannya. Diulang-ulang hingga berkali-kali. Kadang-kadang kulihat simbah melakukannya sembari komat-kamit, entah japa mantra apa yang diluncurkan beliau untuk memberikan aura gelap pada si tamu tadi. Terus apakah tamunya memang jadi cepetan pulang?
Ya tentu saja tidak lah. Si tamu tetap enak-enakan duduk, bercerita, menghabiskan camilan dan bergelas-gelas teh tanpa menyadari bahwa si tuan rumah sudah tidak berminat lagi melanjutkan obrolan. Menurut opiniku secara mendalam dan empiris, mitos ini akan sangat berhasil manakala kita bawa munthu ini langsung ke hadapan si tamu dan mengacungkannya tepat di depan wajahnya. Bila tamu itu tak kunjung pulang juga, berarti dia memang tidak punya perasaan. Sama mati rasanya dengan si tuan rumah yang mengacungkan munthu tadi
![]() |
| kalem saja, jangan sampai munthu-nya tugel/patah (sumber dari sini) |


No comments:
Post a Comment