Lazimnya aktivitas menjelang Lebaran, kaum ibu sudah bisa dipastikan akan sibuk sekali mempersiapkan berbagai keperluan pendukungnya. Lebaran merupakan ajang berkumpul kerabat, setahun sekali atau kadang-kadang bila saudara saling berjauhan di luar pulau bisa saja menjadi dua atau tiga tahun sekali.
Saat merayakan Lebaran ini sepertinya kurang layak jika disongsong dengan kondisi rumah yang kosong melompong tanpa penganan istimewa kan? Sanak saudara dari berbagai daerah biasanya akan datang beserta putra-putri kecilnya. Nah, untuk bocah-bocah lincah itu tentunya akan hadir aneka kue kering, permen, coklat dan camilan ringan.
Kehadiran berbagai penganan yang tidak selalu ada di hari-hari normal ini membutuhkan persiapan dana tersendiri. Begitu juga dengan alokasi waktu untuk melakukan aktivitas belanja persiapan Lebaran. Harus menyisihkan waktu tersendiri agar bisa mendapatkan berbagai barang yang sudah menjadi incaran. Lebaran kali ini aku tak punya cukup waktu untuk berbelanja berbagai barang keperluan hari raya jauh-jauh hari sebelumnya. Padatnya jadwal kantor lah salah satu sebabnya.
Biasanya aku melakukan belanja keperluan Lebaran secara beramai-ramai bersama keluarga. Berhubung baru bisa ‘lolos’ dari jeratan pekerjaan di hari yang sudah mepet sekali dengan hari H Lebaran, terpaksa saat itu aku harus berbelanja sendirian di mini market terdekat, bukan lagi di supermarket murah andalan keluarga kami. Di saat yang sudah dekat sekali dengan Lebaran seperti itu, sudah bisa dipastikan kondisi supermarket akan berubah menjadi lautan manusia. Pembeli dan barang yang akan dibeli seakan sudah tak seimbang lagi. Padahal aku paling tidak suka berbelanja sembari berdesak-desakan seperti itu.
Belanja bukan hanya aktivitas untuk mendapatkan barang, tapi untukku lebih seperti ‘self-healing’ setelah berhari-hari pening berjibaku dengan pekerjaan kantor. Setiap kali berbelanja, entah itu saat Lebaran ataupun di hari-hari biasa, aku akan melihat baris demi baris dagangan yang ada. Memperhatikan dengan seksama berbagai produk yang bertipikal sama, ingridient-nya apa (untuk makanan dan minuman), perbedaan harga antara satu barang dengan yang lain seberapa, apa saja produk terbaru yang dikeluarkan oleh produsen favorit dan berbagai hal kecil lainnya yang mungkin kurang penting bagi orang lain tetapi menyenangkan untukku. Demi mendapatkan kenyamanan berbelanja itulah aku lebih memilih membeli kue-kue dan minuman untuk Lebaran nanti di mini market saja. Meskipun produk yang ditawarkan tidak selengkap supermarket dan harganya sedikit lebih tinggi, bagiku itu sudah memadai. Yang penting nantinya bisa menyajikan suguhan Lebaran untuk sanak saudara yang akan datang berkunjung.
Selesai berbelanja kulihat seorang ibu sedang duduk lemas di samping sepeda tua yang diletakkan secara sembarangan di halaman mini market itu. Semula kupikir ibu itu hanya kelelahan saja, mungkin saja dia telah bersepeda cukup jauh dan berhenti untuk beristirahat sejenak. Ternyata jauh sekali dari bayanganku semula. “Bu, mohon belas kasihan, mohon saya dibantu sekadarnya. Saya tidak punya uang sama sekali untuk membeli jajanan Lebaran untuk anak saya di rumah,” kata ibu yang sepertinya masih seusiaku itu.
Aku terhenyak mendengar perkataannya itu. Apa? Di saat aku sedang bersuka cita membelanjakan uang THR ternyata masih ada orang lain yang tidak memiliki uang sama sekali. Kupandang ibu itu dengan berbagai perasaan aneh sebelum kuulurkan beberapa lembar uang kepadanya. Ibu itu tampak senang luar biasa mendapatkan uang yang tak seberapa dariku itu. Berkali-kali dia mengucapkan terima kasih sebelum meraih sepeda tuanya dan mengayuh penuh suka cita tanpa menoleh lagi.
Rupanya kejadian yang cukup menyesakkan dada itu tak berhenti sampai di situ saja. Setelah beberapa saat berlalu, saat aku sudah melupakan pertemuanku dengannya, ibu muda berwajah sedih itu kembali muncul. Bukan lagi di mini market tempat kami berjumpa pertama kali. Namun kini di rumahku sendiri. Ibu itu datang pada hari kedua Lebaran. Kembali si ibu meminta belas kasihan, kali ini bukan berupa uang. Dia tidak mau saat akan diberi uang. Dia hanya ingin satu kaleng kue yang akan ditunjukkan pada anaknya sebagai bukti telah membelikan jajanan Lebaran.
Sungguh Lebaran yang amat berbeda bagiku saat itu. Kuulurkan kaleng kue yang telah berkurang isinya itu kepadanya. Meskipun isinya masih banyak, tetap saja kue itu tidak berada dalam kondisi kemasan baru. Baru kusadari kini, betapa istimewanya kaleng kue ‘setengah baru’ itu bagi ibu muda berwajah sedih tadi. Istimewa pula tentunya untuk anaknya yang menginginkan kue Lebaran terenak saat itu. Ya Allah Ya Tuhanku, semoga selalu Kau berkati ibu beserta anaknya yang begitu mendambakan setitik kebahagiaan di hari Lebaran itu.
Tulisan ini diikutkan dalam TjeritaHari Raya yang diselenggarakan oleh @leutikaprio
No comments:
Post a Comment