Pages

  • Home
  • About
  • Contact

Tuesday, September 10, 2013

Hari Ini Aku Merinding Lagi - Part 1

    Hari ini aku merinding lagi, ingat masa-masa dahulu saat telapak tangan berkeringat berbalut chalk tebal, mencoba mencari ceruk tebing untuk mendaratkan jari yang sudah mulai 'ndredeg' alias bergetar hebat saking capeknya. Merinding bener deh saat menatap foto yang gahar ini :
into Pitch I - Tebing Kelud, 8 September 2013

    Wuih, keren banget tuh adek-adek dari Wapeala (Mahasiswa Pencinta Alam) Universitas Diponegoro. Mereka sedang mengadakan Pendidikan Lanjutan (Dikjut) Rock Climbing (RC) di Tebing Kelud, Jawa Timur. Tim terdiri dari 3 orang, salah satunya cewek booo...
Yesss.. @Top piramid Tebing Sumbing - Gunung Kelud
 
     Beberapa malam sebelumnya, adek-adek dari 'fakultas pencinta alam' yang kuikuti dulu semasa kuliah mampir sebentar ke rumah. Kesempatan untuk ngobrol nih, biar tau perkembangan organisasi tercinta yang dulu sempat mendarah daging dan membuatku kerasan di bangku kuliah alias tak segera lulus ;)  Hanya bisa memberikan pandangan berbagai hal seputar manajemen organisasi yang sekiranya bisa membantu mereka menemukan jawaban atas permasalahan keanggotaan yang sedang dihadapi.

    Apapun yang sedang dialami oleh adek-adek saat ini, aku tetap bangga luar biasa pada mereka. Di antara himpitan jatah masa kuliah yang sudah tak sepanjang dulu lagi, mereka tetap aktif berkegiatan di alam bebas, yang notabene selalu menyedot waktu, tenaga dan biaya. Makanya aku tak mau sering ikutan nge-judge berbagai kelemahan mereka yang sering diangkat ke permukaan oleh senior-seniornya, meskipun sebenarnya itu bentuk perhatian dan kecintaan mas & mbak terhadap adek-adeknya. Agar gelora petualang mereka terus menyala. Toh kondisi yang dialami saat ini jelas berbeda dari dulu, duluuuuu sekali saat euphoria menjadi pencinta alam masih luar biasa. 

    Menjadi anggota pencinta alam yang berbentuk organisasi memang tak semudah kelompok pencinta alam yang tak punya AD / ART, yang cukup berkumpul di suatu tempat sebelum menyandang carrier untuk melaju ke lokasi pendakian / pemanjatan / pengarungan / penyelaman. Mereka yang setelah berkegiatan bisa pulang ke rumah dan tak perlu memikirkan lagi minggu depan atau bulan depan harus ada kegiatan apalagi. Belum lagi saat harus bertanggung jawab secara finansial kepada pihak universitas yang telah memberikan suntikan dana untuk program-program besar. Butuh ekstra pemikiran dan kesediaan meluangkan waktu untuk menggagas program-program rutin yang wajib ada dalam hidup sebuah organisasi. Jadi tak hanya sekedar naik gunung sini, panjat tebing sana, arung jeram di sungai situ, diving di kepulauan ini, dan sebagainya. 

    Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Kira-kira begitulah peribahasa yang bisa diambil untuk menggambarkan repotnya menjalankan organisasi pencinta alam. Menghidupkan nyawa organisasi sekaligus membentuk anggota yang tangguh. Tangguh secara fisik maupun mental. Secara fisik jelas sudah, masak berpetualang tanpa latihan fisik, emang di sana nanti mau digendong melulu? :D  Lalu kenapa harus tangguh secara mental juga? Harus tegar saat berpetualang ya, enggak cengeng, enggak panggil-panggil mami papi?  Itu sih harus. Bukan, bukan itu maksudku. Jauh lebih dalam lagi, ketangguhan mental yang mampu membuat seseorang tetap berada di baris terdepan organisasi, bahkan saat organisasi itu sedang terancam bahaya. 

    Bahaya itu bukan dalam bentuk serangan fisik dari pihak luar, itu sih sudah kuno, sudah tak layak adu fisik. Mahasiswa kok 'gelutan', ora mutu :D  Bahaya laten seperti malas, tak mau repot, mudah menyerah sebelum berusaha, naaahh... itu dia maksudku. Pencinta alam dalam wadah organisasi butuh regenerasi, harus terus hidup dari tahun ke tahun sebagai wujud eksistensi. Menggagas masalah regenerasi memang tak akan pernah ada habisnya. Ada yang ngotot tentang kualitas calon anggota yang akan diterima, ada juga yang bilang kuantitas anggota itu perlu. Semua itu kembali lagi kepada kebutuhan organisasi, mau dibawa kemana para petualang dan pencinta lingkungan ini bergerak di masa depan. Ini juga tantangan lho,  justru lebih sulit dibandingkan teknik travers 5 pitch ataupun ber-hanging bivoak ;)

    Sungguh, meskipun sudah tidak aktif berkomunikasi dengan adek-adek ini, setiap kali mereka 'tembus' ke berbagai destinasi petualangan, selalu aku merinding lagi. Ingat tentang kekompakan, persaudaraan, dan pengorbanan yang harus dilakukan untuk mencapainya. Petualang itu butuh tantangan Dek, kalau belum nemu tantangan, sana gih buruan dicari. Semangat terus ya dekadek...

 sumber gambar : dokumentasi kegiatan di grup Facebook Wapela Sedulur Saklawase

---> merinding part berikutnya : si mungil berjilbab di Uhuru Peak, Mount Kilimanjaro - Tanzania, Africa

No comments:

Post a Comment