![]() |
| gambar dari sini |
Tersedu-sedu. Aku menangis tak kunjung henti di ujung dapur rumahku. Meratapi nasib malang yang mendera perjalanan hidup. Kupandang kosong aneka peralatan masak yang terjajar di depanku dari balik rinai air mataku yang terus menerus mengalir. Tak hanya pedih rasanya mata ini akibat derai kesedihan yang tak berkesudahan, namun hatiku pun serasa terkoyak-koyak duri dan tergodam martil raksasa.
Aku menangis sesenggukan sembari mengelus-elus perutku yang sudah mulai membuncit di kehamilanku yang sudah masuk bulan keempat. Kesedihan yang kualami ini juga salah satunya saat mengingat jabang bayi yang sedang berlindung di rahimku. Dia sepenuhnya mengandalkanku. Tetapi apa lah aku ini. Aku hanyalah seorang ibu yang lemah, yang kini terduduk lemas dan tersedu tiada tara.
Shock. Hari ini aku menerima keputusan dari atasanku bahwa besok aku sudah tidak perlu bekerja lagi. Setahun masa pengabdianku di kantor dirasa telah cukup. No more future for me there. Apaaaa? Apa salahku? Aku tidak mencuri, aku tidak merusak aset, aku berdedikasi dalam bekerja. Kenapa hal ini harus terjadi padaku?
Berbagai poin penilaian telah dipaparkan padaku, aneka kecaman kutuai. Tak ada guna aku menyanggahnya, walaupun saat itu aku dipersilakan untuk menyampaikan sesuatu sebelum aku pamitan dengan seluruh jajaran staff pabrik garmen yang sangat besar ini. Baiklah. Aku akan pergi. Tak mau aku lara berlama-lama seperti ini.
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Namun tak urung perasaan pedih itu kian menerpaku. Fisikku yang sedang sering ‘rewel’ di usia hamil muda ini, apalagi ini anak pertama, membuat psikisku menukik tajam. Aku hanya ingin buru-buru pulang, menenggelamkan ratusan galon air mataku ke bantal kesayanganku. Tetesan air mata tak kuasa kutahan saat kusalami satu persatu rekan sekerjaku di sana. Mungkin mereka memang sudah tau tipikal seperti apa ‘juragan wedok’ku. Tapi untuk apa lagi diperbincangkan, toh aku tetap harus pergi.
Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin itu perumpamaan yang paling tepat untuk nasibku saat itu. Aku sedang terserang sariawan parah. Seumur-umur belum pernah sekalipun aku terkena sariawan. Ini mungkin salah satu reaksi dari kehamilanku. Seluruh rongga mulut dan permukaan lidahku terhajar sempurna oleh sariawan. Jadi, kesedihan dan tangisanku salah satunya ya karena sariawan ini. Untuk menelan air minum saja sudah sakit luar biasa, bagaimana aku bisa makan? Tetapi bila tidak makan, bagaimana nasib anak dalam kandunganku? Tangisanku kian meradang kala kupikirkan hal itu.
Di dalam kamar, suamiku sedang tergolek tak berdaya, terserang demam berdarah dan typus. Bahkan untuk pergi periksa ke rumah sakit terdekat tadi dia terpaksa terhuyung-huyung mengendarai sepeda motor. Aku tak bisa membantunya. Aku sendiri sedang lemas lahir dan batin. Sempurna sudah semua ini.
Akhirnya bantuan dari keluarga lah yang menyelamatkan kami. Suamiku terpaksa pulang ke rumah orang tuanya, dirawat sementara oleh ibu mertuaku. Sedangkan aku pulang kembali ke pelukan ibundaku tercinta, mendapat aneka treatment khusus dalam pengobatan sariawan dan perbaikan gizi bagi janinku. Bagaikan dua pasien VIP kami berdua dirawat secara terpisah. Oh, sungguh tak berdayanya aku sebagai istri dan ibu kala itu. Kalau diingat-ingat, sungguh memalukan cerita ini.
Tak ada yang abadi di dunia ini. Begitu juga dengan penderitaan
Namun aku tak bisa berlama-lama seperti ini. I’ve got to move on. Tak ada yang abadi di dunia ini. Begitu juga dengan penderitaan. Penderitaan hanya akan kekal dalam jiwa kita bila kita membiarkannya tumbuh subur, terpupuk oleh bayangan semu kita sendiri. Derita itu harus segera kudepak. Aku punya tanggung jawab yang menjadi amanah seumur hidupku. Anakku.
Jujur saja, aku sangat ingin kembali bekerja. Tetapi seperti kata suamiku, siapa sih yang mau menerima karyawan baru dengan kondisi hamil. Benar juga. Harus realistis ya? Meskipun saat kulewati hari demi hari bertengger di rumah, aku tak bisa melepaskan anganku untuk kembali berkarya. Impian indah itu kupupuk perlahan-lahan sembari menanti kehadiran buah cintaku.
Ya, putriku lahir sempurna dengan berat 3.2 kilogram. Parasnya yang lucu sedikit tampan memang aneh. Anak perempuan tetapi wajahnya mirip sekali dengan ayahnya. Ini bukti bahwa cinta suamiku begitu kuat menemaniku, menurun secara simetris kepada putriku. Hampir terlupakan niatanku untuk bekerja lagi karena aku tengah berbahagia atas kehadiran anak pertamaku ini.
SMS dari seorang kawan lama rupanya jawaban dari doa-doaku, yang terpanjat berbulan-bulan yang lalu. Dia menawariku untuk menggantikan posisi pekerjaannya sebagai customer service & documents officer di salah satu perusahaan freight forwarder. Oh, perfect. Dan aku pun mulai menapaki hari-hari baruku di perusahaan itu, yang berkantor di sebuah gedung perkantoran ternama yang ada di pusat kota. Aku berhasil.
I didn’t deserve to suffer
Ya, aku berhasil lepas dari belenggu derita yang dulu begitu mengungkung pemikiranku. I didn’t deserve to suffer. Harusnya aku kuat dari awal. Harusnya aku percaya, semua ujian pasti ada jawabannya.
![]() |
| ini sumber gambarnya |
Kini aku kembali menengok ke belakang, ke masa-masa yang lalu. Saat aku begitu membanggakan pekerjaanku yang ‘mentereng’. Duduk di kantor yang bersih, rapi dan elite. Bekerja layaknya eksekutif muda. Mengenakan aneka setelan baju kerja yang necis dan gaya. Belum lagi gaji sebulannya yang cukup membiayai dua hingga tiga bulan kebutuhan rumah tanggaku.
Itu dulu. Saat aku masih menjadi staf admin si sekretaris ‘tangan besi’ itu. Sepantasnya aku tidak berpikiran buruk kepadanya. Aku bisa mendapatkan masa depan yang lebih baik gara-gara lepas dari rutinitas pekerjaanku di sana. Dulu setengah mati aku harus mengatur waktu kerja yang seakan-akan tak pernah cukup untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan yang bak hujan deras dari langit. Tak hanya sibuk urusan surat menyurat perusahaan dan mengatur aneka rapat direksi, perjalanan bisnis pimpinan dan berbagai accomodation arrangement untuk tamu-tamu dan grader-grader buyer yang datang mengunjungi pabrik.
Semuanya ibarat “appetizer”, “main course”, bahkan “dessert” pekerjaanku. Belum lagi semua itu dikerjakan sembari menjadi operator telpon. Tidak hanya 1 pesawat, namun langsung 2 pesawat. Saat sedang handle salah satu pesawat telpon, yang lain berbunyi. Bila berdering lebih dari 3 kali tidak diangkat, semprotan lah yang kudapat. Saat aku ‘ring off’kan pesawat itu agar tidak ketahuan, ternyata entah bagaimana atasanku tau. Amukan lagi jatahku. Phewww…
![]() |
| lihat gambar di sini |
Coba bila sampai saat ini aku masih di sana, apakah kini aku bisa punya banyak waktu untuk berkenalan dengan orang-orang dari perusahaan yang lain? Di perusahaan freight forwarding ini, aku bertemu dengan banyak pihak dari berbagai jenis. Waktu luang pun cukup banyak karena aku juga terkadang diajak temanku yang pegang job marketing untuk keliling-keliling kota mencari customer. Lebih segar rasanya.
Pun kini kala aku bisa move ke perusahaan manufaktur kayu, aku mendapatkan kesempatan untuk pergi perjalanan dinas ke Jerman, menemani boss baruku. Semua ini tak akan kudapatkan bila tetap terbenam pekerjaan di tempat lama.
![]() |
| bercanda dengan anak bule di kaffe depan Dome Cathedral, Koln |
Allah selalu memiliki rencana-rencana dahsyat di balik semua derita tak seberapa yang kita jalani
Sudah selayaknya lah aku tak perlu terbelenggu hal-hal buruk yang sedang menimpa. Allah selalu memiliki rencana-rencana dahsyat di balik semua derita tak seberapa yang kita jalani. So, nothing to worry again my dearest friend. Singkirkan semua hal buruk yang menghantui pikiranmu. LET’S MOVE ON





quotenya baguss..
ReplyDeletematur nuwun bang Fikri... ajarin bikin bagus blog donk hehehee...
ReplyDeletesesudah kesedihan, kebahagiaan tak lama akan muncul
ReplyDeletesuka review nya :)
ReplyDeletemakasih mba Rahmah
ReplyDeleteAaaa... sampe menitikkan air mata bacanya. Suka banget sama quote terakhir. Kayaknya juga jleb buat kondisiku sekarang :-)
ReplyDeleteaih aiiihhh... peluk Wuri aahhh *eh, kepentok tulang :)
ReplyDeletetulisan yg bagus, dik...semoga sukses di kontesnya ya... oya, salam kenal ya... aku kenale Ibu, mbak Ayuk & mbak Atik, hehe...nitip salam buat beliau2 ya... :)
ReplyDeleteAku suka dengan cerita move on-nya.... Inspired banget...
ReplyDeleteMba Mechta : wah, surprised ada yg kenal dengan keluargaku. sinten asmo panjenengan mba? pasti saya sampaikan salam panjenengan ke ibu dan embak2. aku masih serumah lho dengan ibu dan mba Atik :) terima kasih ya sudah mampir di tulisan saya ini, sekalian dapet kenalan baru hehehe...
ReplyDeleteAde Anita : terima kasih sudah mampir dan komennya. Alhamdulillah jika terinspirasi, jadi aku dapet pahala kan udah menyemangati yg baca ;) Ikut blog contest ini juga kah? bagi linknya yuk
ReplyDeleteMba Mechta lagi : bagi juga donk linknya bila ikutan kontes ini, biar saling komen gitu xixixiii...suwun
mba Elly : iya mba, semacam habis gelap terbitlah terang ya *mumpung sesuai moment Hari Kartini :)
ReplyDeleteakhir yang indah :)
ReplyDeletekita memang tidak tahu, bahwa Allah sedang menguji dan akan memberikan sesuatu yang lebih indah, dari rasa sakit yang kita punya :))
Sukaaa...selalu ada hikmah di setiap kejadian ya Mbak
ReplyDeleteDuh gak kebayang waktu hamil mengalami hal itu
Vanisa : akuuurrr
ReplyDeleteMba Esti : ojo sampek ngalami mba....:D Iya, hikmah datang tergantung cara kita menyikapinya