Tulisan ini sudah pernah tayang di sini, kali ini re-post dengan banyak revisi. Disesuaikan dengan tema GA bunda Hana, juga karena versi aslinya 'luar biasa acak adul' bahasanya ;)
Aku memanggil ibundaku dengan sebutan IB. Padat dan bergizi. Ib termasuk kategori wanita yang luar biasa. Dari muda sudah terbiasa susah, sehingga tempaan hidup telah membuat beliau menjadi orang yang tegar. Tegar yang bukan penuh ketegangan lho. Justru Ib memiliki sense of humor yang sangat tinggi. Hingga kadang-kadang saat bercanda denganku, kami tertawa terbahak-bahak bersama dan saling melontarkan ejekan bak sahabat karib saja.
Saat ini Ib menikmati masa tua dengan berbagai kegiatan di komunitas lansia dan pengajiannya. Happy happy always lah. Trus apa yang luar biasa dari kegiatannya itu?
Meskipun sudah berusia 70 tahun dan memiliki empat orang cucu, Ib kemana-mana selalu mengendarai sepeda motor. Masih adakah wanita berusia sebaya Ib yang berani naik motor? Banyak orang berkomentar aku dan kakak-kakakku itu tega sekali, tak mau mengantar ibunda tercinta. Padahal setiap kali mau diantar Ib malah tersinggung dan berkata "Lha po aku ki wes jompo ndadak diterke rono rene?" (Apakah aku ini sudah jompo sehingga harus diantar kesana kemari?) Yah, kami jadi tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Nah, dari beberapa kali perjalanan beliau mengendarai sepeda motor tadi, sempet juga Ib kena tilang. Hampir semua cerita tilangnya sungguh menakjubkan.Yang pertama, Ib berkendara di belakang beberapa anak muda pengendara motor, yang meskipun lampu lalu lintas sudah berwarna kuning tetap nekad melaju. Namun lampu keburu merah dan Ib berhenti melewati marka, sama juga dengan anak-anak muda tadi. Kena tilang deh.
Pak polisi menilang rombongan anak muda itu dulu.. Saat tiba giliran Ib, si petugas mengecek SIM dan STNK dengan pandangan ragu. Diserahkanlah surat-surat itu ke orang lain –kemungkinan atasannya- sambil berbisik-bisik dan menunjuk Ib yang sedang H2C (harap-harap cemas). Dipanggillah Ib, diberi beberapa pertanyaan, kenapa melanggar traffic light. Mencoba untuk bergaya santai Ib menjawab, “Lha mboten ngertos (tidak tau) pak , tadi saya cuma ngikut anak-anak muda itu, kirain ya masih hijau lampunya. Eh, ternyata udah merah to.” Pede sekali ya bundaku. Kemudian terjadilah dialog berikut :
![]() |
| asal gambar dari sini |
Ib : Waduh, lha saya sudah tua pak, di rumah sendirian, sapa yang mau nganterin nanti? *bisa aja nih alesannya)
Polisi : Wah, lha dospundi (bagaimana)? *muka galau
Pak polisi atasan itu pun memanggil anak buahnya tadi dan berbisik-bisik. Ib pun sudah persiapan, pegang dompet dan siap-siap bayar uang damai.
Polisi : Mpun Mbah, itu dompetnya dimasukkan saja, sudah tidak usah dibuka-buka. Sana mbahe bilang terima kasih sama bawahan saya itu. Silakan mbah melanjutkan perjalanan. Lain kali jangan diulangi ya Mbah.
Yayyy.... Ib lolos, tidak jadi kena tilang :)
Yayyy.... Ib lolos, tidak jadi kena tilang :)
Cerita tilang kedua terjadi saat Ib akan pergi latihan paduan suara di kelompok lansia yang diikutinya. Ib melewati jalur yang pas ada operasi lalin. Semua motor yang lewat dipinggirkan. Setiap pengendara diminta menunjukkan surat-suratnya. Ib dengan pede membuka dompet, namun beberapa detik kemudian langsung menyadari bahwa SIMnya ketinggalan.
Polisi : Mana bu surat-suratnya?
Ib : Ada nih pak, tapi SIMnya ketinggalan. Sebentar ya pak saya balik dulu, mau ambil.
Polisi : Lho bu, nggak bisa. Berarti ibu tidak bawa surat-surat lengkap kan?
Ib : Lengkap kok pak, surat saya lengkap. Saya yakin banget SIM saya ketinggalan di meja. Saya ambil dulu lah. Tenang saja pak, nanti saya lewat sini lagi kok. Nanti saya tunjukkan ke bapak.
Tanpa menunggu reaksi lebih lanjut dari pak polisi itu, Ib segera kembali melaju dan putar haluan. Pak polisi pun bingung, mau diapain nih nyai. Mau ngotot kok ya terlalu banget, ngelawan nenek-nenek. Dilema ya pak?
![]() |
| gambar dari sini |
Cuma itu ceritanya? Wew, ini ada lagi. Percakapan antara Ib dengan polisi yang menilang kali ini sungguh bikin deg-degan.
Polisi : Ibu tau kan kalau tadi dilarang lewat jalur sini? Jam segini kan masih ditutup?
Ib : Wah, maaf pak saya tadi tidak lihat tanda forbidden-nya.
Polisi : (tampang bengis sambil ngeliat segala surat-surat punya ibuku) Ini pekerjaan ibu pensiunan, pensiunan apa Bu?
Ib : Guru, Pak.
Polisi : Ibu ini ya, pensiunan guru kok tidak ngerti aturan. Ada tanda dilarang lewat kok tetep nekad.
Ib : Saya nggak tau pak, bener. Coba kalau tadi saya lihat, pasti tidak bakal ngelanggar. Bener deh pak.
Polisi : (muka stress) Ya sudah sana bu, jalan lagi. Awas ya kalau lain kali ketemu
Ib : (berbicara dalam hati : Tidak bakal lewat sini lagi)
Oh ibuku tercinta, granny-nya Vivi dan Faris (kedua buah hatiku), aku saja belum tentu berani beradu mulut dengan pak polisi seperti itu. Kenapa mental bajamu itu tidak kuwarisi?
![]() | ||
| bersama Granny Tilang tercinta... luv you mom |
True story ini diikutsertakan pada Kinzihana's GA. Semua isi percakapan dan rentetan kejadian based on penuturan pelaku peristiwa ;)



No comments:
Post a Comment